Pada suatu masa, hiduplah seorang saudagar kaya raya. Hidupnya lebih dari berkecukupan. Keenam anak laki-laki dan perempuannya pun bisa memiliki apa saja yang diinginkan. Mereka sudah biasa bergaya hidup mewah, toh, harta mereka tidak pernah ada habisnya…
Sebelum cerita dilanjutkan mari kita meninjau sebuah kata yang digunakan dalam cerita ini. Sebagian orang Indonesia, dalam sepengetahuan saya terutama yang berada atau tinggal di salah satu propinsi yang ada di pulau jawa, biasa menyebut kata ini. Bisa anda tebak propinsi apa itu? Hmmm… Bila anda menebak propinsi tersebut adalah jawa barat bisa dibilang anda belum cukup benar. Mungkin saja – saya katakan ini mungkin karena selalu ada kemungkinan – kata tersebut juga bisa digunakan di propinsi tersebut. Tapi menurut saya – anda boleh tidak sependapat dengan saya atau sebaliknya – propinsi tersebut adalah jawa timur. Kata ini bisa digunakan untuk menyebut tanda lahir. Bila dijelaskan, seorang individu, atau dalam hal ini disebut manusia, selalu bermula dari rahim ibunya. Kejadian ini disebut kelahiran manusia. Ada kemungkinan manusia itu memiliki sebuah tanda lahir di tubuhnya. Tanda itu tidak terdapat di kuku, rambut, atau organ dalam manusia karena akan susah menandai seorang individu bila ia harus menjalani operasi bedah terlebih dahulu. Ya, mungkin anda sudah bisa menebak. Kata tersebut adalah toh. Toh disini tidak memiliki suatu makna yang bisa dibilang berarti, cuma sebagai tambahan saja.

Apa yang baru saja aku tulis ya?

Sudahlah, kembali ke saudagar tersebut…
Sebelum cerita dilanjutkan marilah kita meninjau kata saudagar, sa-u-da-gar. Menurut kamus arti kata saudagar adalah…

Yang nulis tadi benar-benar aku ya?

Ternyata mitos yang menyatakan kalau sedang menulis cerita Sastra Kontemporer di malam hari dengan setengah hati akan dirasuki oleh sesuatu yang imajiner itu benar…

Alasan.
Hmmm… Sebelum cerita dilanjutkan marilah kita meninjau kata imajiner…
Sudah, sudah! Kita (penulis + sesuatu imajiner) mulai dari awal!

Pada suatu masa, hiduplah seorang saudagar kaya raya. Hidupnya lebih dari berkecukupan. Keenam anak laki-laki dan perempuannya pun bisa memiliki apa saja yang diinginkan. Mereka sudah biasa bergaya hidup mewah, toh, harta mereka tidak pernah ada habisnya. Tetapi suatu saat kesialan besar menimpa keluarga mereka, karena harga BBM naik, bisnis saudagar itu hancur…
Kok bisa sampai segitunya ya?
Bisa saja, karena saudagar itu menjual buku seperti “How to Prevent The Rising of Oil Burn Substance’s Price for Dummies” dan “Holding Grease Roast Material’s Price Cookbook”.
Tidak hanya itu, satu persatu anaknya meninggal karena bermacam-macam penyakit (hal) seperti panu, jerawat, bahkan sampai ketombe (dampak hal-hal seperti itu bisa sangat fatal untuk seseorang yang biasa hidup mewah, percayalah). Saudagar tersebut putus asa kemudian membakar diri bersama semua hartanya yang tersisa termasuk rumahnya.

