Pada suatu masa hiduplah sepasang suami istri di sebuah rumah kecil. Di belakang rumah itu ada ladang yang luas. Si istri melihat rampion yang kayaknya enak dimakan. Tapi ia nggak berani mengambilnya karena ladang itu milik seorang penyihir. Kemudian ia berkata pada suaminya…
“Eh, tahu rampion dibelakang rumah nggak?”
“Rampion? Lampion kali…”
“Rampion yo, yang… Ya gitu deh…”
“Hush, jangan tiru-tiru bajaj, ini dongeng yo, bukan lawakan.”
“Lha iya, aku ingin sekali makan rampion itu. Aku tidak bisa mati sebelum aku makan rampion itu…”
“Lho jadi kalau sudah makan rampion itu kamu mati? Janji ya, tak ambilin tapi kamu harus langsung mati.”
Kemudian sang suami pergi ke ladang itu untuk mengambil rampion, dengan 3 bekas luka bakar di tangan dan tubuhnya, 5 bekas luka cakar di muka dan tangannya, memar di buah -maaf- zakar, ia ingin mencabut rampion itu sampai akar sedikit takar seperti pakar pada reli paris-dakar…
Kejadian ini berlangsung sangat sering sampai rampionnya hampir habis, dan seperti yang diperkirakan istrinya belum juga mati. Lho kok mati? Meninggal yo… Emangnya hewan…
Nggak salah sih…
Aduh!
“Hey pengarang, bikin cerita yang benar dong!”
Dan di suatu malam seperti biasanya sang suami mau ngambil rampion, suaminya kepergok oleh penyihir pemilik rampion itu.
“Whoey! Maling kon!”
“Waduh, ampun mbah…”
“Mbah?! Kurang ajar kau! Tak panggilin warga biar kamu diarak baru tahu rasa!”
“Apa katamu?” Sang suami mengancam.
“Wah, jangan, jangan per-tilt- aku! Aku masih berawan.”
“Lho kok berawan sih, perawan!”
“Jangan gitu, nantinya takut di -tilt- lagi! Wis, tak sihir kamu jadi SK!”
…
…
…
(maksudnya ceritanya disihir seperti SK)
Sudah ah, lanjut!
Suami yang maling sekaligus malang itu kemudian menceritakan mengapa ia harus mengambil rampion tersebut…
“Oh, jadi kamu ingin mengambilnya untuk istrimu… Kamu kuampuni, asalkan ada syaratnya…”
“Istriku jadi tumbal? Mau! Mau! OK deh…”
“Hush! Nggak! Aku kan takut…”
…
Garing…
“Bawa anakmu yang masih bayi itu kesini. Dia akan kuangkat sebagai anak.”
“Lho, kenapa?”
“Aku kan… Aku kan… Nggak ada yang mau denganku… Jadi aku belum punya anak…” Penyihir itu menangis.
“Sop sop…”
Hey yang bener itu sob sob…
“Sob sob…”
Kemudian sang suami memeluk penyihir tersebut. Suami itu kemudian membelai rambut penyihir dan berkata…
“Sudahlah, jangan menangis… Aku selalu ada di sisimu…”
HOEY! Ini bukan cerita drama yo! Ini Rapunzel! Dongeng! Dongeng anak-anak!
Cut! Cut!
Kembali ke persyaratan yang tadi…
“Baiklah, datang ke rumahku jam 10-an, istriku pasti sudah tidur…”
Penyihir itu datang ke rumah pasangan tadi dan mengambil anak tersebut.
“Karena kamu jadi milikku gara-gara rampion, kamu kunamai Rapunzel…”
Lho? hubungannya apa?
“Masak nggak tahu sih? Rampion dan Rapunzel itu sama saja… Coba lihat…”
…when she saw a bed which was planted with the most beautiful RAMPION (RAPUNZEL), and it looked so fresh and green that she longed for it,…
From Jacob and Wilhelm Grimm, Household Tales, trans. Margaret Hunt (London: George Bell, 1884), 1:50-4.
