Annie adalah seorang mahasiswi perguruan tinggi yang cukup terkemuka di Skypolis. Annie cukup dikenal oleh banyak orang di lingkungan sebagai seorang mahasiswi yang aktif, kreatif, dan bersahaja. Selain itu dia selalu menempati rangking-rangking atas di kampusnya. Cewek 19 tahun ini sungguh aktif dalam bergaul sehingga tidak heran dia memiliki banyak teman.
…
Sepertinya pembuka cerita ini sama seperti prekuelnya…
Hari ini 31 desember 2008, Annie sedang menuju taman kota Brungkul untuk merayakan tahun baru bersama sahabatnya, Zara, tetapi kelihatannya ia akan terlambat, karena sudah pukul 20:08 WSBR:R (Waktu Skypolis Bagian Relica: Resolution) ia masih saja menanti bis yang menuju taman di halte dekat rumahnya. Meskipun ia sudah memakai mantel dan syal, tubuhnya masih saja kedinginan karena hujan salju yang cukup lebat.
Sudah cukup lama ia menanti, bis yang diharapkan tidak kunjung datang. Kemudian seorang pemuda mendatanginya.
“Hai, sejak tadi kulihat kamu berdiri terus disana. Sedang menanti seseorang?”
“Eh, tidak. Aku hanya menanti bis yang menuju taman Brungkul disini.”
“Apa? Kamu tidak membaca berita? bis yang menuju taman Brungkul tidak lewat sini lagi.”
“Benarkah?! A… Aku tidak mengetahuinya…”
“Wah, maka dari itu mbak, selalu perbarui wawasan dengan membaca berita terkini. Kebetulan aku bawa korannya, coba baca.”
“Hmmm… Bis lewat taman Brungkul tidak lagi melewati halte tempat anda menunggu karena sepi penumpang… Oh… Berita lainnya… Baru terbit! Edisi pertama cerita Relica, dapatkan di server SK terdekat… Wah, servernya kan cuma satu… Lho, tunggu dulu, ini bukannya koran beberapa tahun lalu?!”
“Iya benar, aku dapat gratis sebagai bungkus kacang. Mau? Mau? Mau?”
“Nggak… Nggak… Nggak… Ini sih namanya bukan berita terkini…”
“Kalau mau ke Brungkul gimana kalau bareng aku saja?”
“Boleh, tapi aku tidak melihat kendaraanmu, emangnya naik apa?”
“Ya naik bis, aku sengaja nunggu di halte ini.”
“…”
Relica dan lelaki itu kemudian menunggu bis lewat di halte itu. Cukup lama mereka menunggu tetapi bis tidak kunjung datang. Pemuda itu kemudian bertanya ke Annie.
“Lama juga, bagaimana kalau naik motor saja?”
“Oh, kamu bawa motor?”
“Iya, tuh, kuparkir dekat tanda P dicoret.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu bawa motor terus diparkir disitu?!”
“Eh… Memangnya kenapa?”
“Tanda P dicoret itu berarti dilarang parkir!”
“APA?! Kukira tanda P dicoret itu artinya dilarang berhenti…”
“Bukan, kalau dilarang berhenti itu tandanya B dicoret.”
“Oh begitu…”
… Eee… Bukannya dilarang berhenti juga berarti dilarang parkir juga?
Ah, lupakan.
Kemudian mereka berdua sampai di taman Brungkul dan melihat suasana ramai. Ada riuh suara terompet, juga ada tuba, trombon, saksofon, klarinet, oboe, biola… Eh biola bukan alat musik tiup.
“Kelihatannya suasana bakalan semakin ramai mendekati pukul 00:00 nanti.”
“Tentu saja, disana juga sudah disiapkan banyak kembang api.”
“Terima kasih sudah mengantarkan aku. Aku akan mencari sahabatku.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
“Ya, sampai jumpa juga.”
Annie kemudian pergi mencari Zara, sahabatnya.
“Tunggu dulu, aku lupa menanyakan nama pemuda tadi…”
Ketika Annie menoleh ke belakang, pemuda itu sudah tidak terlihat lagi.
“Kelihatannya dia sudah pergi.”
Annie melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 22:08.
“Sekitar 2 jam lagi, aku akan menelepon Zara sekarang…”
Anehnya, sudah berkali-kali, lebih tepatnya 1 kali, karena bagaimanapun, 1 kali 1 sama dengan 1, Zara tidak juga mengangkat telepon Annie.
“Ini aneh… Perasaanku juga tidak enak…”
——————————————————————————————–
Annie berlari menuju pusat taman kota brungkul
“Kami janji mau nonton kembang api, mungkin saja Zara menunggu di sini”
Annie tahu dia harus berpikir positif mengenai keterlambatan sahabat baiknya ini, bisa saja Zara ditabrak bis atau diganggu preman di jalan. Atau mungkin saja rumahnya terbakar waktu sedang menyalakan kembang api, tidak mungkin Zara melupakan janjinya untuk nonton kembang api bersamanya malam ini (siapakah yang dirujuk oleh kata ganti ‘nya’ dalam kalimat ini? ). Begitulah, Annie adalah gadis yang selalu berpikiran positif.
Suasana taman kota begitu ramai, orang2 sibuk menumpuk gentong2 berisi bubuk mesiu di tengah kota.
“Hah, mesiu? kenapa ada mesiu disini?”
“Tentu saja untuk menyalakan kembang api”
Sebuah suara yang tak asing menjawab di belakangnya, ternyata itu pemuda yang tadi.
“Ah kau mengejutkanku”, Annie tersentak dengan kemunculan pemuda itu yang tiba-tiba.
“Maafkan aku,sudahkah kau menemukan Zara?”, pemuda itu tersenyum sambil membetulkan posisi senapan di pundaknya
“Bagaimana kau bisa…”, kata2 Annie terhenti karena dia merasa ada yang mengawasinya dari belakang.
Annie menoleh dan melihat seorang wanita berlari menuju semak2 di taman kota itu. Hey, bukankah itu Zara?
