Homes dan Wattson yang, seperti biasa, setelah bangun tidur di emperan toko mengeluh tentang keadaannya yang masih belum punya rumah.
Homes (H): Aku berpikir, sebenarnya detektif seperti kita ini bisa dapat uang dari mana ya?
Wattson (W): Uang? Bukankah kita tidak pernah mendapat kasus yang berbayar?
H: Benar juga, selama ini kita hanya mendapat makan gratis dari Tuan Agguatare… Ngomong-ngomong jatah kita kali ini mana ya?
W: Ah, itu dia Tuan Agguatare.
Tuan Agguatare (A): Guk!
H: Terima kasih atas bagiannya, Tuan…
W: Terima kasih, tuan memang baik hati.
A: Guk!
… Mereka mendapat bagian makanan dari… anjing?
H: Wattson! Kamu dengar tidak? Narator sampai heran kenapa kita bisa mendapat makanan dari anjing! Apa kamu tidak malu?
W: Ya mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa hidup seperti ini… Apa kita harus mencari manusia untuk membagi bagian makanannya?
H: Apa yang kamu katakan?! Kita bukan pengemis! Seharusnya kamu malu atas perkataanmu tadi!
W: Eh… Iya, maaf.
Dalam pembicaraan mereka yang nggak jelas, seorang tukang pos…
Kok tukang ya? Jelek banget…
Dalam pembicaraan mereka yang nggak jelas, seorang pak pos…
Kok pak? Masih muda tuh…
Dalam pembicaraan mereka yang nggak jelas, seorang manusia pos…
Hei… Kok kelihatannya dia bukan manusia normal…
Dalam pembicaraan mereka yang nggak jelas, seseorang memberi mereka undangan.
Hmmm… Lumayan lah.
Seseorang yang memberikan mereka surat (P): Benar disini rumah saudara Homes? Ermetico Street No. 13?
H: Ya, Homes itu saya sendiri. Tapi disini bukan rumah saya. Saya hanya numpang sementara di depan terasnya.
P: Ada undangan untuk anda dan saudara Wattson.
H: Undangan? Dari siapa?
P: Hmmm… Kayaknya dari pengirim undangan itu. Baca saja dulu lah.
H: (Membaca surat) Apa kabar Homes? Ini dari aku, kamu mungkin tidak tahu namaku, tapi yang jelas dulu kita pernah bertemu. Aku mengundangmu datang ke villaku yang terasnya sedang kau jadikan tempat tinggal sementara ini. Kutunggu pagi ini jam 8. Salam, dari aku, kamu mungkin tidak tahu namaku, tapi yang jelas dulu kita pernah bertemu.
W: Undangan yang nggak jelas…
P: Sudah tahu kan? Sekarang bayar ongkos kirim, 5000 Euro.
H: 5000 Euro?! Apa kamu gila? Siapa yang punya uang sebanyak itu?! Lagipula jaman kapan kalau nerima surat harus bayar?
P: Setting cerita ini kan di eropa bertahun-tahun lalu. Halah, 5000 doang, buat beli bakso cuman satu mangkok.
H: Kamu pikir ini di Indonesia, 5000 dapat bakso satu mangkok?
P: Lho, bukannya sudah kubilang settingnya di eropa? Makanya pakai euro kan? 5000 aja lo…
H: Sudah, aku nggak minta dikirimi surat! Kembalikan saja suratnya!
P: Ini bukan surat masss, ini undangan. Dasar, siapa tahu undangan ini penting, rugi kamu kalau melewatkannya.
Seseorang yang tadinya akan memberi undangan meninggalkan mereka.
W: Eh, bukannya dia tadi yang nyuruh membaca undangannya ya?
H: Biarlah, yang penting kita diundang oleh yang punya villa ini jam 8. Sekarang jam berapa?
W; Jam 8.
H: Apa?! Dasar pengirim undangan telat!! Kita harus cepat-cepat Wattson!! Yang ngirim menunggu undangan kita jam 8!!
W: Eh, tapi bukannya…
H: Taksi! Taksi! Ayo Wattson, cepat!
W: Eh… Iya deh.
Sopir Taksi (S): Mau ke mana mas?
H: Ke villa… Eh… Wattson, villa yang terasnya kita tinggali sementara itu dimana ya?
W: Kita sekarang sudah berada di depannya, Homes.
H; Eh… Gitu ya… Gak bilang dari tadi kamu… Maaf ya pak sopir, nggak jadi.
S: Nggak papa, biaya pemanggilan taksi 5000 Euro.
H: …
Setelah berargumen nggak penting dengan sopir taksi, Homes masuk ke villa yang ternyata sangat mewah.
H: Villa ini mewah sekali…
W: Ya, benar. Kira-kira siapa yang punya ya?
Seseorang Misterius (SM): Aku yang punya.
H: Eh, siapa anda?
SM: Aku yang mengundangmu kesini, Homes.
H: Tunggu, sepertinya saya mengenal wajah anda.
W: Homes, dia kan yang…
H: Tunggu sebentar, anda pasti bandit yang ada di chapter 1!