Tunggu dulu, bukannya tokoh utama (heroin) cerita ini, Beauty, adalah anak saudagar itu?
Oh, bukan. Sabar dulu…

Kemudian cerita beralih ke tetangga saudagar itu yang cukup miskin. Suatu hari ia ingin beli kopi di warung sebelah. Ia bertanya kepada anak-anaknya.
“Anak-anakku, ayah akan pergi ke warung sebelah untuk beli kopi. Mungkin di tengah perjalanan ayah menemukan sekoper uang atau paling tidak berlian berapa kilogram gitu. Nah, apa yang kalian ingin ayah temukan?” Katanya optimistis.
Semua anaknya menginginkan ayahnya menemukan barang-barang mewah seperti perhiasan, motor, mobil (paling nggak lebih bagus dari Kanata lah), kapal pesiar, atau mansion, kecuali anak perempuannya yang paling kecil, Beauty.
“Ayah, aku hanya sungguh-sungguh sangat berharap ayah bisa pulang dengan selamat, kalau bisa sih.”
“Hei, cara ngomongmu kok seperti kecil kemungkinannya ayah selamat. Jangan begitu, mintalah sesuatu yang setidaknya sedikit (sedikit?) berharga seperti saudara-saudaramu itu.”
“Sudah, hanya itu saja sudah cukup buatku.”
“Beauty… Kamu memang anak ayah yang paling pengertian…”
“Apa? Tunggu dulu… Ada kesalahan penulisan, harusnya pulang dengan Selamat, bukan pulang dengan selamat. Selamat tuh nama orang terkaya di dunia versi Forbees, siapa tahu kalau ayah bersamanya bisa dibelikan hotel bintang tujuh.”
“… Sudahlah, buat kamu mawar saja.”
“Mawar? Ummm… Nggak jelek juga, dia terkaya di dunia versi Forges.”
“… Hei, kamu nggak bisa baca tulisan ya? Mawar, bukan Mawar… Eh… Mawar, bukan Mawar… Argh! Kenapa huruf depan setelah titik harus kapital!?”

Kemudian dia (sang ayah) tiba di warung tanpa menemukan apa-apa. Ia hanya menemukan pisang goreng dan ote-ote di atas piring.
Sebelum cerita dilanjutkan mari kita meninjau kata ote-ote…

Halah, hentikan.
“Betapa sialnya nasibku hari ini… Hanya menemukan pisang goreng dan ote-ote… Nggak papalah, daripada tidak sama sekali”
Dia mengambil semua jajanan di piring itu dan pergi.
“He, mbayar sek le!!” (artinya: Wahai tuan, tolong bayarlah terlebih dahulu)
Dia sudah terlanjur pergi.
“Maleeeeeng!!” (artinya: Seseorang yang mengambil sesuatu yang mungkin tanpa sepengetahuan orang yang memiliki sesuatu itu atau orang yang diwakili untuk menjaga sesuatu itu)
Dia dikejar massa yang membawa senjatanya masing-masing, antara lain pisang goreng, ote-ote, tahu isi, tempe menjes, dan ketela goreng, semuanya disediakan oleh pemilik warung.
“Hoey, maling kabeh kon!!” (artinya: Wahai orang-orang, kalian semua mengambil sesuatu yang mungkin tanpa sepengetahuan orang yang memiliki sesuatu itu atau orang yang diwakili untuk menjaga sesuatu itu)
Sadar dirinya dikejar, dia berlari untuk menghindari amukan massa, tapi sayangnya ia berhasil ditangkap dan mulutnya dijejali senjata massa.
“Ampun!! Ampun!! Nggak enak!! Argh!!”

