Chapter 2
CHAPTER 2: A SMALL HANDMADE COOKIE, CHOCOLATE FILLED
Pinokio tetap saja tidak tahu harus pergi ke mana, pinginnya ke kota tapi kok disuruh nyari cincin. Tapi mungkin saja cincin itu ada di kota, sambil menyelam minum air PDAM. Ketika di perjalanan menuju kota (emang tahu?), Pinokio menemukan jejak tertinggal berupa remahan biskuit.
“Mungkin saja remahan ini menunjukkan tempat cincin, lumayan, sambil menyelam makan biskuit.”
Pinokio kemudian mengikuti jejak biskuit itu dan sampailah ia di sebuah tenda.
“Hei, apa yang kau lakukan!? Kamu makan semua remahan biskuit itu?!”
“Eh iya, nggak boleh ya?”
“ARGH! Itu adalah jejak yang kutinggalkan untuk menarik perhatian cewek cantik!”
“Cewek? Kok…”
“Kamu nggak tahu ya? Itu remahan biskuit mahal! Biskuit jutaan men! Bukan biskuit yang kalau kamu beli bisa dapat duit jutaan!”
“Gitu ya? Kukira biskuit itu bisa mengarah ke sebuah rumah yang terbuat dari kue kayak yang ada di cerita dongeng anak-anak.”
“Ah aneh-aneh saja, realistis men! Hari gini cerita dongeng mana laku? Coba kamu lihat suatu blog yang berisi cerita dongeng yang alamatnya kalau nggak salah ada revealed-revealednya gitu, mana ada yang ninggalin komentar? Paling cuma beberapa saja.”
“… Kok kayaknya tahu ya?”
“Namanya rumah ya dari bata, semen, atau apalah. Kalau yang kayak gitu ada tuh di sana.”
“Di sana mana mas?”
“Gini, jalan terus saja. Sampai pertigaan ambil jalan ke timur, di dekat pohon besar masuk ke jalan kecil. Terus saja lagi, nanti ketemu rumahnya.”
“Oh gitu ya mas? Terima kasih mas.”
“Sama-sama.”
Kemudian Pinokio pergi menuju rumah… Rumahnya siapa ya? Nggak penting ah, itung-itung sambil menyelam bertamu ke rumah orang.
Sesampainya di tempat tujuan, Pinokio kaget. Ternyata rumahnya terbuat dari… Kayu!
“Aku kaget… Rumah itu terbuat dari kayu… Kejam, sudah berapa saudaraku yang dibunuh dan dipotong-potong! Aku tidak terima…”
Pinokio kemudian masuk rumah itu dengan paksa, tentunya dengan menekan bel terlebih dahulu.
“Permisi… Ada orang di rumah?”
Tidak lama yang punya rumah keluar. Terlihat seorang penyihir yang menyeramkan.
“Ada apa ya nak?”
“Ka… Kamu… Kamu penyihir?”
“Iya, kenapa?”
“Eh nggak, cuma tanya saja. Kenapa kamu membuat rumahmu dari kayu?”
Setelah mendengar pertanyaan Pinokio, penyihir itu menangis.
“Sebenarnya dulu rumahku bukan terbuat dari kayu, tapi dari kue hasil sihirku dari macam-macam benda, kebanyakan monster malah. Tapi tak sengaja aku menyihir kedua anakku jadi kue dan aku nggak tahu kue yang mana dari anak-anakku. Aku tidak bisa lagi melihat kue jadi aku membuat rumah dari kayu… Oh iya, mau bolu coklat ini? Enak kok, nyam, nyam.”
“Nggak penting sih, tapi kenapa nggak membuat dari batu bata saja?”
Penyihir itu kembali meneteskan air mata.
“Batu bata mahal…”
“… Oh iya, apa kamu melihat ada cincin legendaris di sekitar sini?”
“Cincin? Mungkin ada di rumah kueku… Rumah kue… Anakku!!!”
Penyihir itu menangis terisak-isak.
“Duh, baiklah. Apa yang bisa aku bantu?”
