Author’s Notes:
Cerita yang akan anda baca ini (jika anda memutuskan untuk membacanya) tidak menyadur dari cerita manapun, jika ada kesamaan tokoh, tempat, atau kejadian itu adalah hal yang lumrah terjadi di dunia entertainment, harap maklum.
Producer’s Notes:
Karena saya telah memproduseri cerita ini (meskipun gratis), ijinkan saya menyampaikan 1 patah 2 patah kata. Tapi kata itu satuannya patah apa buah ya? Lupakan lah, saya hanya ingin mengucapkan selamat membaca.
Editor’s Notes:
Cerita ini disalin dari… Ups, maksud saya di… di… di salon! Cerita ini di salon… Cerita kok di salon? Aneh-aneh saja kamu ini.
Progammer’s Notes:
Tunggu, sejak kapan cerita ada programmernya?
Parking Boy’s Notes:
Eh, apa yang harus ditulis disini?
Sudaaaaah! Kok semuanya jadi bikin notes? Bicara soal notes, saya jadi teringat tentang cerita yang sangat menyentuh, yaitu Alyan’s Notes, begini ceritanya…
CATATAN ALYAN
Tunggu sebentar! Kok catatan?! Harusnya buku harian! Tapi… Notes itu kan memang catatan ya? Kalau gitu ceritanya Alyan’s Dairy Book.
BUKU HARIAN ALYAN
Alyan adalah seorang gadis SMU yang periang, ia cantik, pintar, lihai bermain basket, bermain musik, dan… Tidak perlu disebutkan semuanya, karena semuanya akan sirna. Alyan tidak tahu kalau hidupnya tidak seindah yang dia inginkan. Cerita ini dimulai ketika makan pagi keluarga Alyan.
“Alyan, tolong ambilkan ayah segelas air.”
“Baik ayah.”
Alyan kemudian mengambil air di sumur dan mengisi gelas ayahnya. Tapi tiba-tiba saja ia terjatuh.
“Alyan? Kenapa?”
“Ah… Alyan baik-baik saja kok bu.”
“Nggak mungkin! Kamu nggak boleh (mungkin?) baik-baik saja, kamu kepleset nggak jelas gitu, harus diperiksakan ke dokter.”
Alyan dan ayahnya pergi ke dokter, sementara itu adik Alyan, siapa ya namanya? Um… Lyana saja. Lyana pergi ke tempat kejadian dan ia juga terpeleset.
“Aduh, di dekat sumur banyak lumutnya gini, pantas saja kakak terjatuh.”
Setelah sampai di klinik dokter, Alyan diperiksa dokter dan hasil pemeriksaannya langsung keluar.
“Bagaimana dok? Apa penyakit anak saya?”
“Anak anda terkena penyakit attacksia.”
“Attacksia?”
“Oh, tenang saja, saya dokter spesialis attacksia, jadi semua pasien yang saya periksa pasti penyakitnya attacksia. Masak orang nggak kena attacksia diperiksakan ke saya? Kan aneh ya?”
“Iya, ada-ada saja itu dok. Tapi, beneran anak saya kena attacksia?”
“Iya! Anda nggak percaya?! Saya dokter spesialis attacksia!”
“Oh, baik dok, saya percaya. Tapi attacksia itu apa?”
“Attacksia, kalau dilihat dari namanya, penyakit itu menyerang sia.”
“Apa? Tapi kan nama anak saya Alyan dok!?”
“Ya, mungkin ada lya-nya itu. Biasa lah, kita kan hidup di Indo-tiiit-, salah-salah dikit biasa lah.”
“Oh iya ya, apakah itu bahaya dok?”
“Um… Bagaimana saya mengatakannya ya?”
“Ada apa dok?”
“Anu…”
“Katakan, dok!? Ada apa dengan anak saya!?”
“Hidup anak anda nggak lama lagi.”
“Apa?!?! Anda bohong kan!?”
“Saya tahu ini sulit diterima, tapi…”
“Hasil periksa dokter pasti salah! Saya mau periksakan anak saya ke dokter lain, permisi!”
“Ah, tapi…”
Ayah Alyan pergi dari klinik dengan kesal.
Tidak lama kemudian dokter itu memanggil ayah Alyan.
“Mas, anaknya ketinggalan!”
“Oh iya, ayo Alyan, kita ke dokter lain!”
Alyan dan ayahnya pergi dari klinik. Setelah mereka pergi, dokter itu terlihat merenung.
“Kasihan mereka, tapi mau bagaimana lagi? Masak saya mau bilang saya nggak tahu apa-apa? Apa jadinya dengan imej saya?”
Kemudian mereka tiba di klinik lain dan memeriksakan Alyan, hasilnya juga langsung keluar.
“Bagaimana hasilnya, dok?”
