Pada suatu masa, di suatu daerah di Sumatera (jika anda tidak tahu Sumatera… Eee… Tahu hollywood kan? Jauh lah pokoknya dari sana), tinggallah seorang Ibu dan anaknya yang bernama Malin Kundang. Jika anda bertanya kok cuma anaknya yang diberitahu namanya, ibunya tidak, sepertinya memang begitu di kebanyakan cerita rakyat di Indonesia, misalnya bawang merah bawang putih, kancil pencuri timun, si komo, dan lain-lain. Mereka adalah keluarga miskin, pengasilan dari menangkap ikan di laut tidak cukup untuk menghidupi mereka. Tidak banyak ikan yang bisa mereka tangkap, malah mereka dapat benda-benda nggak penting seperti mutiara atau bekas-bekas harta dari titanic, sudah bekas, lama lagi.
“Ibu… Kita nggak bisa begini terus. Bagaimana kalau aku pergi merantau?”
“Hus, merantau bukannya malah menghamburkan uang?”
“… Bukan begitu… Maksudku aku akan mencari kerja di luar sana. Kalau aku sukses, kita akan hidup enak.”
“Emang kamu pikir mencari kerja itu mudah? Sekarang dengan ijasah SMA saja tidak menjamin dapat kerja enak.”
“Tapi aku lulusan SD, bukan SMA. Aku lulus hanya dalam waktu 6 tahun, lihat anak-anak tetangga kita, lulus sekolah saja sampai 16-an tahun, habis uang banyak lagi, dapatnya cuma ijasah S1, kalau dalam bilangan heksabidesimal S1 kan cuma… 729, sedangkan SD… 741.”
“Argh! Jangan ngomong yang bikin mommy bingung! Kukutuak kau jadi batu!!”
“Aaaah! Ampun ibuuu!”
… 1 menit berlalu, tidak terjadi apa-apa…
“Baiklah kali ini kau kuampuni. Sekarang cepat pergi!!”
“Pergi? Pergi kemana ibu?”
“Katamu mau merantau?! Cepat sana!”
“Eh… Baiklah kalau begitu…”
Dan Malin Kundang pun memulai pelayarannya.
Malin Kundang pergi merantau dengan seorang pangeran, ia menjadi awak kapal disana. Awak itu bahasa daerah Sumatera sana, kalau bahasa indonesianya aku. Jadi ia menjadi aku kapal.
Pada suatu malam, terjadi badai yang sangat besar, lebih parahnya lagi kapal Malin diserang bajak laut. Pangeran sampai dibuang ke laut. Putri duyung yang sedang berenang di dekat situ menolong pangeran dan membawanya ke tepi pantai. Ia jatuh cinta kepada pangeran itu dan berniat menukarkan siripnya dengan kaki agar bisa tinggal di daratan bersama pangeran. Ia kemudian meminta bantuan penyihir bawah laut.
“Permisi, aku ingin menukar siripku dengan kaki.”
“Tapi ini nggak gratis, kamu harus menukarnya dengan suaramu… Tunggu dulu… Sepertinya hal ini pernah terjadi sebelumnya… Hei! Ini bukan cerita Little Mermaid!!”
Ternyata terjadi kesalahan teknis, mari kita kembali ke kisah Malin Kundang. Ah, ternyata Malin dan beberapa aku kapal lain disekap bajak laut.
“Bajak laut kurang ajar! Apa yang kalian inginkan!?”
“Hus! Kamu tidak sopan! Kami adalah kru salah satu shichibukai!” (SFX: DOOOONG!)
“Shichi… Bukai? Apa itu ya?”
“Shichibukai, 7 dewa bajak laut, misalnya Mihawk, Crocodile, Doflamingo…”
“Itu… Bajak laut atau aneka satwa?”
“Hus! Nggak pernah baca One Piece ya?”
“One Piece? Ah, ya! Jangan-jangan kamu pemakan buah setan ya?”
“Hohoho… Aku bukan pemakan buah setan, tapi aku peminum minuman setan!”
“Minuman setan?!” (SFX: DOOOONG!)
“Ya… Minuman itu adalah… Ini!”