“Kamu mau membantu? Baik sekali! Kalau begitu, taburkan bubuk pengubah kue ini ke kue anakku.”
“Anak ibu seperti apa?”
“Anakku… Kecil dan manis…”
“Ya… Terus?”
“Dilapisi coklat…”
“Dilapisi coklat… Tunggu, itu kan kue! Aku tanya ciri-ciri anakmu!”
“Itu kue anakku… Aku… Aku… Aku sudah tidak bisa melihat kue lagi…”
“Uh, baiklah…”
Pinokio kemudian menuju rumah kue, lumayan, sambil menyelam makan tiramisu coperta con marcio pescare salsa.
Sesampainya di rumah itu, Pinokio takjub, kuenya banyak sekali.
“Konsentrasi… Temukan kue anak-anak penyihir itu. Ingat-ingat apa yang telah dikatakannya.”
“Anakku… Kecil dan manis… Dilapisi coklat…” Ini perkataan penyihir yang lalu.
“Hmmm… Bila dilihat ada puluhan kue seperti itu. Coklatnya coklat putih atau coklat biasa ya?”
“Coklatnya biasa…” Ini juga perkataan penyihir yang lalu.
“Coklat tabur atau cair ya?”
“Coklat cair…” Ini masih perkataan penyihir yang lalu.
“Kuenya bulat atau kotak ya?”
“Kuenya… Tunggu dulu! Jangan kebanyakan flash back! Lagipula kapan aku pernah ngomong seperti yang tadi tadi?!” Ini bukan perkataan penyihir yang lalu kayaknya.
Akhirnya PInokio menemukan 2 kue yang dimaksud, tapi masih ada masalah…
“Aku sudah menemukan 2 kuenya. Tapi kue mana yang dari anak pertama dan yang mana dari anak kedua ya?”
Masalah nggak penting…
“Sudah ah, pusing. Aku kembalikan saja dua-duanya. Cuek sajalah.”
Ya memang harusnya seperti itu kan?
Pinokio menaburkan bubuk pengembali dan kedua kue itu jadi anak-anak penyihir.
“Eh? Aku kembali jadi manusia!”
“Eh? Aku kembali jadi manusia! Juga!”
“Untunglah…”
“Eh, kamu yang mengembalikan wujud kami ya? Terima kasih…”
“Terima kasih… Juga.”
“Nggak apa-apa kok, btw, kalian tahu nggak letak cincin legendaris?”
“Oh cincin itu? Jadi kue disana tuh.”
“Disana tuuuh.”
“Baiklah, terima kasih.”
Pinokio kemudian mengubah kue dari cincin itu dengan bubuk pengembali. Ajaib! Kue bolu itu menjadi… Donat?!
“Apa?! Donat?!”
“Iya, penyihir itu mengubah donat itu jadi kue tar. Penyihir itu nggak suka donat.”
“Kalau aku suka donat!”
“Jadi… Aku sampai mempertaruhkan nyawa (berlebih-lebihan) hanya untuk… Donat?!”
Meskipun dari kayu, raut muka Pinokio bisa berubah juga.
Tiba-tiba pintu rumah kue ada yang membuka.
“Hansel? Gretel? Kalian sudah kembali jadi manusia?”
“AAAH! Penyihir! Lari!”
“LARI?! Lari kemana?!”
“Eh tunggu dulu, meskipun aku penyihir, aku ibu kalian!”
“Eh iya tah? Ah iya! Aku lupa! Gretel dia ini ibu kita!”
“Eh iya tah? Aku sudah terlanjur menaburkan bubuk ini ke semua kue…”
“APA??!!”
“APA??!!”
“APA??!! JUGA??!!”
Kue itu semua berubah, kebanyakan jadi monster. Ada naga, golem, pixie, mocchi, takoyaki, onigiri, toragari, dan lain-lain.
“Bagaimana ini? Anak kayu muda?!”
Pinokio udah pergi dari sana, dari tadi, dia udah nggak mau tahu keadaan disana. Jadi apa yang terjadi pada Hansel, Gretel, dan ibunya? Siapa yang mau tahu?