Annie berbalik lagi dan melihat sang pemuda sudah tidak ada di situ lagi. Lagi2 dia menghilang sebelum Annie sempat menanyakan namanya.
“Ah, ak tidak sengaja mengambil dompet pemuda itu. Aku harus menghentikan kebiasaan ini”
Begitulah, Annie adalah cewek bersahaja dengan sejuta bakat.
——————————————————————————————–
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:58, 2 menit menuju tahun baru. Orang-orang sudah melakukan countdown, bahkan sebenarnya mereka sudah melakukan countdown dari detik ke-31356000. Entah apa yang dipikirkan orang-orang, ingin memecahkan Guineass Book of Record? Rasanya percuma, pastinya nanti ada yang melakukan lebih lama lagi.
Annie sudah berkeliling taman Brungkul mencari Zara, tapi sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Yang terlihat kadang punggungnya, tangannya, kakinya, isi dompetnya, jumlah uang di rekeningnya, atau hal tidak penting seperti jumlah rambut di kepalanya.
“Kemana perginya Zara… Padahal kita sudah janjian… Dia bahkan tidak menelpon atau SMS.” Kata Annie sambil melihat ponselnya yang dari tadi ia matikan, takut mengganggu suara kembang api pikirnya.
“Satu-satunya petunjuk adalah ini…”
Annie mengeluarkan dompet pemuda yang tadi dari dalam sakunya. Ia membuka isinya, dalam dompet itu tidak ada uang sama sekali, hanya ada KTP dan foto seorang anak perempuan.
“Ah, uangnya sudah habis… Rupanya hanya cukup membeli balon di toko depan itu.” Kata Annie sambil melihat toko yang menjual balon udara di seberang jalan.
Annie tertarik pada sesuatu, foto anak perempuan di dompet pemuda tadi.
“Rasanya aku mengenal foto ini… Tapi dimana ya?”
Ia kemudian teringat artikel di surat kabar yang sudah lama sekali ia baca, sekitar 50 tahun yang lalu.
…
Bukannya Annie berumur 19 tahun?
Maksudnya surat kabarnya yang berusia 50 tahunan.
Kenapa Annie membaca surat kabar yang sudah lama sekali?
Karena Annie adalah cewek bersahaja, kelakuannya aneh-aneh sahaja.
“Artikel itu… Adalah berita hilangnya seorang anak perempuan pada malam tahun baru 1008…”
Berita itu dari surat kabar 50 tahun yang lalu.
“Tetapi… Kenapa foto itu berwarna ya?”
“Itu karena foto itu dipotret dengan kamera digital…”
Sebuah suara yang asing menjawab di belakangnya, ternyata itu bukan pemuda yang tadi.
“Ah, kukira kau pemuda tadi… Kamera digital? Tahun 1008?”
“Ya… Tidak seberapa canggih sih, mungkin hanya 8 megapiksel dengan 5x optical zoom.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Anak itu… Adalah nenek buyutku…”
“Apa?! Bagaimana mungkin?!”
“Mungkin saja, kejadian itu sudah lama kan, jadinya anak itu sudah besar, menikah, punya anak, dan seterusnya.”
“Tetapi, bukannya anak itu menghilang? Lagipula, mengapa foto ini ada di dompet pemuda yang tadi kutemui?”
“Curiousity kills the cat… Kau terlalu banyak bertanya… Tidak semua rahasia misteri harus kamu ketahui kan?”
“Annie!!”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan yang memanggil Annie.
“Zara!!”
Annie menoleh sebentar ke Zara, kemudian kembali menoleh ke arah pemuda kedua yang tidak ia kenal tadi. Anehnya, pemuda itu juga lenyap.
“Kemana… Pemuda itu? Lalu… Bagaimana dengan dompet yang tidak sengaja kuambil ini?”
Secara tidak sengaja lagi Annie mengambil dompet pemuda yang barusan. Dengan bakat ini seharusnya Annie bisa menjadi pencopet, tapi ia tidak mau karena tidak ingin merusak nama baiknya dan keluarganya.
——————————————————————————————-
“Annie, apa yang kaulakukan disini?”, kata Zara sambil menghampiri Annie.
Annie tidak memperhatikan Zara, dia menggeledah isi dompet pemuda kedua itu. Cih lagi2 cuma segini.
“Pemuda jaman sekarang,dompetnya nggak berduit semua”,keluh Annie.
Annie melempar dompet itu ke lubang yang ada di dekatnya,hanya mengambil kartu kredit dan ATM dengan nomer pin yang tertulis di belakangnya kemudian menutup kembali lubang itu dengan daun2an seperti yang dilakukannya semalam.
Entah apa kerja pemerintah, bagaimana mungkin di taman kota brungkul bisa ada lubang sebesar itu. Bagaimana jika ada yang terjatuh ke dalamnya seperti pemuda kedua itu dan puluhan orang lain yang terperosok ke dalamnya sejak 5 tahun yang lalu. Sebagai anak yang menyukai keindahan, Annie selalu menutup lubang itu dengan dedaunan agar taman itu tampak indah namun anehnya tiap lewat daerah itu lubang itu kembali terbuka dan terdengar suara2 lirih meminta tolong. Sebagai anak beriman yang tidak takut akan hantu, Annie selalu memberanikan diri menutup lubang itu dan mengindahkan bisikan2 minta tolong itu.
“Annie, aku mencari2mu dari ta….ahhhh!!”, Zara terjatuh ke lubang lain di taman itu ketika berusaha menghampiri Annie.
“Aduh, lubang yang ini juga terbuka. menyusahkan saja”, Anniepun menutup lubang itu dengan dedauanan.
“Ah, sekarang aku harus mencari Zara. semoga dia tidak berkeliaran di daerah sini. Banyak desas-desus orang hilang di daerah sini. mengerikan sekali”
Annie melihat jamnya, ah 1 menit menjelang tahun baru. Entah bagaimana semua kejadian di atas berlangsung hanya dalam waktu 1 menit.