“Hmmm… Bagaimana hasil sebelumnya?”
“Ketika kami periksakan di dokter… Siapa namanya ya? Yang di TV itu… Ups, bukan, bukan! Namanya… Stiff, katanya anak saya kena attacksia, apa itu benar dok?”
“Benar sekali, lebih baik kalian terus konsultasi dengan dokter Stiff itu. Dia ahlinya.”
“Jadi… Benar anak saya… Terima kasih dok.”
Ayah Alyan meninggalkan klinik dengan lemas, Alyan ketinggalan lagi, dia langsung nyusul. Dokter itu prihatin.
“Semoga saja dokter Stiff itu benar-benar ahli. Masak saya mau bilang saya nggak tahu penyakitnya apa? Bisa bangkrut saya.”
Ayah Alyan kembali ke klinik dokter Stiff dengan lemas.
“Lho, kok kalian kembali lagi? Eh, maksud saya gimana hasilnya?”
“Anda benar dok… Mengapa ini terjadi pada anak saya?”
“Tabahlah mas, semua itu ada yang mengatur.”
Sementara itu Alyan yang tidak tahu apa-apa keliling klinik dan bertemu dengan anak yang bermain bola.
“Eh main sama kakak saja yuk?”
“Oke deh kakak, ambilin bolanya gih…”
Alyan mengambil bola itu dan tiba-tiba dia terjatuh lagi.
“Kakak kenapa?”
“Nggak tahu, tiba-tiba jatuh sendiri.”
Padahal Alyan menginjak kulit pisang.
“Kakak kayak ayah aku deh. Dulu ia juga gitu.”
Kemudian orang tua yang lumpuh duduk di kursi roda datang.
“Arin (namanya ngarang saja lah), ayo pulang.”
“Oke deh ayah. Arin pulang dulu ya, kak.”
Alyan melihat kondisi ayah Arin dan bertanya pada diri sendiri, apakah aku akan seperti itu?
Arin dan ayahnya keluar dari klinik dan berbincang-bincang.
“Tadi siapa, Rin?”
“Kakak yang juga periksa di klinik itu.”
“Masih ada juga ya orang yang percaya sama dokter itu. Kalau saja ayah nggak terikat kontrak ketika awal periksa, ayah bakalan keluar. Gara-gara dokter itu ayah jadi lumpuh kayak gini.”
“Sabarlah Yah… Siapa tahu ayah bisa menang kontes balap kursi roda 250 cc.”
Apakah dokter itu penipu?
Bagaimana nasib Alyan nantinya?
Dan bukannya seharusnya cerita ini sedih dan menyentuh?
Meskipun Alyan telah divonis terkena penyakit yang katanya mematikan bernama attacksia, ia masih ingin terus menjalani hidupnya.
“Bu, Yah, meskipun aku terkena penyakit ini, aku tetap ingin sekolah.”
“Tapi Al, apa gunanya? Toh kamu akan meninggal sebentar lagi, sayang banget uangnya kalo buat bayar sekolah kan? Mending buat nonton, ya kan Bu?”
“Ayah! Ayah ini apa-apaan sih! Kok buat nonton!? Buat dinner berdua aja kan lebih nikmat..”
“Iya juga Bu, ibu ini memang paling mengerti ayah deh..”
Alyan yang melihat kelakuan orang tuanya merasa kesal, tapi bagaimana lagi, hal itu memang benar, buat apa sekolah..
Tiba-tiba hal Lyana, adik Alyan, pulang dengan terisak-isak.
“Ada apa, Ly?”
“Bu, Yah, aku malu terus diejek sama teman-teman di sekolah! Aku malu punya kakak yang cacat kayak kak Alyan!”
“Lyana..”
“Pokoknya aku nggak mau sekolah!”
“Lyana!”
“Aku mau kerja saja jadi bintang film (seenaknya saja)!”
“Lyana, cukup!”
Ayah Alyan menghardiknya dengan cukup keras. Suasana disana menjadi hening.
“Kalau kamu ngomong, jangan sambil makan. Udah cukup makannya.”
“Oh iya, Yah, lupa.”
“Bagaimana lagi, Ly, ibu juga malu terus disindir tetangga, ayahmu diejek di kantornya, pamanmu digunjing teman-temannya, kakekmu jadi bahan pembicaraan di desa, bahkan buyutmu sampai jadi bahan berita di alam sana (padahal nggak, terlalu berlebihan). Tapi tunggu dulu, kok ada yang tahu kalau kakakmu cacat?”
“Gimana nggak, ada poster gede dekat sekolah Lyana, tulisannya ‘Alyan, kakaknya Lyana, cacat, lumpuh, dan mau mati. Ayo semua ejek Lyana. -Dari dokter yang mendeteksi penyakit Alyan-’.”
