Di kota Persia hiduplah seorang orang yang bernama Ali Baba (sebelum remake sih dia tinggal di Bagdad). Hidupnya miskin, makanan sehari-harinya singkong alias telo (kasihan) yang dimasak dengan pressure cooker Italia disiram saus asam manis Thailand dan diberi keju asli Swiss, dengan ditambah sedikit matsutake, kaviar, dan wine Prancis keluaran 1980 (sebelum remake sih dia tetap kayak gitu). Ia hanya bekerja sebagai penebang kayu di hutan (kasihan) dan menjualnya secara ekspor ke negeri tetangga dan membuat sebuah usaha kecil-kecilan, yaitu pengolahan kayu menjadi mebel, dekorasi, perumahan, senjata, dan lain-lain, yah namanya saja kecil-kecilan, cabang pabriknya nggak lebih dari 100 unit di setiap negara (sebelum remake sih nggak ada yang kayak gini… Ya nggak usah ditulis lah).
Ia memiliki seorang kakak bernama Kasim yang pelit. Kasim sangat kaya raya. Uangnya banyak didermakan buat korban perang Irak. Ali Baba pernah mencoba pinjam duit tapi selalu ditolak dengan alasan tidak ada surat keterangan tidak mampu dari pak RT.

Suatu ketika Ali pergi ke hutan untuk menebang kayu (sebelum remake sih dia ke padang pasir untuk beli air isi ulang… Sudah ah, nggak usah ditulis kayak gini), tetapi ia tidak menemukan satu pohon pun sampai ia kelelahan. Lalu tak sengaja lewat depan rumahmu, kumelihat ada tenda biru.. Lho itu kan lagunya Desy Ratnasari. Tak sengaja Ali melihat segerombolan perampok. Lho kok tahu kalau mereka perampok? Iya, lha Ali sudah baca naskahnya. Perampok itu membawa sekarung perhiasan emas dan VCD porno.
“Waduh, sudah lama nggak lihat nih!”
PS: Terakhir kali dia menonton VCD Ali Baba dan 40 Penyamun X.

Sudah ah, ratingnya nanti turun dan nanti berhenti di tengah cerita.

Kemudian ia mengikuti perampok tersebut menuju sebuah gua.
“Open Sesame!”
Tiba-tiba pintu gua terbuka dan perampok itu menaruh barang belanjaannya di sana. Setelah itu para perampok berencana pergi ke Pizza Hut untuk pesan sensasi delight ber-40.
“Shut Sesame!”
Dan pintu gua tertutup.

Setelah perampok itu sudah gak kelihatan, Ali mendekati gua tersebut.
“Wah canggih, pintu dengan speech recognizer!”
“Open sesame!”
Pintu tidak bereaksi.
“Open Sesame!” (mungkin huruf s pertama pada sesame harus kapital)
Pintu tetap tidak bereaksi. Untuk mereaksikan pintu yang terbuat Magnesium 1000 kg, dibutuhkan 100 l Magnesium Hidroksida 1 M. Berapakah konsentrasi Magnesium dalam larutan?

(SPMB 1001)

Karena Ali nggak tahu Ar Magnesium dan tabel periodik masih belum ditemukan, Ali jadi gagal masuk Teknik Informatika ITS (apa hubungannya?).
“Sam, Sesame buka’en ta..”
Meskipun Ali sampai menangis terisak-isak, pintu tetap tidak terbuka.
“…”
Dan meskipun Ali sampai menangis terasik-asik, pintu tetap tidak terbuka.
Ali akhirnya menyerah dan membaca scriptnya. Ia menemukan sesuatu.
“Open Sesame!”
Kali ini nggak pakai ‘(mungkin huruf s pertama pada sesame harus kapital)’.

Ali Baba yang menyangka gua itu gelap, menyeramkan sekaligus membosankan, sangat terkejut karena apa yang diduganya benar.
“Duh kuduga diluar dugaan.”
Tetapi di sudut gua itu ia melihat harta melimpah, koin emas, patung emas, ukiran emas, kain emas, makanan emas…
“Wow, ini tidak bisa dipercaya!”
Ali Baba tidak mempercayainya, jadi ia langsung keluar dari gua.
“Shut Sesame!”

Sepulang dari gua, ia menceritakan semua hal itu pada istrinya.
“Apa?! Kamu tidak mengambil harta itu?!”
“Iya, nggak baik ah mencuri milik orang lain…”
“Tapi terus buat apa aku menggali lubang ini?!”
Istri Ali telah mempersiapkan lubang untuk menyimpan harta curian Ali, tetapi karena nasi telah menjadi bubur, dimakan saja.

Bukan itu maksudnya yaa… Nasi telah menjadi bubur adalah ungkapan yang artinya jangan memasak nasi terlalu lama.

Tapi bukannya kalau masak nasi terlalu lama nasinya jadi hangus?
Benar juga, jadi bagaimana sebenarnya membuat bubur itu?
Kayaknya hampir sama seperti menanak nasi, tetapi takaran airnya dibanyakkan.
Ya, terus kalau buburnya udah jadi dikasih sedikit garam biar gurih.
Nggak mesti yo… Kalau mau bubur susu yang manis nggak usah dikasih garam.