“1 menit sepertinya tidak cukup untuk mencari Zara, ak butuh setidaknya 5 menit”, Annie memutar balik jamnya ke 23:55
Annie terus berjalan memasuki hutan yang gelap, meninggalkan keributan orang2 dan suara kembang api di belakangnya.
“Aku harus menemukan Zara sebelum tahun baru, kami sudah berjanji mau melihat kembang api bersama”, Annie mengingat kembali janji yang mereka lakukan kemarin. Zara menandatangai kontrak bermaterai dengan jaminan BPKB dan uang tunai 10 juta RS (Rupiah Skypolis).
Terlihat cahaya aneh dari dalam hutan, karena penasaran Annie mendekati cahaya aneh itu dan…
“Ya ampun!!!”, Annie tak percaya akan apa yang dilihatnya…
——————————————————————————————
Annie terkejut melihat benda besar yang benderang, ternyata sudah banyak orang berkumpul disana.
“Ini tidak mungkin…”
Orang-orang pun terlihat takjub melihat benda itu, mereka dengan seksama menonton benda itu.
…
Menonton?
“Aku tidak menyangka… Di kota ini… Ada… Layar tancap!”
Annie tidak pernah melihat layar tancap sebelumnya dan ia tidak tahu apa itu layar tancap, tetapi ketika melihat benda itu ia bisa segera tahu kalau itu layar tancap.
“Tunggu… Kok aku bisa tahu itu layar tancap, padahal aku tidak pernah tahu sama sekali…”
Tiba-tiba Annie merasa teringat sesuatu, sesuatu yang pernah terjadi dulu. Sesuatu itu samar dan membuat kepalanya pusing, ia kemudian pingsan dan adegan yang tidak serius ini berubah menjadi serius.
“… Ibu…”
Dalam pingsannya Annie teringat ibunya yang entah sekarang ada di mana.
“… Ibu…”
Suara itu terus terngiang di kepala Annie.
“… Ibu…”
Annie mulai merasa kesal, dialog yang sama tidak perlu diulang tiga kali. Apalagi yang 2 hanya untuk sesama operator.
“… Ibu… Ada orang tidur di rumput…”
“Hush, orang itu nggak punya tempat tinggal seperti kita. Kalau kita kan tinggalnya di rumah mewah, rumah bintang lima.”
“Tapi kan, sekarang kita diusir ayah karena ibu ketahuan selingkuh…”
“Hush! Kamu dibilangin siapa?! Itu nggak benar, ibu nggak pernah selingkuh dengan siapapun kecuali dengan ayahmu! Sudahlah, ayo kita pergi.”
Ternyata itu suara anak kecil yang bicara kepada ibunya.
Annie terbangun dari pingsannya dan melihat jam tangannya.
“23:56… Ternyata aku pingsan cukup lama… Zara pasti sedang mencari aku, aku harus bergegas…”
Annie melihat sekeliling, hutan itu ternyata cukup sepi, tidak ada makhluk hidup satu pun yang terlihat, termasuk pepohonan.
“Lebih baik aku kembali ke taman.”
Annie telah sampai di taman, tetapi lagi-lagi ia terkejut. Ia melihat banyak monster!
“Apa?! Dasar orang-orang ini, baru kutinggal sebentar saja sudah banyak masalah.”
Anehnya monster itu tidak menyerang orang-orang di taman. Kemudian datanglah seseorang, ia membawa pedang dan menebaskannya ke monster, tetapi tiba-tiba orang itu malah terkena serangan dari monster itu dan… Annie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, orang itu hancur lebur!
“Tidak mungkin… Sadis… Terlalu sadis caramu… Menyingkirkan diriku… Eh orang itu, sih.”
Annie ingin pergi dan meminta bantuan, tapi sepertinya tidak mungkin. Kelihatannya hanya akan membuat masalah semakin besar.
Tiba-tiba Annie silau, ada cahaya yang sangat terang, kemudian Annie merasa tidak bisa bergerak.
“Oo… Aku ketahuan…”
Annie ini adalah hari terakhirnya, ia pun menulis surat wasiat meskipun ia tidak bisa bergerak.
“Swords of Revealing Light!”
“Eh… Itu tadi… Bukannya…”
Ternyata ada dua anak yang sedang bermain kartu Yu-Gi-Oh! Entah kenapa Annie juga terkena efeknya.
“Duh, untung saja ini hanya berlaku 3 turn…”
Tiba-tiba kedua anak itu berhenti bermain.
“Ah, membosankan, lebih baik ikut countdown.”
Dan kedua anak itu pergi.
“Lho… Terus… Bagaimana denganku?”
——————————————————————————————
Sudah lama Annie mencoba bergerak, tetap saja ia tidak bisa bergerak.
“Ugh… Aku sudah tak sanggup lagi. Sudah berapa lama aku mencoba ya? Rasanya sudah berjam-jam.”
Kemudian terdengar pengumuman.
“Sekarang waktu menunjukkan pukul 23:59, mari kita lakukan countdown bersama-sama!”
“Eh… Masih 3 menit ya? Tapi rasanya sudah lama sekali.”
Annie mulai panik.
“Aku harus mencari Zara dan merayakan tahun baru bersama!”
Annie berusaha lagi, tapi tetap saja tidak terjadi apa-apa. Di tengah kepasrahannya itu, tiba-tiba dari sakunya sesuatu terjatuh.
“Apa itu?”
Annie kemudian mengambil sesuatu yang terjatuh tersebut dengan tangannya.
“Remedy… Keterangan… Cures any status ailments. Mungkin ini bisa kugunakan.”
Annie membuka barang yang tersegel di dalam botol itu dengan tangannya dan ia meminum isinya.
“Ugh pahit! Air! Air!”
Annie menemukan pancuran air di taman dan ia bergegas menuju kesana untuk meminumnya.
“Ahhh… Rasanya lebih baik sekarang… Coba aku menggerakkan badanku…”
Tetapi Annie tetap tidak bisa bergerak.
