Jack and the Beanstalk

Jack adalah seorang pemuda baik hati tapi pernah melakukan suatu hal yang tidak baik, yaitu mengubah nama diaktenya, dari Jaka menjadi Jack. Suatu hari Ia berbuat baik kepada penjual kacang di pasar dengan cara membantu melarikan dagangannya ketika ada razia di pasar Wonokromo.
“Terima kasih anak muda, kau telah membantuku. Sebagai balas budi kamu kuberi sebuah kacang istimewa.”
“Terima kasih, oom.”
Dalam hati Jack berkata, “pelit, ngasih kacang kok cuma sebutir. Enaknya dilempar ke kepalanya saja.”
“Keistimewaan kacang ini bila direbus tidak bisa empuk. Hebat kan”
Jack ngerasani lagi, “kalau kacangnya nggak bisa empuk, gimana kalau kamu yang tak buat empuk.”

Saking kesalnya, Jack melempar kacang itu ke jalanan. Kemudian tiba-tiba kacang tersebut tumbuh tinggi dengan sendirinya. Pikir Jack seperti cerita dongeng Jack and The Beanstalk saja ada kacang seperti itu. Saking tingginya kacang tersebut mengenai pesawat terbang dan menewaskan lebih dari 60 jiwa, selain itu tumbuhnya di jalanan juga membikin jalanan yang macet semakin macet.
“Kacang ini ngece, wong orang gak bisa manjat pohon malah tumbuh tinggi.”
Tetapi teringat nasihat nenek, orang hidup harus punya tujuan. Jangan malu hadapi kenyataan.. Lho itukan lagunya Tipe-X?

Kemudian Jack mencoba memanjat pohon itu.
“Sial, pohon ini tinggi sekali! Bisa masuk SK Book of Record nih!”
Malam berganti siang, vice versa dan sampai beberapa detik (kurang lebih 345600 detik atau 5760 menit atau 4 hari atau 0,571428571 tahun, dll) akhirnya Jack menembus awan dan melihat rumah besar, dan dia mencoba masuk ke sana. Sialnya pohon kacang (apakah kacang berpohon?) tersebut tersambar petir dan hangus, dan Jack tidak bisa pulang ke bumi.
“Nggak masalah, ini kan cuma cerita dongeng.” Katanya.

Jack tidak bisa masuk rumah karena ia nggak bisa mencapai kenop pintu dan ia nggak mau masuk lewat jendela karena ia nggak mau seperti pencuri (padahal ia nggak bisa nyampai jendela). Akhirnya ia memutuskan masuk melalui celah pintu.
Ia kaget melihat isi rumah itu. Semua serba besar, kursi, meja, lemari, tv, radio, komputer, discman, mp3 player, vaccum cleaner, treadmill, lemari es, pda, smartphone (kok canggih sekali, padahal lampu listrik saja belum ada) semuanya besar.
Tetapi yang lebih menarik perhatiannya adalah sebuah sangkar angsa. Ia kaget, angsa tersebut bertelur ayam! Ia ingin membawa telur tersebut sebagai oleh-oleh, telur segede bom atom.

Sialnya, saat mangambil telur, sangkarnya jatuh.
PLAKK! Begitu bunyinya. Kok gitu? Bukannya TRAKK! atau TRANG! Terserah, wong ini cuma cerita dongeng.
Ia panik, telurnya jatuh dan pecah. Tiba-tiba ada sinar yang bercahaya dibalik telur itu. Emas! Eh bukan, ternyata cat emas.

Krieeettt… Suara pintu dibuka. Raksasa itu keluar dari kamarnya.
“Ada apa ini! Siapa yang menjatuhkan sangkar angsaku!”
“Angin mas..”
“Ooh, angin..”
Raksasa tersebut kembali masuk dan melanjutkan main Age of Empire.

Jack selamat dan ia berhasil membawa cat emas tersebut pulang. Tetapi bagaimana caranya pulang? Itulah yang menjadi misteri sampai sekarang.

(Hikmah yang bisa diambil: Sebenarnya angin bisa bicara)

Leave a Comment