Ia tidak ingat apa-apa setelah itu. Ia kemudian tersadar dan terkejut melihat di sekelilingnya. Ia berada di sebuah kastil besar dengan perabotan antik yang sangat mewah, sayangnya perabotan tersebut terbuat dari kayu dan besi, jadi sudah lapuk dan berkarat. Ia juga melihat semuanya seperti sudah disiapkan untuknya. Ketika ia menuju ruangan yang terlihat seperti ruang makan, ia melihat banyak makanan diatas meja makan.
“Makanannya enak sekali… Tapi pasti ini semua disiapkan untuk seseorang yang tinggal disini.”
Di meja makan itu ia juga melihat sesuatu yang besar, seperti seorang manusia singa yang siap menyantap makanan itu.
“Itadakimasu!!” Dia (masih sang ayah) langsung memakan habis semua makanan itu karena ia tidak melihat manusia yang akan memakan makanan itu (yang ia lihat hanya sesuatu seperti manusia singa).
Setelah menghabiskan semua makanan, ia melanjutkan perjalanan di dalam kastil tersebut. Ia tidak melihat seseorangpun yang mungkin tinggal disana. Kemudian ia tiba di kebun bunga yang besar, disana banyak tumbuh bunga mawar.
“Wow… banyak sekali bunga mawar disini. Beauty pasti senang kalau aku memberinya beberapa.”
Nggak, nggak senang kok.
Dia melihat ada papan di dekat bunga itu yang bertuliskan “Dilarang memetik bunga, apapun yang tumbuh disini, tidak termasuk lumut, jamur, dan hama lainnya.”
“Ah, kelihatannya aku tidak boleh memetik bunga ini.”
Tiba-tiba dari mansion itu keluar siluman singa tersebut.
“Petik saja, nggak papa kok.”
“Bener nih? Makasih ya. Wah, ternyata di kastil seperti ini singa bisa bicara…”
“Domai (don’t mind)… Domai…”

Dia (masih saja sang ayah) kemudian memetik beberapa bunga mawar sambil membayangkan wajah anaknya Beauty yang gembira jika menerima bunga-bunga itu.
Nggak, nggak gembira kok.
Ketika ia sudah memetik beberapa, ia menoleh ke belakang dan melihat manusia singa yang terlihat sangat marah.
“Hei!! Kata siapa kau boleh memetik bunga-bunga disini!!”
Dia (tetap sang ayah) sangat terkejut. Ia tidak merasa bersalah karena kata manusia singa yang disitu ia boleh memetik semua bunga disini.
“Kata singa disitu itu aku boleh mengambil bunga disini…”
“Singa itu?! Dia itu bukan Beast pemeran utama disini. Dia cuma manusia singa biasa, seperti yang biasa dijumpai di sekitar sini. Cuma numpang makan dia!”
“Ka-kamu cuma numpang makan? Kok katamu aku boleh metik bunga disini?”
“Wah, emang nggak boleh ya? Waduh, nggak tahu mas. Saya cuma numpang makan. Salah sendiri, omongan singa numpang makan kok diperhatikan?”
“Pokoknya… Pokoknya kamu harus dihukum mati!!”
“Tidak, tidak, jangan bunuh saya. Saya masih punya istri dan 5 anak.”
“Apa katamu?! Istrimu sudah meninggal! Lagipula anakmu ada 6! Itu semua ditulis di pembuka cerita!”
“Apa? Kisahku ditulis di cerita?”
Kemudian sang dia, eh sang ayah membaca cerita Beauty and the Beast di Sastra Kontemporer.
“Eh iya… Kayaknya ini versi terbarunya. Aku nggak punya internet sih, jadi update otomatisnya gak jalan…”
“Sudah, pokoknya kamu kubunuh!”
“Ampun bung Beast, aku tidak tahu anda bisa begitu marah hanya karena saya memetik bunga anda.”
“Pokoknya bunuh!! Eh… Tunggu dulu… Beast?”
“Eh iya kan? Bukannya tokoh utama cerita ini namanya Beast?”
“Hmmm… Begitu ya? Mana kutahu?”
“Lho… Kamu bukan Beast yang punya kastil ini?”
“Ya bukanlah! Aku manusia singa yang numpang membunuh.”
“…”