Sebelumnya kita menceritakan apa ya?
Ah iya, istri Ali telah mempersiapkan lubang untuk menyimpan harta curian Ali, tetapi karena nasi telah menjadi bubur, dimakan saja.

Bukan itu maksudnya yaa… Nasi telah menjadi bubur adalah ungkapan yang artinya jangan memasak nasi terlalu lama.

Hei! Jangan diulangi lagi!

Karena sudah terlanjur bikin lubang, istri Ali terpaksa membuang sampah ke sana.
“Aku butuh pengukur untuk mengukur lubang yang dibutuhkan untuk menampung semua sampah ini.”
Istri Ali kemudian ingat dengan wasiat ibunya sebelum meninggal ketika ia kecil dulu.
“Istri Ali… Kalau kau butuh pengukur pinjamlah ke istri Kasim…”
Meskipun dulu ia sempat nggak ngerti maksudnya, sekarang ia tahu. Ia pergi ke rumah istri Kasim untuk meminjam pengukur.

“Istri Kasim bukan?”
“Iya, saya istri Kasim, tapi yang anda maksud istri ke berapa ya?”
“Istri ke… Eee… Memang istri Kasim banyak ya?”
“Apa? Kasim punya banyak istri? Aku dikhianati! Kurang ajar! Kasim! Keluar kau!”
Istri Kasim mencari Kasim yang entah ada di mana.
“Duh, kok jadi gini… Gimana soal pengukurnya?”
Ia ingat lagi apa kata ibunya dulu.
“Anak suamiku… Jika kau butuh pengukur, ada di lemari dekat televisi…”
Ia kemudian mencari pengukur itu dan menemukannya. Istri Ali kemudian pulang.

Sementara itu istri Kasim masih marah.
“KASIM!!”
“Eh, ada apa? Kamu kok kayaknya marah?”
“Aku tidak terima!”
“Kenapa?”
“Mengapa istri Ali meminjam pengukur? Buat ngukur apa dia?”
“Eh… Masalah itu? Bukan yang lain ya?”
“Yang lain? Apa maksudmu?”
“Nggak kok. Iya, aneh juga. Kamu cek gih.”

Ali terus-menerus tidak mengambil harta penyamun itu. Ia masuk keluar gua itu dan tetap tidak mempercayai ada harta disana. Istrinya terus saja memasukkan sampah ke sana. Kalau sampahnya habis, kadang ia buang uangnya kesana. Hal itu tidak berlangsung lama karena Kasim dan istrinya mengetahui hal itu.
“Hayo, buang sampah sembarangan ya…”
“Hwaduh, ampun. Sebenarnya lubang ini bukan buat sampah, tapi buat harta karun. Tapi karena aku nggak perccaya ya nggak jadi.”
“Harta karun? Nggak percaya ah, kamu tukang bohong.”
“Aku tukang tebang kayu yoo… Kalau nggak percaya lihat saja di gua di dalam hutan.”
Dan Ali menceritakan sedetail-detailnya, sampai pertama kali ia bertemu dengan istrinya dan menikah dulu.

Kasim menuju gua yang dimaksud, ia kemudian mengucapkan kata sandinya.
“Sebentar… Apa ya kata sandinya… Ah iya…”
“Pastel!”
Tidak terjadi apa-apa…
“Inu Neko Jump!”
Tetap tidak terjadi apa-apa…
“Tende Freeze!”
Masih tidak terjadi apa-apa, ya iya lah.
“Duh kata sandinya apa ya? Yang pasti nama manga deh… Duh, ada ruginya juga jadi otaku…”
Kasim akhirnya menyerah dan membaca scriptnya. Ia menemukan sesuatu.
“Open Sesame!”
Gua itu terbuka (dan nanti tertutup lagi) dan Kasim melihat banyak harta disana, ia tidak percaya.

Cukup lama ia termangu disana, tetapi ia ingat sebentar lagi acara anime kesukaannya, SpongeBob SquarePants.

SpongeBob bukan anime yoo…
“336! Byooshi!”
Tidak terjadi apa-apa…
“Otogi no Machi no Rena!”
Tetap tidak terjadi apa-apa…
“Suzuka!”
Masih tidak terjadi apa-apa, ya iya lah.
“Duh lupa lagi, untung masih ada script”
Kasim akhirnya menyerah dan membaca scriptnya. Ia menemukan sesuatu.
“Developing Dynamic Web Page Using JavaScript 1.0… APA?! Script apa ini! Haram ah!”
Kasim bingung, ia kehilangan script.
“Open Sesame!”
Dari luar terdengar suara itu.
“Ah ya! Itu kata sandinya. Horeee… Aku bisa keluar!”
Ternyata 40 penyamun telah kembali, mereka menemukan Kasim bengong.
“Pencuri! Aku bunuh kau!”
“Jangan bos! Lebih baik ia disuruh mbadut di depan gua saja…”
“Ah iya, ide bagus.”
Dan akhirnya Kasim jadi pria penghibur di depan gua.

