Pada suatu masa di sekitar Eropa, seorang istri dari saudagar kaya sedang sakit, ia merasa ajalnya telah dekat.
“Anakku, jadilah gadis yang baik sehingga Tuhan akan melindungimu. Jika telah tiba waktuku, aku akan menjagamu dari surga.”
“Jangan berkata begitu ibu, ibu tidak boleh menyerah seperti itu. Lagipula, bagaimana jika ibu tidak masuk surga?”
“Hus, apakah kamu lupa bahwa surga ada di telapak kaki ibu? Aku hanya tinggal mengawasimu dengan telapak kakiku.”
“Ibu, itu hanya kiasan…”
“Sudahlah, yang penting sekarang ambilkan salad ganja dengan saus morphin cair beserta bir yang ada di atas meja!”
“… Baik, bu.”
Meskipun ibu gadis itu kelihatan jahat, gadis itu sangat menyayanginya. Tidak lama kemudian masuklah seorang suster membawa peralatan kedokteran.
“Anakku, aku rasa inilah waktuku…”
“Ibu, jangan ibu!”
“Ibunya si gadis, sekarang waktunya injeksi obat, ini mungkin akan sedikit sakit, tetapi lebih sakit bila ditusuk pakai pedang kok, jadi tenang saja.”
“TIDAK!! TIDAK!! AKU NGGAK MAU DISUNTIK!! LEBIH BAIK AKU MATI!!”
Kondisi (mental) ibu gadis itu tidak juga membaik, malahan semakin parah. Kalau dulu takut disuntik, sekarang mulai takut minum obat, takut diperiksa dokter, takut ketinggalan nggak nonton sinetron, sampai-sampai takut sembuh. Ia kemudian dibawa ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut.
…
Bukannya ini di Eropa? Seharusnya tenaga dan alat medisnya lebih berkualitas kan?
Hus, ini lo cerita jaman dulu, nggak ada alat semacam CT Scanner di Eropa.
Karena ditinggal oleh istrinya, ayah gadis itu menikah lagi dengan wanita lain.
Ibu tiri gadis itu membawa 2 anak perempuan bersamanya, meskipun cantik, keduanya berhati culas (hatinya punya banyak cula).
“Mengapa wanita jelek ini tinggal bersama kita?”
“Hei, siapa yang kau sebut jelek? Jelekan kamu kemana-mana lah!”
“Apa? Ngapain kamu mengatakan aku jelek?! Ngaca dong!”
“Nggak ada cermin di sini!”
“Heh? Sekarang kamu menghina aku miskin, nggak bisa beli cermin, gitu?!”
Kedua saudari tiri gadis itu ribut sendiri, gadis itu hanya melihat saja.
“Ngapain kamu lihat-lihat?! Dasar… Kotor… Kamu Cinderella ya?!”
Gadis itu berkaca-kaca, saudarinya memanggilnya dengan nama yang kedengarannya keren.
Sekedar informasi, Cinderella kalau disini (di tempat pengarang berpijak) biasa disebut dengan Upik Abu, atau bisa diartikan anak perempuan yang berdebu. Jadi Cinderella bukan nama gadis itu, tetapi karena daripada dipanggil terus ‘gadis itu’, kita panggil saja dia Cinderella, toh kedengarannya keren.
“Apa?! Jadi Cinderella artinya seperti itu?! Aku protes!”
Itu kan arti di Eropa sana, karena ini tidak menggunakan bahasa Eropa, jadi bukan begitu artinya.
“Oh begitu ya…”
Ya… Begitulah…
Cinderella sering diperlakukan seperti PRT (pembantu rumah tetangga) oleh kedua saudari tirinya.
“Cinderella, sapu rumah ini!”
“Cinderella, cuci semua bajuku!”
“Heh, ngapain kamu?! Aku duluan yang menyuruh Cinderella! Dasar tukang serobot!”
“Kemarin kan udah giliranmu! Sekarang giliranku dong, dasar rakus!”
“Apa kamu bilang?!”
“Kamu bilang apa?!”
Kemudian ibu mereka melerai mereka.
“Awawawawa, jangan bertengkar. Biar mama aja yang melakukannya.”
Sebenarnya ibu tiri Cinderella baik (dan clumsy), tapi karena tahu ia akan jadi ibu tiri, ia berjuang sekuat tenaga untuk menjadi ibu tiri yang ‘baik’, sampai-sampai ia mengadopsi dua gadis jahat untuk membantu perjuangannya, tetapi sepertinya semua usahanya sia-sia saja.
Suatu hari, ayah Cinderella pergi ke pameran, ia menawarkan sesuatu pada ketiga anaknya.
