Gadis Penjual Korek Api [remake]
Di suatu kota di negara sekitar Eropa, tepatnya negara di sebelah barat Inggris, utaranya Polandia, dan sedikit agak ke kirinya Swedia, setelah itu belok kiri dan ada rumah pagarnya kuning (kok gak nyambung?). Malam itu adalah malam tahun baru yang cukup meriah, tetapi di sudut kota itu terlihatlah seorang gadis kecil yang tidak memakai penutup kepala dan sepatu di malam yang dingin ini. Gadis itu penjual korek api yang tidak memiliki keluarga, sudah lama juga korek apinya tidak laku. Ia bahkan pernah membakar rumah orang untuk membuktikan kalau korek apinya bisa digunakan. Ia juga membakar penutup kepala dan sepatunya, tapi tidak untuk membuktikan kemampuan korek apinya sih, ia membakar penutup kepala dan sepatunya itu untuk dimakan. Kini ia menyesal telah membakar sepatu dan penutup kepalanya (ia tidak menyesal membakar rumah orang) karena pada malam yang dingin begini seharusnya penutup kepala dan sepatunya bisa berguna, untuk dijadikan bahan sup.
…
Ia masih menawarkan dagangannya itu ke orang-orang yang lewat di sekitarnya.
“Korek api mas, mbak, dik, pak, bu, om, tante, mbah, zus, korek api ini murah, harganya cuma 1 euro per kotak.”
Dia tidak tahu kalau di sebelahnya ada pembagian korek api gratis dalam rangka menyambut ultah SK yang ke 4. (Wee SK ulang tahun yang keempat ya? Tapi tunggu dulu, dari sebelum di-remake dulu kok masih saja ulang tahun keempat ya?)
“Duh kasihan anak itu, tak beli koreknya ah.” Kata seorang pria yang lewat di depan gadis itu.
“Dik, berapa koreknya satu?”
“Satu uero, om..”
“Lho dik mahal sekali, di toko dekat rumahku cuma 100 rupiah.”
“Lho om disini bukan Eropa, toh?”
“Bukan yoo, disini Indonesia, wong bahasa yang digunakan di dongeng ini lho Indonesia.”
Gadis itu bingung, kan di awal-awal katanya Eropa..
Sudahlah, lupakan saja..
Ganti setting, kembali ke Eropa.
When the night changed into morning..
Tunggu sebentar, kalau pakai bahasa Inggris namanya bukan SK dong?
Oh iya ya..
Ganti setting, sekarang di Indonesia.
Ketika malam sudah berganti menjadi pagi, gadis itupun mulai mengantuk. Ia nggak tahu sebentar lagi ada razia pkl di dekat Wonokromo..
Ini cerita kok malah ngawur.
Iya, wong lagi nggak ada ide.
Terus kenapa ditulis?
Jangan tanyakan padaku karena ku tak tahu.
…
Setting nggak penting wis, yang penting ceritanya diteruskan biar malah nggak nyambung.
Gadis kecil itu tetap saja menjajakan dagangannya, korek api (seharusnya dagang yang lain). Ia melihat seorang anak yang berpegangan tangan dengan ibunya, seorang gadis bermesraan dengan pacarnya, seorang ayah mengajak anaknya makan bersama, seorang peliharaan membawa jalan-jalan majikannya, dan banyak lagi di malam yang bersalju ini.
Ia sedikit merasa iri, “Seandainya saja aku bisa membaca Sastra Kontemporer..” (irinya nggak jelas)
Ia sangat kelaparan, sudah sebulan ia tidak makan, ia sama sekali nggak menemukan warung masakan padang di kota itu. Selain itu ia nggak punya uang Euro, yang ia punya hanya uang 1 juta dolar AS, yang digunakannya untuk alas duduk (kasihan nggak?).
Ia melihat hiruk pikuk perayaan malam tahun baru, ia melihat ada berbagai permainan, bazaar, dan makanan gratis.
“Seandainya saja ada makanan gratis…” Harap gadis itu.
…
Ehem, kami ulangi, ia melihat ada berbagai permainan, bazaar, MAKANAN GRATIS.
“Tapi nggak mungkin lah hari gini ada orang ngasih makanan gratis…” Ia masih berharap.
…
Ia (DENGAN JELAS) melihat ada berbagai … MAKANAN GRATIS (termasuk untuk GADIS KECIL yang KEDINGINAN dan TIDAK BERPENUTUP KEPALA maupun BERSEPATU yang berprofesi sebagai PENJUAL KOREK API)!!
“Duh, kok kayaknya ada yang ngerasani aku ya?”
…
Sudahlah.
Ia terlihat sangat pucat karena kelaparan dan kedinginan. Ia ingin membakar pakaiannya agar hangat, tapi sayangnya ini adalah dongeng yang notabene untuk semua kalangan. Ia kemudian melihat sekotak korek api dagangannya (jadi korek api yang ia jual hanya sekotak?) dan berpikir untuk menggunakan korek api itu. Ia berpikir korek api enak juga dimakan, apalagi dipanggang well-done gitu.
