Chapter 1
CHAPTER 1: THE HARDSHIP OF THE RING
Pinokio berada di tengah hutan yang, tentu saja, gelap. Dia yang, mungkin saja, ketakutan menangis dan menyebut nama kakeknya Gepetto.
“Aku nggak nyebut nama kakek kok, aku hanya bilang kakeeeek…”
Pinokio sendiri nggak menyangka ia bisa ditinggalkan di sini. Mungkin terjadi sesuatu di rumah Gepetto. Bisa saja, Pinokio diculik orang kemudian dibuang ke hutan (terus kenapa diculik?).
“Eh, ini ada pesan dari Gepetto.” Peri biru tiba-tiba memberi pesan lewat SMS.
“Aku pergi untuk menikah dengan istriku, kalau pingin punya anak ya nikah, bukan menunggu peri datang dan mengubah Pinokio jadi manusia. Terus nanti aku dan Pinokio harus dimakan ikan paus lagi, duh capek deh.”
… Lupakan saja.
Pinokio sudah berjalan jauh, hari menjadi semakin gelap, meskipun nggak begitu keliatan bedanya di hutan yang sudah gelap ini.
“Gelap sekali, aku takut ada binatang buas… Burung pelatuk… Rayap…”
Namanya juga masih setengah kayu, wajar kalau Pinokio merasa takut seperti itu. Tapi, takut sama burung pelatuk dan rayap nggak keren banget.
“Kalau gini caranya, aku harus ngumpulin kayu buat dibakar…”
Sudah sedetikan Pinokio mencari, kayu bakar tidak kunjung didapat.
“Nasibku… Apakah aku harus membakar diriku sendiri?”
Sambil pasrah Pinokio mengambil flame thrower dari tasnya dan menyalakannya. Tetapi tiba-tiba ada suara mbah-mbah.
“Wahai anak muda, kau adalah anak muda yang terpilih…”
“Eh, suara apa itu ya? Anak muda? Saya masih kecil mbah, umur saya belum genap satu tahun. Baru berapa hari ya? Kalau dihitung sejak rilisnya bagian prolog cerita ini…”
“Nggak penting ah, disana nggak ada orang lain kan? Berarti kamu yang terpilih.”
“Terpilih apa mbah? Karakter utama cerita terfavorit?”
“Hush! nggak ada award kayak gitu disini! Kamu terpilih untuk menjaga cincin legendaris ini agar tidak jatuh ke tangan orang jahat. Cincin ini legendaris karena…”
“Cincin? Cincin yang mana sih mbah? Mbah juga dimana?”
“Hush! Jangan memotong pembicaraan orang tua! Sampai dimana tadi?”
“Mbah belum cerita apa-apa kok…”
“Oh iya, aku belum cerita ya… Sampai dimana tadi?”
“Belum cerita mbah…”
“Hush! Nggak sopan kamu! Aku juga tahu kalau aku belum cerita! Dasar anak muda sekarang, sukanya keburu-buru… Cerita apa ya? Tunggu dulu, masak orang tua gini disuruh cerita! Memang aku guru TK?!”
“Cincinnya mbah… Katanya legendaris…”
“Oh itu, iya, cincin itu legendaris. Cincin itu memiliki kekuatan yang besar sehingga akan berbahaya kalau jatuh ke tangan yang salah. Tangan yang benar itu… Tangan kanan ya? Tangan kiri nggak sopan.”
“… Terus dimana cincin itu?”
“Cincinnya? Sebentar… Tunggu dulu… Mmmm… Kok nggak ada ya? Hei anak muda! Kau kemanakan cincinnya?”
“Lho, saya kan nggak tahu mbah…”
“Alasan! Dasar gegabah! Bisa berbahaya kalau orang jahat menemukan cincin itu! Cepat cari!”
“Tapi kan…”
“Cepat!!!”
“Eee… Baik!”
Pinokio kemudian pergi mencari cincin itu yang dia sendiri tak tahu seperti apa bentuknya, apa kekuatannya, warnanya gimana, umurnya berapa, makannya apa, tidurnya dimana, sama siapa, cewek atau cowok, bawa mobil apa, modelnya gimana, seperti apa bentuknya, apa kekuatannya, warnanya gimana…
Sepertinya aku pernah merasakan hal seperti ini…
Ada yang bawa tali sama lakban?
1 Comment »
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
alie said,
November 30, 2007 @ 4:33 am
Tolong aku carikan cerita dongeng sebelum tidur.Siapa saja boleh bantu saya.E_mail alie_tower@yahoo.com