Bajak laut itu mengeluarkan minuman dari sakunya.
“Bir ber-Alcohol 120%”
“… Eee… Kayak nama software.”
“Berani meremehkanku ya?! Baiklah, lihat kekuatan minuman ini…”
Para bajak laut meminum bir semua dan beberapa saat kemudian mereka semua teler.
“…”
Begitulah apa yang terjadi, Malin Kundang berhasil menyelamatkan kapal dari bajak laut.
Kapal itu tiba di sebuah pantai, sementara itu sang pangeran…
“Hentikan pernikahan ini! Pangeran, akulah sebenarnya yang harus menikahimu!”
Pangeran melihat ke kanannya dan ia melihat sesosok gadis yang berlari menuju arahnya.
“Kamukah penyelamatku yang sebenarnya?”
…
Sudah, pangeran nggak penting.
Di daerah ia terdampar, Malin Kundang bekerja keras. Karena disana tanahnya subur, sayur-sayuran dan buah-buahan tumbuh subur, sehingga Malin Kundang hanya tinggal memetiknya.
…
Ya, memetiknya. Ia nggak mencuri kok, ia hanya bersikap kekeluargaan dengan orang lain, jadi apa yang disediakan ia tidak perlu sungkan mengambilnya.
Malin Kundang juga membuka usaha ekspor impor buah-buahan dan sayur-sayuran. Tetapi karena buah dan sayur cepat busuk, ia harus mencari akal, ia membuka usaha ekspor impor buah dan sayur busuk. Tidak disangka, usahanya lancar-lancar saja, mungkin karena ia memberi label bertuliskan ‘100% fresh’ ya? Ia tidak menduga label bisa membantu usahanya seperti ini, ia bahkan tidak tahu arti tulisan di label itu.
Kini Malin Kundang menjadi kaya raya. Ia juga telah mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Ia sungguh beruntung istrinya tidak menikahi Malin Kundang hanya karena uangnya, ia menikahi Malin juga karena rumahnya, mobilnya, perusahaannya, dan hal-hal lain, mungkin cinta juga lah.
Pada suatu hari ia dan istrinya pergi berlayar disertai anak buah dan pengawal-pengawalnya. Ia tiba di sebuah daerah yang sangat familiar dengannya.
“Aku seperti mengenal daerah ini…”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan seorang wanita. Wanita itu berlari menghampiri Malin Kundang.
“Malin anakku! Kamu akhirnya pulang! Mengapa kamu tidak memberi kabar?!”
“Aku… Anakmu? Tidak! Kamu bukan ibuku! Ibuku tidak cantik seperti kamu! Ia juga lebih tua!”
Malin tidak mengakui wanita di depannya itu adalah ibunya.
“Malin… Beraninya kamu… Kamu kukutuk jadi batu!! Mero Mero Merrow!!”
Berbeda dengan sebelumnya, kini Malin benar-benar menjadi batu.
Meskipun ia menjadi batu, ia bisa mengingat. Ternyata tempat ini adalah Nyouga Island: Amazon Lily yang pernah ia lihat di One Piece dan wanita tadi pasti Boa Hancock. Ia tidak menyesal menjadi batu setelah melihat apa yang biasa ia baca di scanlation ternyata nyata.
Konon sampai saat ini sosok batu Malin Kundang masih bisa dilihat di sebuah pantai di Sumatera Barat, entah gimana kok bisa sampai sana. Disana juga katanya ada seorang wanita tua yang akan mendekati laki-laki kaya dan mengaku kalau dia adalah anaknya. Bila ia tidak dianggap, ia akan meneriakkan kata-kata ‘kukutuak kau jadi batu’. Apakah itu ibu Malin Kundang? Tetapi nggak mungkin kan ia masih hidup? Atau kata-kata itu semacam menjadi tradisi untuk menyambut turis? Ingin tahu? Visit Indonesia 2009!

2 comments
Comments feed for this article
March 12, 2009 at 1:10 am
Rekonstruksi dan Kesejahteraan Rakyat « Sastra Kontemporer
[...] Malin Kundang [...]
March 29, 2009 at 9:58 am
adam
huaaahahahahhahha lucu ceritanya