“Ugh, percuma… Sepertinya item tadi dari dunia yang lain, tidak bisa digunakan disini…”
Annie kembali pasrah, dan ketika ia melihat jam, ia tahu sekarang semakin mendekati tahun baru.
“23:59:05… Kurang 55 detik lagi… Tetapi aku masih tidak bisa bergerak…”
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat cahaya.
“Ah! Mungkin itu anak yang sedang bermain Yu-Gi-Oh! Aku butuh Dark Hole!”
Annie menuju arah cahaya itu dan ia kemudian mendengar suatu teriakan.
“Kuriboh!”
“Ah, itu anak yang bermain Yu-Gi-Oh!”
Kemudian ada seseorang yang datang… Orangnya berambut kribo.
“Hei, hentikan memanggilku dengan sebutan itu! Nanti ada yang mengira kalau kita sedang bermain Yu-Gi-Oh!”
“Maaf deh…”
Dan kedua orang itu pergi, hilang sudah harapan Annie.
Di tengah keputusasaannya, Annie mengitari taman tanpa tujuan yang jelas, ia sudah kehilangan semangat.
“Aku sudah tak sanggup lagi… Sebaiknya aku mulai menulis surat wasiat…”
Ia mengeluarkan kertas dan pena dari dalam sakunya.
“Dear Zara… Bila kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Semoga kau bisa menemukan sahabat yang lebih baik dariku…”
“Annie!”
Dari belakang terdengar suara seseorang memanggil nama Annie. Tidak dia bukan pemuda yang lain, ia seorang perempuan.
“Zara!”
“Kemana saja kamu selama ini?! Sudah kucari keliling taman tapi nggak ada. Aku juga sudah menanyakan banyak orang, tetapi semuanya bohong, masa katanya kamu mencopet dompet orang dan menjerumuskan banyak orang ke lubang-lubang?!”
“Sebenarnya… Itu memang benar, tetapi aku tidak sengaja melakukannya!”
“Apa?! Jadi selama ini… Kau…”
“Ya… Maafkan aku…”
“Kau sudah merebut peranku! Seharusnya kan aku yang menjalankan adegan itu! Aku yang berhak! Bukan kamu! Kamu hanyalah seorang mahasiswi yang aktif, kreatif, dan bersahaja. Selain itu kamu selalu menempati rangking-rangking atas di kampusmu.”
“Tetapi aku tidak sengaja, Zara!”
“Sudah, lupakan semua tentang merayakan tahun baru bersama!”
Zara melihat kertas yang ditulis Annie.
“Apa itu? Bila aku membaca surat ini, kau sudah tidak ada lagi di dunia ini… Apa!? Jadi kamu sudah punya tiket untuk ke luar angkasa!? Dan kamu mau kesana sendirian?!”
“… Eh, bukan begitu…”
“Kamu… Kamu sudah lupa ya? Kamu lupa ini?!”
Zara mengeluarkan benda yang seperti liontin… dia membukanya dan keluar figur dan ucapan “Sahabat sejati… Sahabat sejati… Selamanya.”
“… Itu bukannya merchandise SpongeBob SquarePants yang kamu beli di toko loak?”
“Sudahlah! Pokoknya kita putus!”
“Eh?! Jangan! Aku masih mencintaimu! Jangan tinggalkan aku!”
“… Eh, Apa? … Maksudnya tadi putus sebagai sahabat… Argh, sudahlah! Aku pergi! Sana bersahabat dengan 2 cowok tadi!”
“Tunggu dulu, Zara!”
“Pokoknya aku tetap pergi!”
Dan Zara meninggalkan Annie.
“Bukan gitu! Aku cuma mau tahu bagaimana caramu keluar dari lubang!”
Tetapi Zara terlanjur jauh dan ia tidak mendengarnya. Persahabatan Annie dan Zara yang sudah lama dijalin berakhir begitu saja… Atau tidak?
—————————————————————————————–
Annie mengenang kembali semua kejadian indah yang pernah dialaminya bersama Zara, satu2nya sahabat yang dia punya, selain Sarah, Zahra,Sahara, dan Shara. Masih teringat jelas ketika dia bertemu Zara untuk pertama kalinya. 30 Desember 2008
“Ah, rasanya seperti baru kemarin”, kenang Anna
“Bukannya 30 Desember 2008 itu memang kemarin?”
“Aku bahkan masih ingat kata2 yang pertama kali diucapkannya padaku”
“Hei, kembalikan dompetku!!”
“Ya benar sekali,kata2 itu begitu membekas di hatiku. Sejak hari itu aku tahu bahwa dia adalah sahabat sejatiku”
Annie membalikkan badannya untuk mengejar Zara dan dia melihat seorang pemuda dengan rambut acak2an dan baju yang penuh tanah.
“Ah siapa kamu? kenapa tiba2 kau bisa berada di belakangku?” Teriak Annie
“Apa maksudmu? ak sudah ada di sini dari tadi. Kembalikan dompetku”, ternyata pemuda ini sudah ada sejak 2 paragraf sebelumnya
“Rambut acak2an, baju kuning yang penuh tanah,celana kotak.Kamu pasti yang ingin menghancurkan hubungan baikku dengan Zara”, Annie mulai mengeluarkan tuduhan yang tak berdasar.
“10,9,8,7″, terdengar suara countdown dari kejauhan
“ya ampun, kau bahkan telah memasang bom untuk meledakkan taman ini”, imajinasi Annie makin liar
“Hah? bom? apa kamu baik2 saja nona?”, Pemuda itu mulai khawatir melihat keadaan Annie yang kacau
“Tidak, jangan sentuh aku!!, tidaaaak!!!”, Annie berteriak. Kepalanya terasa sakit, dia merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya.
—————————————————————————————–
“Dimana aku?”
Annie kebingungan, tadi ia pingsan dan sekarang ia merasa asing melihat sekelilingnya. Ia tidak berada di taman Brungkul.
“Ah, aku tahu tempat ini, dulu sekali aku pernah tinggal di sekitar sini.”