W: Homes, bandit itu tidak sempat muncul.
H: Kalau gitu korban di chapter 2!
W: Dia sedang berbulan madu, kan?
H: Eee… Salah satu admin di chapter 3?
W: Kamu nggak pernah bertemu dengan admin yang lainnya.
SM: Sudah, sudah! Bukannya kamu sudah tahu dari namaku?
H: Namamu siapa?
SM: Aku adalah Seseorang Misterius yang muncul di chapter 3! (SFX: Doooong!)
H: Apaaaa!? (SFX: Doooong!)
W: Hei ini bukan OP! (SFX: Doooong!) Nggak pakai “Doooong!” (SFX: )
H: Bukannya kamu sudah mati?
SM: Belum, nggak ada cerita penguburanku kan? Oleh jalan, namaku Seseorang Misterius, panggil saja aku Steri.
H: Ada perlu apa anda memanggil kami kemari?
SM: Aku mengundangmu untuk tinggal di villa ini. (SFX: Doooong!)
Pada cerita sebelumnya, Homes dan Wattson diundang seseorang untuk tinggal di villanya.
W: Hei, cerita ini belum bersambung.
H: Anda benar-benar mengijinkan saya dan Wattson tinggal disini?
S (Seseorang Misterius atau bisa dipanggil dengan nama Steri): Ya benar. Tetapi sebelumnya perkenalkan penghuni villa ini terlebih dahulu.
P (Pilot): Namaku Pilot, profesiku sebagai pilot.
P (Painter): Namaku Painter, profesiku sebagai pelukis.
P (Penyiar Radio): Namaku Penyiar Radio, profesiku sebagai radio broadcaster.
P (Pemain Iklan): Namaku Pemain Iklan, profesiku sebagai commercial player.
H: Tunggu dulu, keempat orang itu memiliki nama yang aneh dan cara bicaranya mirip.
S: Tidak usah heran, mereka hanya pemain figuran, nggak seperti kita.
H: Jadi anda bukan figuran?
S: … That’s sexual harrassment.
W: Hei, sudah kubilang ini bukan OP.
Kemudian setelah beberapa saat…
P (Siapapun, nggak penting): AAAAAA!!!
H: Ada apa?!
P: Nona Steri, dia tergeletak di kamarnya.
H: Apa?! Bukannya dia tadi disini!?
W: Hei Homes, kamu tidak melihat kalimat “setelah beberapa saat”?
H: Itukan hanya beberapa saat!? Dan juga kenapa ia lagi yang jadi korban!?
W: … Aku nggak heran kok…
I (Inspektur): Homes, kamu ditangkap!
H: Apa?! Kenapa?!
I: Karena dimana ada kamu selalu ada kasus! Bukannya itu aneh?!
H: Bukannya lebih aneh lagi ada inspektur yang selalu tahu kejadian kriminal dan datang secara tiba-tiba?!
I: …
Kemudian cerita berlanjut.
I: Sudahlah, kali ini kamu kumaafkan. Yang penting sekarang kita harus tahu trik pelaku meminumkan wine beracun itu pada korban di ruang terkunci rapat.
H: … Apa? Kok inspektur bisa tahu detailnya? Bukannya kita belum ke TKP?
I: Itulah yang menyebabkan kamu tidak diterima di kepolisian. Cara berpikirmu terlalu lambat.
H: Eh itu namanya cara berpikir ya…
I: Panggil semua pelaku ke sini!
O (Polisi, karena jatah P sudah dipakai): Baik, inspektur!
I: Jelaskan identitas dan alibi kalian saat terjadi pembunuhan.
P (Tersangka, dari keempat orang yang berinisial P): Saya Pilot, ketika terjadi pembunuhan saya sedang mengendarai zeppelin seperti yang anda lihat disana.
Zeppelin yang ditunjukkan Pilot merupakan zeppelin iklan yang bertuliskan “Minumlah Wine! Terutama wine yang terletak di meja anda.”
H: Hei, iklan yang terdapat di zeppelin itu sedikit aneh.
I: Nggak penting, tersangka selanjutnya.
P (Tersangka, bukan Pilot pokoknya): Saya Painter, saya baru saja dari kamar korban sebelum pembunuhan itu, meletakkan lukisan yang dipesan korban.
Lukisan itu bergambar seorang wanita yang meminum wine yang terletak di mejanya.
H: Eee… Lagi-lagi ada sesuatu yang aneh disini.
I: Nggak penting ah, tersangka selanjutnya.
P (Tersangka lain, baca apa yang dikatakan saja lah): Saya Penyiar Radio, ketika terjadi pembunuhan saya sedang siaran talk show berjudul “Tren Minum Wine yang Terletak di Meja.”
H: … Kok gini ya?
I: Duh, dibilangin nggak penting, tersangka selanjutnya.
P (Tersangka yang tersisa, Pemain Iklan): Saya Pemain Iklan, ketika terjadi pembunuhan saya sedang siaran iklan siaran langsung. Kelihatannya iklannya ditayangkan di TV sekarang.
Polisi menyalakan TV dan melihat iklan yang intinya, seperti bisa ditebak, menyarankan seseorang minum wine yang terletak di meja.