Kemudian seorang manusia singa lain datang.
“Hei, ada apa ini? Kenapa ada ribut-ribut di kastilku?”
“Oh, anda yang punya kastil ini? Beast?”
“Ya, saya Beast.”
Kemudian Beast melihat bunga yang dipetik oleh sang ayah.
“Apa? Kamu memetik bunga saya?!”
“Ah, ampun! Ampun bung Beast, saya tidak tahu anda bisa membunuh hanya karena seseorang memetik bunga anda.”
“Membunuh? Nggak kok.”
“Apa? Nggak?”
“Nggak, aku nggak numpang membunuh disini. Aku hanya numpang punya rumah, numpang pakai nama Beast, dan numpang nanyain orang yang memetik bunga.”
“… Argh! Siapa yang nggak numpang disini!?”
Tiba-tiba ada sosok yang muncul.
“Eh… Permisi…”
“Siapa kamu?! Kamu mau numpang apa? Numpang muncul di cerita ini?”
“Eh… Nggak…”
“Jadi kamu pemilik kastil ini?”
“Eh… Bukan…”
“Jadi kamu mau apa?!”
“Eh… Di depan ada tulisan for sale. Kastil ini dijual?”
“Hah? Dijual? Bukannya kastil ini masih ada yang menempati?”
“Eh… Nggak tahu.”
“Hei, singa numpang. Ada yang tahu siapa yang sebenarnya tinggal di sini?”
Sang ayah kaget. Tidak ada siapa-siapa di situ. Hanya dia dan calon pembeli kastil.
“Hah? Halo…”
“Eh… Anda memanggil saya?”
“Ng-nggak… Kastil ini mengerikan, tadi saya melihat 3 manusia singa disini. Sekarang mereka tiba-tiba hilang. Kalau anda ingin membeli, urungkan niat anda saja.”
“Eh… 3 manusia singa? Yang tadi? Wah, mereka sudah pergi. Mereka nggak numpang sampai paragraf ini.”
“…”
“Eh… Terus kalau saya mau beli kastil ini gimana?”
“Argh, terserah! Mau bayar ke siapa terserah! Gak usah bayar ya terserah!”
“Eh… Begitu ya? Kalau begitu saya nggak usah bayar. Saya beli kastil ini. Nama saya Beast.”
“Terserah… Tetapi… Tunggu dulu. Nama kamu Beast?”
“Eh… Iya. Apa itu di tanganmu? Bunga mawar? Siapa yang mengatakan kamu boleh memetik bunga di kastilku?! Kubunuh kamu!!”
“Tunggu dulu… Kok bisa gini ya? Ampun!!”

Sang ayah terancam dibunuh oleh pemilik kastil baru yang ternyata bernama Beas, eh, Beast. Sudah ah, nggak pakai eh eh-an.
“Ampun, aku hanya memetik ini atas permintaan anakku, Beauty.”
Nggak, nggak minta kok.
“Alasan, kamu pasti mau menjual bunga-bungaku dengan harga tinggi kan?!”
“Apa? Nggak. Bunga-bunga ini nggak bisa laku dengan harga tinggi.”
“Apa katamu?! Menurutmu bungaku ini nggak berguna gitu?!”
“Eh… Kok aku jadi ngomong eh, ya? Ah, nggak! Aku nggak bermaksud begitu.”
“Kurang ajar!!”
“Ampun!!”
“Kurang ajar! Aku dibohongi penjual bunga itu! Katanya bunga-bunga ini bisa dijual mahal…”
“Apa? Penjual bunga? Oh gitu… Tapi, bukannya bunga-bunga ini ada sebelum kamu beli kastil?”
“Apa katamu?! Menurutmu aku bohong gitu?!”
“Ah, nggak! Ampun!”
“Duh, aku jadi kelepasan bohong… Maafkan aku.”
“… Iya deh.”
“Tapi kamu tetap akan kubunuh!”
“Ampun, biar saya menjelaskan hal ini.”

Kemudian sang ayah menjelaskan semuanya sambil menunjukkan update-an cerita yang dia dapatkan tadi.
“Begitu ya… Kalau begitu kamu kumaafkan. Tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan satu anakmu padaku.”
“Tapi, aku tidak bisa menukarkan nyawaku dengan nyawa anakku. Gimana kalau anak tetanggaku saja?”
“Bukannya anak tetanggamu sudah meninggal semua?”
“Eh iya…”
“Pokoknya bawa anakmu kesini. Tapi ingat, anakmu harus ikhlas, cukup sayang padamu dan cukup berani untuk menyelamatkanmu.”
“… Harus gitu ya?”
“Ya iyalah. Aku nggak mau jadi antagonis disini dan memaksa anakmu ikut denganku. Takut nggak ngetop aku, nantinya kalau jalan-jalan ke mall bisa-bisa aku ditamparin ibu-ibu. Aku percaya padamu. Jangan kau, jangan pernah, jangan pergi, jangan pernah pergi (dan sembunyi) dariku.”