Dia kemudian melihat sebuah toko kelontong yang sangat ia kenal.
“Kemarin aku hutang laptop disini, ah sepertinya sampai sekarang aku masih tinggal di sekitar sini.”
Annie kemudian melihat seorang anak kecil, ia mengenal wajah anak itu.
“Sepertinya itu anak yang fotonya ada di dompet pemuda waktu itu.”
Annie kemudian mendekati anak itu secara diam-diam.
“Bu, beli coklatnya satu.”
Anak itu berniat membeli coklat dan memberikan uang seratusan (bukan rupiah lho, meski nilainya cukup kecil seratusan itu, untuk sekarang mungkin hanya dapat permen satu. Uangnya gambar burung garuda dan di sisi lainnya ada gambar kakaktua raja dan ada tulisan 100-nya. Uangnya berwarna perak) ke penjaga toko.
“Harga coklat masih seratusan, rindunya aku masa itu, pasti pada saat itu harga netbook masih ratusan ribu.”
Annie teringat masa lalu, tetapi karena kilas balik dalam kilas balik bisa menyebabkan infinite loop, Annie menghentikannya.
“Apa maksudmu ngasih uang seratusan!? Coklat ini harganya 13000! Pergi kamu!”
Penjaga toko mengusir anak kecil itu.
“Eh… Ternyata waktu itu harga coklat mahal. Untung aku gak jadi beli netbook.”
Anak itu meninggalkan toko dengan sedih karena tidak bisa membeli coklat kesukaannya dengan uang seratusan. Annie berpikir sayang sekali karena coklat itu sangat enak.
“Coklat merk Troubleron itu enak, bentuk prisma segi tiga belasnya pun unik. Itu adalah coklat kegemaranku dulu…”
Anak itu kemudian bertemu dengan anak kecil lain.
“Eh, jadi main ke rumah pohon nggak?”
“Rumah pohon? Rumah pohon yang ada di atas pinus di puncak bukit itu?”
“Bukan, rumah dekat sini yang banyak pohonnya di dalam, mulai cemara, pinang, kelapa, pohon kacang si Jack…”
“Oh, mau main apa?”
“Duh, ya main pohon-pohonan lah, kamu yang jadi pinang, aku jadi cemara.”
“Baiklah.”
Kedua anak itu menuju sebuah rumah di seberang jalan yang tak jauh dari sini, disana terlihat rimbun, banyak pepohonan, sampai nggak kelihatan kalau itu rumah… Tapi ada kotak pos di depannya.
“Rasanya aku tahu rumah itu, ketika kecil aku sering bermain di sana.”
Annie merasa ada sesuatu yang aneh, berbagai hal cukup familier.
“Ini adalah tempat masa kecilmu.”
Lagi-lagi ada orang yang ngomong dari belakang.
“Hei, kamu lagi, mengagetkan saja. Kamu pemuda pertama atau kedua?”
“Pertama? Kedua? Ah, lupakan. Yang jelas ini adalah kejadian ketika kamu kecil.”
“Ketika aku kecil? Benarkah? Jadi ini adalah bayangan alam tidak sadarku. Lalu bagaimana kamu bisa masuk sini?!”
“Ini adalah kemampuan telepati, bangsa kita memiliki kemampuan ini sejak lahir.”
“telePATI? Bukannya itu operator seluler ya?”
“Duh, jangan ditulis seperti itu. Telepati adalah kemampuan membaca pikiran.”
“Kamu sepertinya tahu banyak mengenai aku, siapa kamu sebenarnya?”
“Namaku tidaklah penting, toh kamu tidak menanyakannya ketika pertama kali bertemu. Anak kecil tadi adalah kamu, kalau tidak percaya lihatlah sebentar lagi.”
Tiba-tiba anak perempuan tadi lari keluar, diikuti anak laki-laki yang sedang menangis.
“Oy, kembalikan dompetkuuuuu!!!”
“…”
“Sudah cukup kan buktinya? Ya… Karena masih kecil skillmu masih kurang begitu bagus.”
“Kok nilainya dari situ? Lagipula dia memanggil Oy, namaku bukan Oy, masak jadi Annoy?!”
“Annie memang bukan namamu sebenarnya, tapi bukan Annoy juga sih meski kelakuanmu seperti itu…”
“Pantas… Ketika kecil aku ingat dipanggil cantik, manis, sayang… ternyata namaku banyak.”
“… Kamu memang bodoh atau sedang berbohong? Sudahlah, sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya…”
“Eh, tahu apa? Apa maksud yang sebenarnya?! Apa anak itu benar-benar aku? Kenapa foto anak itu bisa ada di dompetmu?!”
“Kamu tidak perlu tahu semuanya sekarang… Lagipula… Aku bukan pemuda pertama, aku pemuda yang kedua.”
Pemuda itu kemudian menghilang. Annie tersadar dari pingsannya dan ia kembali melihat taman Brungkul. Ia mendengar countdown dilanjutkan.
“6! 5!”
“Apa?! Tinggal lima detik lagi?! Bagaimana ini? Ada banyak sekali masalah!”
Kemudian Annie berdiri dan membulatkan tekadnya.
“Lupakan masa laluku, aku harus mencari Zara dan menyelesaikan salah paham ini.”
Annie berlari mengitari taman untuk mencari Zara. Ia tidak ingin melewati akhir tahun sendirian seperti tahun-tahun sebelumnya ketika Zara sibuk terus dengan kekasih-kekasihnya.
————————————————————————————
Annie berlari melewati bangku taman di pinggir danau
“Tahun lalu Zara melewatkan tahun baru dengan kekasihnya. aku masih ingat dompet kulit coklat itu”, kenang Annie
Annie kembali berlari dan melewati penjual balon yang menjajakan kembang api dagangannya “terompetnya bu, terompetnya pak”
“Ah, penjual balon itu seperti kekasih Zara 2 tahun lalu. aku masih ingat jam tangannya yang bagus, dompetnya juga penuh dengan kartu kredit”, begitu banyak kenangan tahun baru Annie bersama Zara walaupun Annie hanya memandang dari kejauhan.