Istri Kasim cemas Kasim tidak pulang-pulang.
“Kasim… Kapan kowe bali… (Kasim… Kapan kamu pulang)”
“Ndang balio, Sim… Ndang balio… (Kembalilah, Sim… Kembalilah)”
“Nalikane ing Tirtonadi… Ngenteni tekane bis wayah wengi… (Eh itu nggak ada hubungannya)”
Tiba-tiba Morgiana, pembantu plus plus Kasim, datang terengah-engah ke istri Kasim.
“Bu, saya melihat tuan Kasim jadi badut di depan gua di hutan, lucu banget deh.”
“APA?! Kasim telah meninggal?!”
“Eh, kok… Nggak, Bu. Tuan jadi badut.”
“Meninggal! Meninggal! Lebih baik gitu daripada jadi badut! Malu aku!”
Kemudian istri Kasim menyuruh Morgiana menculik Kasim. Morgiana juga sudah nggak mau sama Kasim, ia pindah ke Ali.

40 penyamun yang tidak menemukan keberadaan Kasim marah.
“Hmph, dasar badut nggak lucu! Dia pikir kalau dia pergi dari gua ini terus jadi lucu gitu?! Cari dia!”
40 penyamun kemudian menyerbu kota. Mereka bertanya pada Baba Mustapha, seorang penjual.
“Jeruk sekilo berapa bang?”
“Lima ribu nak…”
“Nggak bisa kurang ya, pak?”
“Wah, nggak bisa mas. Harga pasnya ya segini, tiga ribu…”
“Tiga ribu? Eee… Ya udah, ini.”
“Kok tiga ribu? Seribu nak!”
“Eh, iya, nih seribu…”
“Kamu kira jeruk ini dijual?! Ambil semua nih! Dasar anak jaman sekarang, nggak tahu sopan santun!”
40 penyamun itu kebingungan, tapi ya sudahlah. Mereka kemudian kembali ke gua.

Morgiana bingung, harusnya ia gunakan kapur untuk mengelabui penyamun dengan menandai semua pintu, tapi kok penyamunnya malah pergi. Karena nasi telah menjadi bubur, dimakan saja.

Bukan itu maksudnya yaa… Nasi telah menjadi bubur adalah ungkapan yang artinya jangan memasak nasi terlalu lama.

Kok kesini lagi sih!

Morgiana kemudian menandai semua pintu dengan kapur.
Ketika penyamun itu kembali, mereka bingung.
“Kok banyak tanda di pintu? Ada acara kemerdekaan ya? Ikutan ah.”
Penyamun itu memberi tanda dengan kapur merah. Tapi Morgiana terlalu cerdik buat mereka.
“Kalian kira kapur cuma bisa merah putih? Nih kapur biru!”
Morgiana menandai pintu dengan kapur biru… Perancis atau Belanda?

Kapten peyamun itu, Cogia Hassan, pusing.
“Cerita macam apa ini sebenarnya?”
Lha cerita macam apa yang kau harapkan?
Hassan membaca script yang ditemukannya di gua. Ia melihat ada rencana menyelinap ke rumah Ali Baba dengan menggunakan tong berisi minyak, tapi nantinya gagal.
“Skip saja bagian ini…”
Hassan kemudian tahu dari script kalau Ali Baba adalah salah satu pencurinya (meskipun ia tidak mencuri apapun). Hassan kemudian ke rumah Ali Baba dan membawanya pergi bersama anaknya dan Morgiana. Ia merencanakan akan membunuh Ali dan semua dedengkotnya, termasuk Abdul, pembantu Ali, yang belum diceritakan (anak Ali juga belum diceritakan sih…)

Sesampainya di gua, Ali agak curiga juga.
“Kayak pernah lihat ya…”
“Ah, itu hanya perasaan tuan saja… Ini bukan gua berisi harta penyamun yang bisa dibuka dengan Open Sesame kok…”
“Hmm… Iya juga…”
Morgiana dan Abdul memulai atraksi tariannya untuk menghibur Ali dan Hassan, tetapi di tengah-tengah atraksi Morgiana menusuk Hassan dengan belati.
“Morgiana! Apa yang kamu lakukan?!”
“Tenang dulu tuan, dia bukan orang baik-baik! Dia adalah ketua kelompok penyamun itu!”
“Bukan gitu, tariannya kok berhenti? Teruskan!”
“Eee… Iya.”
Dan Morgiana terus menari.

Morgiana menari sampai akhir. Ali sangat terkejut dengan bakat menari Morgiana. Ia mendaftarkan Morgiana ke beberapa kontes menari dan semuanya berhasil dimenangkan. Nama Morgiana semakin terkenal dan Ali semakin bangga, ia menikahkan Morgiana dengan anaknya dan mereka hidup berbahagia.
Ada cerita aneh yang terdengar dari mulut ke mulut di kota tempat tinggal Ali Baba. Cerita itu mengenai sebuah gua yang berisi banyak harta karun peninggalan 40 penyamun. Gua itu bisa dibuka dengan mudah, hanya dengan mengucapkan “Open Sesame!”. Sungguh cara yang sangat mudah untuk mendapat kekayaan berlimpah, kamu percaya?