“Apa?! Berani-beraninya dokter itu, tapi siapa ya dokter yang mendeteksi penyakit Alyan? Yang aku tahu cuma dokter yang memeriksa penyakit Alyan dan memvonisnya attacksia.”
“Nggak tahu juga Yah..”
“Sabar saja ya, Ly. Cepat lambat kakakmu bakal meninggal kok..”
Pembicaraan di ruang keluarga itu nggak bikin Alyan jadi tenang, malah tambah panas.
Esoknya Alyan memaksa mendaftarkan diri ke SMU dekat rumahnya, SMU Harapan Hidup. Untungnya disana nggak ada yang tahu penyakit Alyan, jadi Alyan bisa sekolah dengan tenang dan ia juga bisa menjadi ace di tim basket wanita sekolahnya.
Suatu saat ketika ada pertandingan basket, Alyan ikut. Ketika ia akan melakukan slam dunk, kakinya tersenggol dan ia jatuh.
“Prittt!”
Pinalti untuk tim basket SMU Harapan Hidup. Dari saat itu Alyan berpikir, enak juga dapat pinalti gini, mendingan aku sering pura-pura jatuh ah.
Hari terus berlanjut dan akhirnya tim basket SMU Harapan Hidup menang kompetisi berkat Alyan yang kini dijuluki Diving Princess.
Ada seorang siswa di SMU Harapan Hidup yang penasaran dengan Alyan. Namanya Mousse, ia heran kok Alyan sering jatuh gitu. Ketika ia bertemu Alyan ia melihatnya terjatuh.
“Ah Alyan, kamu nggak papa?”
“Nggak papa kok? Kamu siapa?”
“Aku Mousse, teman kamu sekelas, kamu beneran nggak papa? Aku liat kamu sering jatuh gitu.”
“Err.. Nggak, biasa kok, aku sering keseleo.”
“Hmmm.. OK deh kalau gitu.”
Akhirnya Alyan dan Mousse berteman baik. Mereka sering bermain bersama, main apa nggak jelas juga.
Lama-kelamaan para siswa terganggu juga dengan Alyan yang suka jatuh itu. Bukannya masalah jatuhnya itu sih, tapi seringkali Alyan jatuh menimpa orang, jatuh sambil melempar batu, jatuh sambil mengambil uang, jatuh sambil malak (ngompas-red) orang, bahkan jatuh sambil mencuri barang.
Para wali murid memprotes Alyan di depan kepala sekolah, ibu Alyan sebagai wali Alyan diserang bertubi-tubi dengan keluhan mengenai anaknya itu.
“Sudah! Sudah! Kalau kalian ingin mengusir Alyan, usir saja! Untung-untung juga kalau sekolah bisa memberikan kompensasi.”
Kepala sekolah pikir bakalan runyam kalau ibu Alyan menuntut macam-macam.
“Sudahlah, Alyan masih boleh sekolah, asalkan ada yang menjaganya.”
Ada yang menjaganya – siapa lagi kalau bukan Mousse yang dimanfaatkan.
Belakangan ini penyakit Alyan semakin parah. Bukan attacksia-nya itu, tapi penyakit suka menyusahkan orang-nya itu yang tambah parah. Ia mengaku sakit lumpuhnya semakin parah ke Mousse.
“Mousse, aku pingin main basket nih.”
“Alyan, kakimu kan masih sakit. Main basket di PS saja ya..”
“PS? Hari gini? Aku mau Wii!”
“Oke, oke, Wii kan? Aku beli dulu ya..”
Kemudian Mousse datang membawa Wii.
“Tada! Wii baru siap dimainkan!”
“Nggak ah, nggak jadi, aku mau XBOX 360 saja!”
“Err.. Oke XBOX 360 segera datang.”
Kemudian Mousse datang membawa XBOX 360.
“Ini XBOX 360-nya, susah banget ndapetinnya.”
“Gimana ya? home console gitu nggak kul, aku mau Atomiswave (atau apalah namanya)!”
Kemudian Mousse datangkan Atomiswave (atau apalah namanya).
“Arcade gitu nggak nyaman, datangkan aku PS4!”
“Tapi kan itu belum ada.”
“Ya suruh buatin si Sony itu!”
Dan begitulah susahnya menjadi slave-nya Alyan, meskipun akhirnya mesin gamenya udah fix, Nintendo Entertainment System (NES).
“Nggak seru ah, nggak ada cheers-nya.”
“Aku aja yang cheers kalo gitu. Alyan! Give me an A! Give me a L, Give me a…”
Sudahlah, aku nggak tega lihat Mousse. Alyan malah meminta Mousse menikah dengannya meskipun Mousse tahu Alyan penuh akal bulus.
Berita ini sampai juga ke telinga ayah Mousse.
“Mousse, pokoknya ayah nggak setuju kalau kamu mau menikah sama anak cacat itu!”