Annie berusaha mencari Zara disekitar taman, kenangan Zara yang selalu menghabiskan waktu bersama para kekasihnya di taman itu membuat dada Annie terasa sesak. Walaupun Annie tidak mengingat siapa saja yang pernah menjadi kekasih Zara, tapi Annie masih mengingat semua dompet2 itu.
“4! 3!”, countdown terus bergulir namun batang hidung Zara masih belum terlihat juga. Sesekali terlihat lengan atau kakinya, terkadang bagian belakang kepalanya, namun tak sekalipun terlihat batang hidungnya bagaimanapun Annie berusaha mencarinya di sekeliling taman itu.
“Oh Zara, tak tahukah kau betapa aku begitu mengkhawatirkanmu”, ratap Annie sambil menyantap coklat yang baru saja didapatkannya sebagai hadiah dari stand game menangkap ikan koi di pojok sana.
Dalam keputusasaan Annie melihat rumah tua di ujung taman, rumah yang rimbun dan penuh pepohonan.
“Rumah itu masih tetap seperti yang dulu, ketika aku pertama kali bertemu Annie waktu kecil bersama bocah tengil yang mengajaknya main pohon2an itu, dompetnya hanya berisi trading card hologram limited edition. benar2 tidak berguna”
“Apa kau benar2 sudah ingat semua yang terjadi waktu itu?”, seseorang tiba2 sudah duduk di samping Annie sambil mengigit coklat di tangannya
“Hey, kembalikan coklatku”, sahut Annie begitu menyadari coklat di tangannya telah menghilang
“Annie, apakah kau tidak mengenalku?”, tanya pemuda itu
“Kau pemuda kedua itukan?”
“Bukan, aku pemuda pertama. Argh, kenapa masih belum ada rilis nama dari pengarang”
“Ah tidak penting, kembalikan coklatku. dasar pencuri”, entah kenapa agak aneh rasanya mendengar Annie mengucapkan kalimat ini.
“Annie, apa kamu masih belum mengingat siapa Zara sebenarnya?”
“Apa maksudmu, dia sahabatku dan aku harus segera menemukannya sebelum tahun ba….”
Annie baru menyadari keanehan yang terjadi di sekitarnya, kesunyian yang tiba2 ini, bagaimana segala kenangan di taman itu muncul bagaikan foto yang tidak bergerak di hadapannya. Semua yang ada di sekitarnya benar2 tidak bergerak. Air mancur di tengah taman seolah membeku, ledakan kembang api terdiam menghiasi langit. Bahkan jam besar di tengah taman tetap menunjukkan waktu yang sama. 2 detik menjelang jam 12 malam.
“A… apa yang terjadi di sini?”, Annie mundur selangkah menjauhi pemuda itu
“Kenapa kau terlihat begitu ketakutan Annie?”, pemuda itu mendekati aneh dengan senyum di wajahnya
“Jangan mendekat!!, katakan apa yang telah kaulakukan??!!”
“Aku?, hahaha,aku tidak melakukan apapun. kaulah yang melakukan semua ini. Inilah kekuatanmu”
————————————————————————————
“Ke… Kekuatan? Kekuatan apa maksudmu?! Ba… Bagaimana mungkin semua menjadi sunyi secara tiba-tiba?!”
“Sunyi? Oh, itu karena semua melakukan count down-nya dengan merenung, takut mengganggu orang tidur. Tidakkah kamu lihat banyak orang menggelar tikar dan tidur di sekitar sini serta menaruh gelas plastik didekatnya?”
“Lalu… Bagaimana dengan air mancur yang membeku itu?”
“Membeku? Oh yang kamu tunjuk bukan air mancur, itu adalah patung air mancur yang dibuat dari air.”
“Ledakan yang terdiam?”
“Itu bukan ledakan, itu lampu.”
“… Kalau jam yang tidak bergerak itu?”
“Bukannya kamu baru saja mencuri baterainya?”
“… Oh… Ini ya? … Lalu… Kekuatan apa yang kamu maksudkan?!”
“Kekuatan… Aku tidak bisa mendekatimu… Perutku kamu pukul dengan keras… Duh…”
Kemudian pemuda… Yang pertama ya? Jatuh pingsan.
“2!”
Tiba-tiba orang-orang mulai teriak countdown lagi, kelihatannya yang tidur tidur tadi udah dimasukkan ke mobil bagus, ada sirinenya lagi, mobil ferrari mahal pun nggak ada yang punya sirine seperti itu.
“Tinggal dua detik! Tidak mungkin!”
“1!”
Tiba-tiba waktu berjalan seperti lebih cepat seperti biasanya.
“Ba… Bagaimana mungkin sedetik berlalu secepat ini?!”
“0!”
“TIDAAAK!!!”
“DORRRRR!!!”
Terdengar suara tembakan. Annie terkaget, ia merasakan sesuatu mengenai tubuhnya. Ia melihat tangannya, ada cairan merah.
“Tidaaak… Tidak mungkin…”
Orang-orang kemudian berlari, tetapi sepertinya mereka tidak berlari karena keadaan Annie, mereka menuju garis finish, ternyata ada lomba lari marathon disana.
“… Duh… Terus… Cairan ini?”
“Ah, tumpah kan… Makanya, jangan gerak dong… Nih jus saos tomat, kayaknya kamu haus.”
“Ah kamu mengagetkan saja! Kamu nggak tahu ya orang sedang kebingungan gini!”
“Bingung? Apa yang sedang kamu bingungkan?”
“Semuanya terasa aneh malam ini… Tentang Zara, tentang masa kecilku…”
“Kamu ingin tahu siapa kamu sebenarnya?”
Pemuda satunya datang.
“Ya, aku ingin tahu sekarang! Siapa sebenarnya kalian?!”