“Apa yang kalian inginkan, anakku?”
“Aku ingin gaun yang indah.” Kata anak tiri pertama.
“Aku ingin perhiasan.” Kata anak tiri kedua.
“Duh, padahal aku mau ke pameran gadget dan cell… Ya sudahlah, mungkin ada yang jualan disana, kan teknologi semakin canggih. Kalau kamu, Cinderella? Apa yang kamu inginkan?”
“Ayah, aku hanya menginginkan patahan batang pohon yang ayah temui ketika pulang.”
Kemudian ayahnya pergi ke pameran, dan betapa kagetnya ayah Cinderella karena harga tiket masuknya 4000.
Ketika pulang, ayah Cinderella mencari batang pohon untuk Cinderella, tetapi karena susah menemukan batang pohon, ayah Cinderella memetik mawar.
“Hei! Siapa yang berani memetik mawarku!”
Tiba-tiba ada seorang seperti monster yang keluar dari mansion.
“Maafkan aku, aku hanya akan memberikan mawar ini pada anak perempuanku.”
“Anakmu? Kalau begitu kamu kumaafkan, tapi kamu harus berikan anakmu padaku.”
Kemudian sesampainya di rumah, ayah Cinderella menceritakan semuanya pada ketiga anaknya.
“Lho, yah, itu bukannya cerita Beauty and The Beast?”
“Oh iya ya…”
…
Duh, bagaimanapun juga akhirnya sang ayah menemukan ranting, Cinderella menanamnya di dekat makam ibunya (padahal ibunya belum meninggal). Ranting itu tumbuh menjadi pohon yang besar, di bawah pohon itu Cinderella berdoa.
“Mbah, bisnisku kok nggak lancar ya mbah…”
“Lahirmu selasa pahing, cocoknya kerja di air.”
Kemudian Cinderella sering menyirami pohon itu dan merawatnya.
Pada suatu hari, istana mengadakan pesta dansa dan mengundang semua gadis di negara itu, yang beruntung akan dipilih oleh pangeran untuk menjadi istrinya. Bagi yang kurang beruntung jangan berkecil hati, karena akan mendapat hadiah hiburan berupa bingkisan dari toko kue kerajaan. Butuh kue enak seperti bolu, brownis, tar, atau spiku dengan resep asli untuk arisan, pernikahan, rapat, atau acara lain? Hubungi saja toko kue kerajaan. Toko kue kerajaan, benar-benar rajanya kue.
Kedua saudari tiri Cinderella mendengar hal itu dan mereka menjadi gembira.
“Cinderella, tata rambutku dengan cantik! Malam ini aku akan ke pesta dansa!”
“Heh, gitu aja minta bantuan Cinderella, bilang aja nggak bisa dandan.”
“Apa katamu?! Dandan gini sih nggak masalah buatku, entah kalau kamu, yang mengancingkan baju aja butuh bantuan mama.”
“Kapan aku begitu?!”
“Anak mama… Anak mama… Chiku chiku chiku.”
“Dasar! Ngejak berantem ya!”
… Dan kedua saudari tiri Cinderella bertengkar… Banyak adegan nggak penting disini.
Cinderella yang juga tahu acara itu ingin ikut.
“Mama… Aku ikut ya ma…”
Ibu tiri Cinderella mendengar permintaan Cinderella. Ingin sekali di hatinya ia memperbolehkan Cinderella, tetapi sebagai ibu tiri yang ‘baik’ ia tidak bisa.
“Tidak! Kamu tidak bisa ikut! Kamu disini jaga rumah!”
“Jahat! Mama jahat!”
Cinderella kemudian menangis dan pergi.
“Maafkan mama, Cinder… Sebenarnya mama ingin sekali kamu mengikuti pesta. Maafkan aku, Cinderella… Ella… Ella… E… E…”
Cinderella kemudian pergi ke makam ibunya (hei, ibunya belum meninggal), ia berkeluh kesah dibawah pohon besar yang ia tanam. Tidak lama kemudian, datanglah ibu peri.
“Tenanglah anakku, aku akan membuatmu pergi ke pesta.”
“Si… Siapa kamu?”
Cinderella terkejut melihat kehadiran tiba-tiba ibu peri.
“Ya! Siapa kamu! Dia ini klienku!”
‘Roh’ pohon besar itu juga menanyai ibu peri.
“Hah? Kamu sendiri siapa? Pohon? Aku adalah ibu peri yang muncul di cerita Cinderella karya Charles Perrault.”
“Aku adalah pohon yang muncul di cerita Cinderella karya Jacob dan Wilhelm Grimm.”