“Pa, plis! Alyan itu nggak seperti yang papa pikirkan! Kalau Alyan benar-benar cacat sih aku juga senang, aku setuju juga sih kalau aku nggak menikah sama Alyan, tapi ayah nggak mungkin ngerti masalah ini.”
Mousse berjalan menuju kamarnya.
“Apa maksudmu Mousse, Mousse! Dengerin papa dulu!”
Papa Mousse heran, ada apa dengan Mousse sebenarnya.
Akhirnya papa Mousse mendatangi dokter Stiff untuk mengetahui bagaimana Alyan sebenarnya.
“Dokter, sebenarnya ada apa dengan Alyan? Bagaimana mungkin Mousse mau menikah dengan Alyan?”
“Anda tidak tahu apa-apa bukan? Alyan adalah gadis yang fantastis! Jika anda mengetahui kisah hidup dan perjuangannya, anda pasti akan terkesan dengannya.”
“Maksud anda?”
“Coba anda bawa ini.”
Buku itu seperti buku harian, papa Mousse membuka halaman pertama buku itu. Ia kemudian membaca satu-persatu kata di buku harian itu.
“Biologi Untuk Kedokteran, cetakan kedua tahun 2006, Prof. Freudren Kealsche S.Dok,M.Dok, Penerbit Usus 12 Pustaka. Lho, kok kayak buku diktat ya? Apa maksudnya ini?”
“Itu buku diktatnya Mousse, titip kembalikan ya..”
“A-Apa?”
“Ya gitulah, pintu keluarnya disana, saya sibuk, jadi kalau nggak ada urusan mohon anda meninggalkan ruangan ini.”
Papa Mousse meninggalkan ruangan dengan bingung. Dokter itu kemudian bicara sendiri.
“Dasar orang aneh, nanya Alyan kok ke aku.. Siapa juga Alyan itu? Tapi masak aku mau bilang aku nggak tahu? Apa jadinya dengan image aku?”
Papa Mousse kebingungan dan akhirnya berkata ke Mousse yang sudah siap-siap dengan keberangkatannya ke Jerman.
“Mousse, kalau kau benar-benar mau menikah dengan Alyan, menikahlah. Terserahlah.”
“Tapi Pa, aku kan mau ke Jerman!?”
“Kamu bisa ke Jerman kapan-kapan, tapi bertemu dengan gadis seperti Alyan itu tidak bisa setiap saat.”
Mousse yang penurut itu akhirnya menyetujui juga usulan papanya.
“Kalau gitu Mousse ke rumah Alyan dulu ya, Pa..”
Ibu Mousse berbincang-bincang dengan suaminya.
“Apa benar papa setuju? Maksud pada dengan gadis seperti Alyan itu apa?”
“Nggak tahu ah, kata dokter Stiff dia fantastis, aku sih nurut aja. Dokter Stiff kan orang yang hebat.”
Kasihan mereka, mereka tidak tahu kalau dokter Stiff itu orang nggak bener.
Akhirnya pernikahan Alyan dan Mousse berlangsung. Tetapi tiba-tiba Alyan pingsan.
“Alyan! Kamu beneran pingsan kan?!”
“Bicara apa kamu… Mousse…”
“Alyan! Jadi kamu nggak pingsan?”
“Jangan bicara… Gitu ah…”
“Mengapa?!”
“Shh… Mungkin ini nggak lama… Aku ingin kalau… Kita punya anak… Anaknya kamu yang ngurus ya… Males aku… Udah ah… Selamat tinggal…”
Alyan menutup matanya untuk terakhir kalinya.
“Alyan!! Akhirnya…”
Suasana menjadi hening, entah sedih, kecewa, atau senang seperti Mousse. Tapi itu tidak lama, karena di televisi ada berita yang mencengangkan. Dokter Stiff ditahan karena telah melakukan penipuan ke berbagai pasiennya. Alyan yang mendengar itu hidup lagi (memang sebenarnya dia belum meninggal).
“Mousse! Kamu dengar itu kan? Aku telah ditipu! Aku sebenarnya nggak papa! Hore!!”
Alyan ternyata memang benar tidak mengalami apa-apa. Mousse yang mengetahui hal ini tidak percaya, ia harus selamanya bersama dengan Alyan sebagai suaminya.
Karena Alyan nggak jadi meninggal, di rumah Mousse diadakan pesta (atas kemauan keluarga Alyan) yang menyediakan banyak minuman (keras), karena itu cerita ini juga dinamai ‘One Litre of Beers’. Bagaimanapun juga tokoh utama cerita ini adalah Alyan dan Alyan nggak jadi meninggal, nggak peduli dengan Mousse, dia cuma figuran. Jadi, bukankah cerita ini berakhir dengan happy ending?

No comments yet
Comments feed for this article