“Kalau ada yang bertanya siapa…”
“Jawabannya akan mengguncang dunia…”
“Demi menjaga perdamaian dunia…”
“… Hei jangan nonton Pokemon disini!!!”
“Aku bukan berasal dari bumi ini.”
“Benarkah? Kamu… Alien?”
“Bukan… Rasanya tidak tepat kalau disebut alien…”
“Diam kamu! Kamu siapa sih!?”
“Eh…”
Annie kebingungan, kok sepertinya pemuda pertama dan pemuda kedua tidak berhubungan.
“Kalian bukannya… Satu bangsa?”
“Siapa? Dia? Nggak!”
“Tapi mengapa foto anak yang katamu nenek buyutmu ada di dompetnya?”
“Itu… Ceritanya panjang…”
Kemudian suasana menjadi hening.
“Dia… Mencuri dompetku!”
“Tidak!! Dia yang mencuri duluan!”
“Nggak!! Kamu duluan!”
“Kamu dulu! Kubilangin Mrs. Sarah lo!”
Dan terjadi pertengkaran anak-anak. Bagi yang belum mengetahui siapa itu Mrs. Sarah, silahkan baca cerita Relica.
“Diam!! Yang tidak berhubungan dengan masa laluku, silahkan keluar!”
Kedua pemuda itu terdiam.
Pemuda pertama kemudian mulai berbicara
“Annie, aku adalah teman masa kecilmu. Kita sering bermain di rumah pohon ketika kecil.”
“Ah… Yang memiliki trading card hologram itu ya?”
“Ya, di dompet yang kamu ambil itu. Sejak saat itu aku belajar agar bisa sepertimu.”
“… Eh… Jangan gitu ah, aku jadi malu…”
Kemudian pemuda kedua berbicara.
“Kalau aku mengetahui asal usulmu. Annie, kau sama sepertiku. Tempat tinggal kita yang sebenarnya bukan di bumi. Bumi adalah tempat tinggal manusia, penghianat bangsa kita, bangsa Relica. Bangsa Relica tidak akan lagi tinggal bersama dengan manusia, selamanya!”
“Tunggu dulu, aku… Bukan manusia bumi?”
Ia kemudian teringat dengan sesuatu yang pernah ia dengar dulu, entah mimpi atau kenyataan.
“Annie, sesungguhnya kau bukan manusia bumi.”
Kalimat itu teringat oleh Annie.
“Jadi itu semua… Nyata?”
Dalam kebingungan Annie tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan.
“Annie! Menjauh dari mereka! Jangan dengarkan apa kata mereka! Kemarilah!”
“Zara?!”
Dari kejauhan Zara memanggil Annie, tetapi Annie masih kebingungan, apa maksud semua ini? Lagipula, apa hubungan Zara dengan siapa dia sesungguhnya?
————————————————————————————
Annie kemudian mengikuti Zara berlari, mereka dikejar oleh kedua pemuda tadi.
“Ada apa Zara? Apa kamu mengenal mereka?”
“Nanti akan kuceritakan, kita cari tempat aman dulu.”
Mereka berlari diantara keramaian pengunjung taman untuk menjauh dari pandangan kedua pemuda tadi.
“Nah, disitu pasti aman.”
Zara menuju sebuah tempat yang menurutnya sangat aman, di sebuah restoran mewah.
“Selamat datang di restoran la Biazza, makan di sini atau makan di luar?”
“Makan di sini mbak. Meja untuk dua orang.”
“Wah, maaf kakak, di sini makannya sambil lesehan.”
“Oh begitu, baiklah kalau begitu. Bantal duduk untuk 2 orang.”
“Pesan apa? Kami memiliki menu baru, inggris goreng saus ayam dan minumannya, mineral water shake.”
“Um… Kami pesan nasi goreng spesial 2 dan es teh manis 2.”
“Pilihan yang tepat kakak. Oh, untuk nasi gorengnya kebetulan wajannya sedang habis, jadi nasi putih biasa ya, begitu juga dengan tehnya, diganti air putih manis saja.”
“Eh… Terserah lah.”
“Untuk dessertnya? Atau salad mungkin?”
“Tidak usah.”
“Pilihan yang tepat kakak. Baiklah kalau begitu, bila ada perlu apa-apa bisa panggil teman saya, Aya.”
Kemudian pelayan itu memberi secarik kertas.
“Apa ini?”
“Oh, itu nomor telepon Aya, mbak. Untuk email Aya nggak punya, jadi untuk pengguna Blackeyberry tidak bisa pakai push email, push phone button saja.”
“…”
Sambil menunggu makanan datang, Annie yang sudah tidak sabar mengenai asal-usul kedua pemuda tadi bertanya pada Zara.
“Siapa mereka berdua sebenarnya?”
“Asal kamu tahu saja, mereka berdua itu pembohong.”
“Benarkah?! Jadi semua yang mereka ceritakan itu bohong?!”
“Kemungkinan besar begitu.”
“Dari mana kamu tahu tentang ini semua?”
“Cukup lama, sekitar beberapa tahun lalu…”
Sekarang cerita mengenai kilas balik Zara…
…
…
“Ah, lupa! Pokoknya beberapa tahun lalu lah.”
“… Beberapa tahun lalu apa yang terjadi?”
“Sebenarnya, mereka berdua itu…”
“Siapa?”
“Mereka…”
“…”
“Tak mau mengerti, mereka…”
“Halah, jangan nyanyi di sini!”
“Hehehe, mereka berdua adalah mantan pacar aku.”
“… Apa?”
“Iya, beneran! Mereka berdua pembohong. Yang katanya sayang lah, cinta mati lah, spreadsheet! Masa aku cuma minta berlian dikit aja, nggak sampai segenggam tangan ini, katanya nggak punya uang!”
“…”
Dan Zara menceritakan semuamuanya, mulai dari Zara lahir, merangkak, belajar jalan, bahkan sampai Zara sudah menikah dan punya anak.
Annie merasa ditipu, entah ditipu kedua pemuda itu, Zara, atau pelayan restoran tadi. Ia seperti kehilangan tenaga.