H: … Nggak penting.
I: Benar. Sekarang semua telah menyatakan alibinya. Ini sulit sekali, bagaimana kita bisa tahu ajakan dari mana yang membuat korban meminum wine yang terletak di atas meja?!
W: Eee… Nggak mungkin kan? Dan kayaknya meskipun mungkin, pelaku tidak bisa dituduh melakukan pembunuhan dengan cara seperti itu.
H: Tapi kalau kalian semua membaca cerita Homes dari chapter 1, kayaknya kalian bisa tahu pelakunya.
I: Apa?! Jadi kamu tahu pelakunya?!
H: Kayaknya sih, alur pembunuhannya sama seperti cerita yang lalu-lalu.
Benarkah seperti itu?! Tunggu bagian akhirnya!
Pada cerita sebelumnya, Homes menyatakan kalau alur pembunuhan yang dilakukan sama seperti yang lalu-lalu.
W: Hei, cerita ini langsung rilis satu chapter tanpa terpotong-potong.
H: Berdasarkan pengalamanku, pelakunya pasti…
I: Pasti… Apa?
H: Bunuh diri.
I: Apa katamu?! Kamu pikir korban terlihat seperti orang yang akan bunuh diri sebelumnya? Padahal dia mengajakmu tinggal di villa ini, apa orang yang menantikan saat seperti ini akan bunuh diri.
H: Bukan bunuh diri sih, tapi… Tunggu dulu, bagaimana inspektur bisa mengetahui dia mengajakku tinggal di villa?
I: Sudahlah, bukan bunuh diri jadi apa?
H: Korban tidak ingin membunuh dirinya sendiri, paling-paling dia mati karena perbuatan bodohnya sendiri, seperti di warnet sebelumnya.
I: Hei, apa maksudmu berkata tanpa tanggung jawab seperti itu?!
S: Iya, siapa yang mati karena perbuatan bodohnya sendiri?!
H: Gimana ya… Tapi… Hei! Inisial S itu bukannya korban!?
W: Eh iya, bukannya kamu mati karena meminum wine beracun?
S: Beracun? Wine? Oh, maksudmu minuman Jazz Juice rasa anggur yang kadaluarsa ini?
H: Minuman… Jazz Juice? Typo?
S: Iya, pantesan habis minum ini agak pusing-pusing gimana gitu…
I: Jadi bukan kasus pembunuhan? Dasar, siapa yang memanggil polisi hanya untuk hal seperti ini?!
W: Bukannya kalian datang sendiri?
Kemudian keadaan menjadi seperti semula seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
H: Jadi… Apakah keinginan anda sebelumnya untuk mengajak saya tinggal di sini itu benar?
S: Benar sekali.
H: Syukurlah, setelah 3 chapter, akhirnya kita bisa tidur di tempat yang layak, Wattson.
W: Ya, aku turut senang untukmu, Homes.
S: Sebenarnya, tujuan aku untuk mengajakmu tinggal disini adalah…
H: Apa?
S: Aku sudah lama ingin tinggal bersamamu Homes…
H: Steri…
S: Aku mencintaimu Homes…
H: … Benarkah?
W: Hei, sejak kapan cerita ini jadi bergenre drama?
S: Tapi… Aku tidak bisa lama berada di sini…
H: Ada apa? Apakah masih ada efek samping dari minuman typo itu?
S: Tidak… Sebenarnya…
H: Kamu akan meninggal?
S: Tidak… Hei, kamu benar-benar menginginkan aku meninggal ya?
H: Tidak terlalu ingin sih… jadi kenapa?
S: Sebenarnya…
BRAKKK!!! Suara pintu yang dibuka dengan keras.
D (Debt Collector): Nona Steri, sudah saatnya anda meninggalkan villa ini.
S: Baiklah.
H: Eh, sebenarnya ada apa ini?
S: Eee… Villa ini disita karena aku terlalu banyak hutang.
H: APA?! Jadi… Selama 4 chapter…
Begitulah, akhirnya Homes dan Wattson didepak dari villa itu. Yah setidaknya mereka menjadi penghuni villa selama beberapa jam.
H: Tempat tinggalku… Tempat tidurku…
W: Sudahlah Homes, bukankah kita sudah biasa tinggal di luar?
H: Kenapa kamu bisa setenang itu? Kamu tidak menderita selama ini kita selalu tidur di luar?
W: Kita sudah ditakdirkan seperti ini. Yah setidaknya kali ini kita mendapatkan sesuatu.
S: Hei, aku bukan benda! Sudahlah dear, setidaknya sekarang kita bisa tinggal bersama. Dimana kita akan tinggal selanjutnya?
H: Duh, ternyata mitos mengenai 4 sebagai angka sial itu benar…
Dan seperti itulah kisah Homes kali ini berakhir.
Steri has joined Homes’ party (SFX: Teret teret tereeeet!!).
TAMAT

1 comment
Comments feed for this article
March 24, 2008 at 1:03 am
… « Sastra Kontemporer
[...] Sherlook Homes Chapter 4 [...]