Sang ayah (kok kayaknya nggak punya nama ya dia?) pulang dengan keadaan yang bingung. Bagaimana ia bisa mengatakan anaknya untuk ikhlas dikasihkan ke Beast? Sebelumnya sang ayah diberi banyak barang berharga oleh Beast. Katanya sih Beast nggak suka dengan interior di kastil itu jadi diberikan ke sang ayah. Sang ayah kemudian pulang dan sampai ke rumah. Keenam anak yang melihat ayahnya membawa banyak barang mewah sangat senang dan menyambutnya.
“Selamat datang barang-barang mewah kami!!”
Jadi nya-nya itu menunjukkan barang mewah.
“Hei, jangan senang dulu! Kamu nggak tahu bagaimana cerita ayah sehingga bisa sampai seperti ini!”
“Kami memang nggak tahu dan kayaknya nggak penting juga harus tahu itu…”
“Kalian harus tahu! Gini ceritanya…”
Updatean cerita itu ditunjukkan ke anaknya.
“Jadi nggak usah bingung! Ingat! Coblos nomor… Eh nggak, siapa yang berikhlas hati menolong ayah?”
Semuanya terdiam, bukan karena memikirkan nasib ayahnya, mereka takjub melihat barang-barang mewah.
“Hei, gimana? Kok nggak ada yang njawab sih?”
“Tunggu dulu, bukannya Beauty yang salah disini?!”
Nggak, nggak salah kok.
“Ya… Aku tahu… Aku tahu aku selalu disalahkan disini…”
Nggak, nggak menyalahkanmu kok.
“Aku kan nggak tahu aku harus dijadikan seperti ini! Okelah, terserah, aku kesana bersama ayah, biarpun Beast hanya terkaya versi Forres.”

Kemudian mereka berdua pergi ke kastil Beast dan Beast telah menyambutnya di taman dengan alunan musik yang halus dan menenangkan.
“Selamat malam sang ayah, bukan ayahku sih. Selamat malam anak sang ayah, kalau sang ayah bukan ayahku berarti kamu bukan saudaraku.”
Sang ayah hanya terdiam, bukannya takut, tapi ketiduran di perjalanan. Hanya Beauty yang menjawab salam Beast.
“Selamat malam Beast, namaku Beauty.”
“Jadi kamu ikhlas tinggal di sini bersamaku dan ayahmu kembali bersama saudara-saudaramu?”
“Aku ikhlas. Mungkin dengan tinggal bersamamu aku bisa ada di daftar orang terkaya versi Forbes.”
“Hei, itu bukan typo! Nggak etis!”
“Oh iya…”
“Baiklah, sebelumnya ayahmu akan kupulangkan. Ayahmu boleh memilih apa saja yang tersedia di kamarnya untuk dibawa pulang.”
Sang ayah terbangun.
“Benarkah? Di kamar yang mana? Di kamar yang kubuat tidur dulu?”
“Nggak, ya kamar di rumahmu sendiri lah!”
“… Pelit. Ya sudah kalau begitu. Beauty, semoga kau baik-baik saja disini.”
“Tidak usah khawatir ayah. Sampaikan salamku ke saudara-saudaraku.”
“Salam? Maksudmu kamu… Jadi nomor…”
“Nggak! Bukan! Bebas (seperti pada bebas asap rokok, bukan seperti pada bebas parkir) kampanye disini! Disini nggak ada pilkabe (pemilihan kepala buku dongeng)! Lagian aku belum 17 tahun!”
“Apa?! Kamu belum 17 tahun?! Nggak!! Aku nggak mau disebut lolita complex!!”
“Sudahlah! Diam kamu!”
CTARR!!
“Ahh! Hukum aku master! Aku memang pantas dihukum!”

Hei, cerita ini untuk semua umur kan?