“Annie, kamu punya uang kan untuk membayari ini semua?”
Di meja mereka berdua terlihat banyak piring dan gelas, entah punya siapa saja itu, Zara mungkin berniat mentraktir semua pengunjung restoran.
“Tenang saja, kita bayar pakai ini.”
Annie kemudian mengambil dompet dari sakunya, satu-persatu, entah berapa jumlahnya.
“Apa ini?! Kamu mencopet?! Nggak, aku nggak mau makan uang haram.”
“Tunggu dulu, kamu jangan berprasangka buruk. Siapa tahu pemilik semua dompet ini memang berniat mentraktir kita makan.”
“Ah, benar juga.”
Dan mereka melanjutkan makan.
“Para pengunjung restoran, mohon maaf bila mengganggu makan anda dengan menaruh beberapa sound system di sebelah telinga anda, tetapi ini saatnya countdown! 6 detik lagi menuju tahun baru!”
“Annie, sekarang saatnya countdown!”
Annie melihat jam tangannya, benar, sekarang pukul 11:59:54.
“5!”
Zara memegang tangan Annie dan tersenyum ke arah Annie. Annie seolah melupakan semua yang terjadi hari ini.
“4!”
Meskipun telah mengalami banyak kejadian sulit, akhirnya Annie sampai ke acara yang dia nanti-nantikan, merayakan tahun baru bersama sahabatnya, Zara.
“3!”
Pemuda pertama dan kedua masuk dan menyapa Annie dan Zara. Mereka membawa terompet tahun baru. Zara menyambut mereka dengan gembira. Ternyata bukan hanya Annie yang melupakan semua yang terjadi hari ini, Zara dan kedua pemuda itu juga. Sepertinya semua yang terjadi hari ini sudah tidak penting lagi.
“2!”
Annie teringat tentang sesuatu, resolusi tahun 2009. Ia sangat bahagia tahun 2008 ia lewati dengan banyak sahabatnya, Zara, Sarah, Zahra, Sahara, dan Shara. Ia menyadari pentinya arti sahabat, dengan melihat bon yang harus ia bayar, ia mengatakan dalam hatinya, that’s what friends are for.
“1!”
Annie merasa heran juga, sepertinya detik demi detik berlalu lebih cepat sekarang. Di detik terakhir tahun 2008, ia mempunyai suatu resolusi, ia akan selalu mempertahankan persahabatannya, itulah hal yang bisa ia ambil dari semua kejadian yang ia alami hari ini.
“Selamat tahun baru 2009!!!”
Annie berteriak dengan keras sambil meniupkan terompet. Ia meluapkan kegembiraan di akhir tahun ini.
Tidak lama kemudian Annie merasa heran, pandangan semua pengunjung tertuju padanya. Ia bertanya sendiri, apakah ada yang aneh pada perbuatannya.
Ia kemudian menyadari, kecuali dirinya, semua pengunjung ternyata berbaju merah, termasuk Zara dan kedua pemuda tersebut. Ia juga baru sadar ternyata Zara dan kedua pemuda tersebut memiliki kulit putih dan bermata agak sipit. Ia melihat hiasan restoran itu, banyak lampion dan hiasan naga. Ia juga melihat banner yang dipasang di dalam restoran yang bertuliskan “Gong Xi Fat Choi”.
“Eh… Ini perayaan tahun baru… Imlek?”
Annie baru menyadari, semua hal yang ia alami terasa sangat lama dan nggak mungkin semua terjadi dalam 4 jam saja, ternyata ini alasannya, memang semuanya terjadi berhari-hari. Countdown untuk tahun baru 2009 juga pasti telah ia lewatkan. Kuliah-kuliah yang harus ia ambil juga, jangan-jangan ia sudah tidak menjadi seorang mahasiswi yang aktif, kreatif, dan bersahaja.
“Eh, maaf, salah tempat.”
Annie kemudian keluar dari restoran itu.
Annie memandang langit di atas, meskipun gelap, tetapi langit terlihat cerah dengan sinar bulan yang indah. Angin juga bertiup sepoi-sepoi, ah, benar-benar suasana yang tenteram.
Di dalam restoran suasana cukup ramai, tetapi Annie lebih menyukai berada di luar. Ia duduk di sebuah kursi taman di dekat restoran, kemudian ia ingin meluapkan semua kegembiraannya.
“SELAMAT TAHUN BARU 2009!!!”
Annie berteriak sambil mengepakan kedua tangannya keatas.
“BERISIK! TERLAMBAT TAHU!!!”
Zara melemparnya dengan sebuah tisu gulung, tepat mengenai belakang kepalanya.
Annie tertawa sendiri. Tidak, ia tidak gila karena kepalanya terkena tisu, tetapi ia menertawakan semua kejadian konyol ini. Ia tidak marah sedikitpun meskipun Zara melemparinya dengan tisu, karena memang tidak sakit, ia tahu Zara juga tidak berniat melukainya. Yah, begitulah persahabatan, bagai kedondong…
“SELAMAT TAHUN BARU 2009!!!”
“SUDAH KUBILANG BERISIK!!!”
Kali ini Zara melemparkan sebuah piring.

5 comments
Comments feed for this article
February 3, 2009 at 1:13 am
Selamat Tahun Baru 2009!!! « Sastra Kontemporer
[...] Bersamaan dengan ini, joint project SK dengan SKII (yang sekarang entah dimana), Relica, berlanjut. Untuk anggota SKII yang kebetulan mengetahui ini… Ya… Ketahuilah . Without further ado… Relica: Resolution [...]
March 12, 2009 at 2:10 pm
madz
WAKS!!!!
WAAGAKGAKGAKGAKGAK!!!
March 25, 2009 at 6:55 am
ewaru
…
April 29, 2009 at 3:10 am
afis
wah RELICA dilanjutin
wkkkk
April 29, 2009 at 3:21 am
afis
lho ada restu,
cerita2 sk II yg laen mana neh….
gabungin kesini…