“Oh, jadi kamu muncul di cerita karya Grimm, hahaha, bagaimanapun juga, versi Perrault lebih populer. Lagipula, versi Grimm judulnya Aschenputtel.”
“Tetapi dari awal Cinder udah nanam aku kan?”
“Hmmm… Tetapi bukannya di versi Grimm pohonnya tidak bisa berbicara? Dia hanya memberikan apa yang diinginkan Cinderella.”
“Ukh…”
“Siapa kamu sebenarnya? Pergi dari sini!”
Ibu peri kemudian mengambil ponsel.
“Jangan! Jangan! Jangan ketik unreg!!”
Dan ibu peri mengetik unreg[spasi]jimbon (juragan primbon), pohon itupun menjadi pohon biasa.
“Siapa… Siapa kamu sebenarnya?”
“Aku adalah fairy godmother yang akan membantumu mengikuti pesta.”
“Fairy… Grandmother?”
“Hus, godmother. Tenanglah, aku akan memberikan sesuatu yang layak sehingga kamu pantas mengikuti pesta.”
Ibu peri menyihir baju dan sandal Cinderella.
“Wah, aku pakai sepatu kaca dan gaun!”
Ketika ada tikus lewat, ibu peri menyihirnya.
“Aih, tikus itu berubah menjadi kuda dan supir delman!”
Ketika ada kadal lewat, ibu peri melakukan sihirnya lagi.
“Wah, kali ini kadal menjadi pengawal!”
Dan akhirnya, ketika ada labu lewat, ibu peri menyihirnya.
“Aih, kereta kuda! Tapi kok ada labu lewat ya…”
“Sudahlah, tidak usah pikirkan hal-hal nggak penting. Ayo kita kemon.”
Dan Cinderella beserta ibu peri pergi ke pesta dansa istana.
Ketika sampai di istana, sebelum Cinderella masuk, ibu peri mengatakan Cinderella harus kembali sebelum jam 12 malam, karena pada tengah malam, sihir ibu peri akan menghilang.
“Ingatlah hal itu, jaga-jaga saja, pasang alarm di ponselmu, siapa tahu di bola.. Atau apalah, bahasa inggrisnya ball pokoknya, tidak ada jam.”
“Baiklah ibu peri.”
Ketika Cinderella memasuki bola (atau apalah, bahasa inggrisnya ball), di sana semua terkejut karena melihat seorang gadis yang sangat cantik, termasuk kedua saudari tiri Cinderella.
“Lihatlah gadis itu, ia cantik sekali, mungkin putri negara tetangga.”
“Tidak mungkin, putri negara tetangga akan dinikahkan dengan pangeran di Little Mermaid.”
Pangeran yang ada di sana pun terpana melihat Cinderella.
“Wah, sepatunya unik.”
Dia pun mendekati Cinderella.
“Wahai gadis yang cantik, maukah kamu berdansa bersamaku?”
“Baiklah pangeran.”
Kemudian pangeran memerintahkan para pelayan mengambilkan televisi dan PlayAirport, pangeran dan Cinderella kemudian bermain Dance Dance Absolute Revolution.
Tidak terasa sudah pukul 12 malam, jam dinding pun berbunyi.
“Kukuk… Kukuk…”
“Ah sudah jam 12! Pangeran, aku harus pergi!”
“Tunggu dulu, namanya siapa?”
Cinderella dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat dansa (ternyata bukan bola), saking tergesa-gesanya sepatunya lepas. Yah, namanya saja slipper (bahasa inggrisnya), jadi ya slippery (licin).
“Tunggu dulu! Heran, larinya cepat sekali…”
Kemudian pangeran melihat sepatu kaca Cinderella.
“Sepatu ini… Sepatu yang unik…”
Cinderella kemudian pulang dengan ibu peri, di tengah perjalanan ponselnya bunyi.
“Loh ini alarmnya bunyi… Agh, berarti jam di tempat dansa tadi kecepatan (terlalu cepat)!”
Kemudian sihir ibu peri habis, semuanya kembali seperti semula. Kuda yang menjadi tikus kemudian melewati jalan pintas melalui selokan.
“Aaaaagh!”
Begitulah perjalanan pulang Cinderella (seharusnya kan keretanya sudah hilang? Lagipula, mana bisa tikus mendorong kereta?).
Esoknya, pangeran berencana mencari pemilik sepatu kaca yang… Telah kembali menjadi sandal butut.
“Sandal apa ini?! Mana sepatu kacanya?! Siapa yang mengambil sepatu kaca disini?!”