Setelah ayahnya pergi, Beauty tinggal di kastil itu. Di kamarnya ia sering bermimpi tentang seseorang yang menasehatinya untuk tidak melihat dari tampang saja. Tampang bisa menipu.
“Beauty, ingatlah. Tampang bisa menipu. Jangan menilai seseorang dari tampangnya. Don’t judge book by its cover.”
“Nggak, aku nggak tertarik dengan tampang. Yang penting uangnya. Judge book by its price.”
Begitulah Beauty yakin dengan idealismenya.
Di kastil itu ia juga bermimpi tentang pangeran tampan berkuda putih yang menolongnya. Di mimpinya ia menggumam.
“Duh, pangeran tapi naiknya kuda putih. Rolls-Royco putih kek.”
Setiap hari ia berkomunikasi dengan Beast dan Beast merasa tertarik dengan Beauty. Entah kenapa, kayaknya Beast tidak bisa menyadari mana yang baik dan mana yang buruk.
“Hus, ini tuntutan peran. Profesional aku.”
Dan suatu malam ia berkata dengan Beauty.
“Beauty, maukah kau menikah denganku?”
Beauty kaget.
“Beast… Haruskah aku menjawab pertanyaan itu?”
“Ya, kamu hanya bisa menjawab dengan melingkari bulatan dengan pensil 2B.”
“Maaf, Beast… Tapi aku tidak tertarik dengan hal itu.”
Beast sedih juga padahal yang dimaksud Beauty ia tidak tertarik melingkari bulatan dengan pensil 2B, kayak yang sedang ujian saja.

Kejadian-kejadian itu terus berulang. Beauty semakin sering bermimpi tentang pangeran yang namanya tidak tercantum di Foresees, Forboss, ataupun Forbeatles, Beauty terngiang-ngiang tentang nasehat untuk tidak hanya melihat tampang, dan Beast yang mengajak Beauty untuk menikah. Tetapi itu semua tidak penting. Beauty bisa rindu juga dengan keluarganya di rumah dan itu membuatnya sedih.
“Hei, kau kira aku orang yang kejam dan tidak rindu sama sekali dengan keluargaku?! Aku rindu, sekarang mereka sudah kaya…”

Kemudian Beast datang.
“Beauty kamu bicara dengan siapa? Kenapa kau sangat sedih? Kau sedih melihatku datang?”
“Nggak, aku nggak peduli kamu datang. Aku hanya rindu dengan keluargaku. Aku ingin bertemu mereka.”
“Beauty, kamu tahu aku akan melakukan apa saja untukmu. Kalau kau ingin bintang akan kuambilkan… Eh maaf, salah, maksudku kalau kau ingin Bintang, penjual gorengan itu datang, akan kupanggilkan. Kalau kau ingin ke rumah ayahmu silahkan saja. Tapi kau harus ingat untuk kembali ke sini.”
“Benarkah? Tentu saja aku akan kembali Beast. Seorang lelaki tidak pernah mengingkari janjinya.”
“Apa?! Jadi kamu lelaki?! Nggak!! Aku nggak mau disebut shota complex!!”
“Hush! Aku ini perempuan! Yang lelaki itu ayahku, yang janji awalnya kan ayahku!”
“Oh begitu… Lho, jadi kamu…”
“Nggak janji daaah…”
Dan Beauty pergi ke rumah ayah dan saudaranya.

Kejadian ini terus terulang (Duh, banyak pengulangan di cerita ini). Beauty pergi ke rumah asalnya dan Beast menunggu di kastil (kayak nggak ada kerjaan lain saja). Awalnya Beauty selalu kembali tepat waktu, tetapi akhir-akhir ini ia sering terlambat kembali ke kastil karena keasyikan main Gamelan Hero bersama saudara-saudarinya. Ketika Beauty pulang terlambat, Beast merasa sangat lemas dan suatu hari, saking terlambatnya, Beast pingsan. Tanpa mengetahui hal itu, Beauty masuk ke kastil.
“Tadaima…”
Mungkin kali ini Beauty telat karena keasyikan nonton anime.
“Beast? Dimana kamu Beast?”
Beauty mencari di seluruh penjuru kastil.
“Beast? Aku pulang nih, kamu nggak Kangen? Eh, salah, kangen. Kalau Kangen kan band yang itu.”
Beauty mulai merasa cemas dan panik.
“Beast? Kamu nggak pergi ke penyerahan piala Fortress sendirian kan?”
Beauty kemudian menemukan Beast tergeletak di dekat meja makan.
“AAAAAHHH!”
Siapakah pelaku yang sebenarnya?