Ia menyalakan satu korek apinya dan muncul bayangan perapian besar yang hangat dan nyaman. Ia berada di dalam perapian itu dan bisa merasakan kehangatannya.
“Perapian ini benar-benar hangat, dan, tapi, kok jadi agak panas?”
Ternyata ia benar-benar berada DI DALAM perapian itu.
“AAAAA! My clothes is on fire! My panty is on fire! I’m on fire!”
Kok kayak kata-katanya tuan Krab? Err… Tapi yang penting apinya telah padam.
“Untung cuma khayalan, tapi kok mengerikan banget gitu?”
Ia menyalakan lagi satu korek apinya dan berharap ia ada DI DEKAT perapian. Benar juga, kali ini ia duduk di sofa empuk di dekat perapian besar yang hangat dan nyaman.
“Tapi dalam keadaan hangat gini kalau lapar ya percuma saja…”
Tidak lama nyala korek api itu padam dan perapian besar beserta sofa empuk itu lenyap. Ia menyalakan lagi satu korek apinya dan kali ini ia duduk di ruang makan yang besar dan mewah. Di meja makan telah disiapkan berbagai masakan dari berbagai penjuru dunia seperti masakan Prancis, Itali, Jepang, Thailand, Kutub Selatan, Segitiga Bermuda, dan lain-lain.
“Masakannya enak, minumannya enak, kalau digabung jadi enak-enak. Tapi sayangnya kok perapian tadi hilang ya? Kalau makan dalam keadaan dingin gini kan jadi nggak mak nyus..”
Nyala korek api itu padam, gadis itu menyalakan satu lagi dan berharap yang muncul adalah perapian dan ruang makan. Tidak diduga, yang keluar adalah pohon hias besar yang sangat cantik dan gemerlap.
“Bagus juga.. Tapi maaf ya, saya ini LAPAR dan KEDINGINAN, saya butuh MAKANAN DAN (bukan ATAU) PERAPIAN, bukannya pohon gede kayak gini! Lu korek bego banget sih, nggak pernah sekolah ya?”
Ia menyalakan lagi beberapa korek apinya yang tersisa, tapi hasilnya nihil, yang keluar aneh-aneh, mulai dari badai, tanah longsor, angin topan, banjir lumpur, bahkan sampai kecelakaan pesawat terbang.
“Aduh, maaf deh kalau udah menyinggung, tapi tolong keluar yang berguna dong..”
Scratch! Korek api itu telah dinyalakan. Berbeda dengan yang sebelumnya, nyala korek api ini sangat terang dan sangat hangat tapi tidak keluar bayangan apa-apa. Tiba-tiba dari hadapannya gadis itu melihat seorang wanita tua yang terlihat sangat ramah dan penuh kasih sayang.
“Nenek?” Gadis itu terlihat kaget, senang, dan sedikit menangis.
Wanita tua di depannya tersenyum.
“Oh nenek, tolong bawa aku bersamamu. Aku tahu kau akan menghilang seperti perapian, rumah makan, pohon besar, dan hal-hal lain yang aneh itu.”
Ia terus menyalakan korek api yang ada untuk menjaga agar neneknya tetap bersamanya. Nyala korek-korek itu semakin terang dan ia merasakan kehadiran neneknya semakin nyata, tapi sayangnya korek api yang ada tinggal sedikit - salahnya sendiri jualan cuma sekotak, dan kali ini korek api tersebut tidak tersisa.
“Duh seandainya aku jualan lighter…”
Gadis itu menangis dan wanita tua itu memeluk dan memapahnya. Wanita tua itu membawanya ke tempat dimana tidak ada kedinginan atau kelaparan.
Esoknya terjadi keramaian disekitar kota gadis itu. Ada berita di surat kabar mengenai kebakaran hebat yang membumihanguskan kota gadis itu. Beberapa orang berkata tidak ada yang bisa selamat dari kebakaran itu. Tapi tidak satupun yang menyangka kalau gadis penjual korek api itu mengalami hal yang paling indah dalam hidupnya. Ia berhasil diselamatkan oleh wanita tua kaya yang memiliki puluhan perusahaan besar. Ia diangkat menjadi anak oleh wanita itu dan kini ia hidup di lingkungan yang dinamainya ’surga’.
…
Sungguh, ia mengira ia sudah meninggal. Jadi, apakah ini happy ending atau bad ending?
2 Comments »
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
TARIEEEkiyute said,
September 29, 2007 @ 11:56 am
KOK DI KARANG KARANG SICCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????/
JADINYA ANEH BUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
uINx said,
February 15, 2008 @ 1:59 pm
GAAPLOOOK! HAHAHA