“Maaf pangeran, hamba menjaga sepatu ini disini, tidak ada siapapun yang menukarnya…”
“Jadi sepatu itu tiba-tiba saja berubah jadi sandal dalam semalam?! Kau kira ini dongeng pembuat sepatu dan 7 kurcaci?!”
“Maaf pangeran, hamba benar-benar tidak tahu…”
Pangeran kebingungan, kemudian ia melihat penjual sepatu kaca di emperan istana.
“Sepatu itu… Unik… Pengawal! Beli sepatu itu!”
“Eh… Ukuran berapa?”
“Terserah lah, yang pasti itu adalah sepatu yang dipakai oleh gadis yang berdansa bersamaku kemarin.”
“Baik, pangeran.”
Pengawal kerajaan membeli sepatu dengan acak, bahkan sepatu kiri dan kanannya beda ukuran.
Sepatu itu dicobakan ke hampir semua gadis di negara itu, tetapi tidak ada yang pas dengan sepatu itu karena semuanya memiliki telapak kaki normal. Akhirnya pangeran dan pengawalnya tiba di rumah Cinderella. Pertama-tama kedua saudari tiri mencobanya.
“Sepatu ini tidak cukup… Tapi kok yang kiri saja?”
Lalu saudari yang lain mencobanya.
“Iya, tidak cukup… Tapi kok yang kanan saja?”
Pangeran hampir pasrah, kemudian ia melihat Cinderella. Ia terkejut, karena wajah Cinderella mirip dengan gadis kemarin. Memang itu wajah asli Cinderella, karena wajahnya tidak disihir jadi… Wajah Snow White misalnya. Tapi pangeran terlalu cerdik, ia tidak begitu saja mempercayai wajah, wajah bisa menipu. Ia pernah tertipu dengan seorang gadis berwajah cantik yang dulu ia pernah sukai, ternyata dibalik wajah cantiknya gadis itu penipu… Tapi sebenarnya nggak ada hubungannya juga.
“Coba kamu pakai sepatu ini.”
Kemudian, semuanya terkejut, karena… Kaki cinderella nggak pas dengan sepatu itu! Ya iya lah, ngapain pakai terkejut juga. Tidak lama setelah itu, ibu tiri Cinderella yang bangun karena dengar ada suara (ku berharap) mendatangi pangeran dan kroni-kroninya.
“Ada apa ya mas?”
Pangeran melihat wanita itu, ia terlihat seperti wanita baik.
“Coba anda pakai sepatu ini.”
Ibu tiri Cinderella mencoba sepatu itu, dan ternyata, ajaib, sepatunya pas. Ternyata telapak kaki ibu tiri Cinderella agak aneh.
“Anda… Anda… Adalah gadis yang aku cari… Maukah kau menikah denganku?”
“Ah… Awawawawa… Tetapi aku memiliki suami.”
“Bukannya… Suami anda telah menyusul istri pertamanya?”
Ibu tiri Cinderella kaget dan menangis. Tetapi… Bukannya ibu Cinderella belum meninggal?
Memang belum sih, tadi maksudnya ayah Cinderella menyusul istri pertamanya ke Singapura, sepertinya ia sudah menceraikan istri keduanya.
“Baiklah kalau begitu… Aku setuju…”
Pangeran sangat gembira, kemudian ia mengajak ibu tiri Cinderella keliling negeri dan tinggal di istana.
Jadi… Tinggallah Cinderella sendirian di rumah itu dengan kedua saudari tirinya, ia atau kedua saudari tirinya nggak ada hubungan apa-apa dengan ibu tirinya, jadi mereka tidak tinggal di istana. Di rumah itu tidak ada lagi ibu tirinya yang melakukan semua perintah saudari tirinya atau ayahnya yang… Nggak ngapa-ngapain sepertinya, jadi bisa dibayangkan bagaimana nasib Cinderella.
Hikmah dari semua ini adalah jika kau ingin mencapai tujuanmu, berusahalah dengan keras, janganlah menggunakan cara curang seperti meminta bantuan ibu peri atau pohon jadi-jadian yang bisa jadi seseorang yang menyamar menjadi pohon. Tidak ada usaha yang sia-sia, yang sia-sia adalah jika anda tidak berusaha sama sekali. Saya adalah narator, sampai jumpa dan terima kasih.
…
Duh, seperti motivator saja…

2 comments
Comments feed for this article
March 27, 2009 at 1:17 am
And the Winner is… « Sastra Kontemporer
[...] Cerita kali ini adalah Cinderella yang punya banyak versi di dunia dan sangat populer. It’s a prize that worth (I think). Without further ado… Here is the prize for the winner! Cinderella [...]
May 16, 2009 at 11:32 am
byjoule
Labunya ngacirr …