“Asli lho itu…”
Beberapa tahun berlalu, suami istri tersebut sudah nggak penting, sekarang ceritanya mengenai Rapunzel. Tapi kelihatannya mereka sedih harus kehilangan anak, dan suaminya malas kalau mau buat yang baru kalau istrinya nggak ganti…
DUAK! Duh, aku dilempari bakiak
“Jangan ngurusi rumah tangga orang! Lanjutkan saja ceritanya!”
…
Rapunzel tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Tapi setelah 12 tahun ia dikurung di sebuah menara yang hanya memiliki jendela kecil di atasnya, nggak ada pintu atau tangga.
…
Lho terus masuknya gimana?
…
Nggak penting ah…
Rambutnya panjang sekali karena nggak pernah dipotong. Ketika sang penyihir itu ingin membawakan makanan atau mau sekedar ngobrol, ia menggunakan rambut Rapunzel yang panjang untuk naik ke atas menara.
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Rambut Rapunzel yang panjang digunakan sebagai tali untuk naik ke menara. Anehnya, kenapa penyihir nggak memakai sapu terbang untuk mencapai atas menara ya?
…
Nggak penting ah…
Rapunzel terisolir dari dunia luar. Meskipun demikian, menara tersebut memiliki fasilitas lengkap seperti kamar mandi plus shower, komputer dengan internet, dan macam-macam. Situs yang suka dikunjungi Rapunzel antara lain www.situssk.cjb.net
. Karena kesepian, Rapunzel sering bernyanyi sendiri. Karena menara itu cukup tinggi, sekitar 20 meter, jangkauan suaranya yang mencapai 1000 Hz bisa dicapai pada jarak berradius… Sekitar…
…
Nggak penting ah…
Pangeran negeri itu yang kebetulan lagi jalan-jalan mendengar suara yang merdu. Ia tersentuh setelah mendengar suara itu. Ia mencari dari mana asal suara itu…
Sampailah pangeran pada menara dimana Rapunzel dikurung, ia melihat ada seorang penyihir…
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Dan penyihir itu naik ke atas menara.
Pangeran yakin suara itu bukan datang dari burung yang sedang bernyanyi di dekat menara itu, tetapi suara dari dalam menara itu…
“Hiks, sungguh, yang nyanyi tadi aku…” Kata burung tersebut memelas…
…
Nggak penting ah…
Setelah malam, pangeran mendatangi menara itu dan berkata…
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Kalau kata ini tinggal di COPIPE (copy dan paste) saja.
Kemudian Rapunzel menurunkan rambutnya tanpa mengetahui kalau yang memanggil bukan penyihir…
Lho memangnya suara pangeran mirip penyihir…
…
Kan suaranya samar karena menara itu tinggi…
Kalau ini penting…
“Halah, kamu bilang gitu karena hanya itu yang kamu tahu kan?” Celetuk pangeran ke pengarang.
…
Hiks…
“Duh Rapunzel, rambutmu bau! Nggak keramas kamu ya?!”
“Aku bingung mau pakai shampoo apa, mau beli juga nggak ada supermarket…”
“Baik kalo gitu, ini shampoo yang biasa kupakai, coba deh. Besok aku kesini lagi, keramaslah dulu…”
“Siapa takut?”
Shampoo merk apa itu ya…
Besok malamnya pangeran datang lagi…
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Hehe… ctrl+v…
Dan Rapunzel menurunkan rambutnya yang sudah dikeramas, beraroma ice mint…
“Duh Rapunzel, rambutmu dingin dan licin! Ganti shampoo ya?”
“Aduh, aku kan keramasnya dah susah-susah!”
“Tenang, aku bawa shampoonya kakakku, coba deh. Tinggal disisir jari…”
“… Jangan kayak iklan dong…”
“Hehehe… Besok aku kesini lagi, OK?”
Apa Rapunzel nggak heran ya, masak penyihirnya jadi kayak gitu?