Eh ini bukan cerita detektif ya?

“Beast, Beast, bangun Beast! Kamu nggak meninggal kan?! Gimana kalau orang dari petugas perpajakan datang?!”
Beast tidak begeming.
“Tidak, ia telah meninggal gara-gara aku. Aku sangat menyesal.”
Beauty menangis (dengan menggunakan obat tetes yang langsung diambil dari air mata – bukan mata air) dan air matanya jatuh ke mulut Beast. Ajaib, tiba-tiba Beast terbangun.
“PTUIH! Assasin (bahasa gaulnya asin)! Eh… Beauty? Kamu sudah pulang? Okaeri…”
Kayaknya Beast pingsan karena kebanyakan nonton anime sehingga lupa makan.
“Kau… Aku sangat cemas tahu! Kalau kau meninggalkanku bagaimana aku bisa hidup?”
Dalam hati Beauty berpikir kalau Beast-nya mati nggak ada cerita Beauty and the Beast.
“Aku… Aku tidak sadar kalau aku sangat mencintaimu…”
Dalam hati Beauty berpikir kalau ia sadar ia tidak akan mencintai Beast.
“Beauty… Jadi… Maukah kau menikahiku?”
“Ya, Beast. Aku akan menikahimu.”
Dalam hati Beauty berpikir cerita ini sudah 240-an baris.
Kemudian mereka berdua berciuman. Sebenarnya cukup mengherankan juga, mengapa dongeng yang notabenenya untuk anak-anak selalu diakhiri dengan ciuman. Tiba-tiba Beast berubah menjadi seorang pangeran tampan.
“Ah, kau kan… Pangeran yang muncul di mimpiku?”
Dalam hati Beauty berpikir pantas saja pangeran itu hanya bisa menunggangi kuda putih.
“Ya Beauty, sebenarnya aku adalah pangeran. Aku dikutuk menjadi berparas monster dan kutukanku hanya bisa hilang ketika ada yang mencintaiku.”
Kemudian ada 2 orang datang. Beauty menyadari satunya adalah seseorang yang ada di mimpinya yang mengatakan padanya untuk jangan menilai seseorang dari tampangnya. Beauty tidak mengenali yang satunya. Orang yang dikenali Beauty itu berkata pada orang yang disampingnya.
“Ratu, inilah gadis yang telah menghilangkan kutukan pangeran. Mereka saling mencintai dan mereka menunggu restu yang mulia untuk menikahkan mereka.”
“Hiks, tentu saja. Aku sangat bahagia akhirnya kutukan anakku sudah terhapuskan. Kalian bisa menikah kapan saja.”

Beauty dan Beast sangat bahagia dan mereka berpelukan (seperti anak kecil saja – Teletubbies). Mereka kemudian menikah dan Beauty mengundang ayah serta saudara-saudaranya untuk datang ke pesta dansa di pernikahannya.
“Ayah, ini ada undangan pernikahan, akhirnya mereka menikah juga.”
“Hmmm… Boleh juga. Apa kita semua akan datang kesana?”
“Tentu saja ayah, akan banyak makanan dan orang-orang penting datang kesana.”
“Benar juga, bagaimanapun juga kita diundang kesana.”
“Baiklah, kalau begitu sekarang kita tidur dulu. Besok kita ke pesta dansa!”
Salah seorang anak sang ayah bertanya.
“Ayah, apa aku juga boleh datang ke sana?”
“Tentu saja boleh.”
“Ah, baiklah kalau begitu. Selamat malam ayah!”
“Selamat malam… Beauty.”