…
Nggak penting ah…
Besok malamnya pangeran datang lagi…
…
Nggak penting ah…
Eh, maaf, salah ngopi… Beginilah yang namanya human error… :p
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
“… Rapunzel?”
“Maaf, shampoo yang kemarin kecampur gula kapas, jadinya rambutku melayang… Dan orang utan disebelahku ini ketawa terus. Katanya sih, orang utan punya selera humor yang besar.”
“Duh, pakai ini deh. Beratin dikit rambutmu biar jatuh.”
Dan dilooping lagi ceritanya…
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
GEDEBUK!
Pangerannya kaget…
“Maaf, rambutku jatuh, ambilkan dong.”
“Duh, aneh-aneh saja…”
Pangeran pun naik ke puncak menara dan mengembalikan rambut Rapunzel.
“Pakai ini saja ya, ekstrak orang-aring…”
“Ya deh, makasih ya…”
…
Ada yang aneh nggak dengan scene tadi?
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Esok malamnya tentu saja.
“Waaa! Rambutku jadi hitam… Padahal kemarin masih pirang… Nggak mau…”
“…”
Sampai kapan cerita ini mbulet?
Disingkat saja lah.
Kemudian pangeran sampai di tempat Rapunzel.
“Hah? Siapa kamu? Kok bukan penyihir?”
“Tenang, aku adalah pangeran, aku tertarik dengan suaramu. Mau ikutan APSIP nggak, Audisi Penyanyi Sekaligus Istri Pangeran.”
“Wah, mau, tapi aku nggak bisa keluar nih…”
“Hmmm… Repot juga ya… Yo wis aku bawain walkman aja, tiap malam aku akan merekam suaramu…”
“Hah? Kalau menang gimana? Kontraknya? Hadiahnya? SMS-nya?”
“Sudah ah, jaman gini mana ada ponsel? Pakai SMS-an segala…”
“Ya sudah, janji ya…”
“OK.”
Tiap malam pangeran datang tanpa sepengetahuan penyihir sampai pada suatu saat ia menceritakan semuanya ke penyihir…
“Aku bisa menang! Aku mau jadi artis!”
“APA??!! Aku kira selama ini kamu terkurung!!”
“Tapi, tapi…”
“Nggak ada tapi!”
“Tetapi, tetapi…”
“Masih ada tapinya itu!”
“Kan, kan…”
“… Wis pokoknya nggak!”
Dengan marah penyihir mengambil gunting dan memotong rambut Rapunzel sampai cepak.
“Nggak terima aku, jaman dulu nggak ada audisi kayak gitu, waktu itu kan aku masih cantik!”
Rapunzel sedih dan ia harus diasingkan ke sebuah padang pasir… Dimana ya? Alabasta kali… :p
Pangeran yang belum tahu masih menemui Rapunzel esoknya…
“Rapunzel, Rapunzel, Turunkan rambutmu.”
Rambut Rapunzel yang dipintal ulang diturnkan. Pangeran menggunakannya untuk naik. Tetapi betapa kagetnya dia, yang ada disana adalah penyihir.
“Mas pangeran, aku kan juga mau ikut audisi…”
“APAAA??!! MAAAMAAAA… TOLONG!!!”
Pangeran lompat dari atas menara dan berlari kencang menghindari penyihir itu…
“Mengapa dari dulu nggak ada yang mau sama aku??!!” Penyihir tersebut meratapi nasibnya…
Pangeran masih lari sampai terjatuh ke sebuah jurang (Apa dari menara itu nggak jatuh?). Matanya tertusuk ranting sampai ia menjadi buta…
Ia nggak tahu harus kemana, ia menelusuri hutan tanpa tujuan. Kemudian setelah beberapa hari berkelana dengan hanya makan steak dan pizza dari tasnya, ia mendengar suara yang tidak asing lagi…
“Itu pasti suara Rapunzel!”
Pangeran pun berlari menuju arah suara itu…
Dan ternyata yang didengarnya adalah suara burung yang dulu…
“Sudah kubilang aku yang nyanyi, kan?” Kata burung itu.
Pangeran memegang burung itu, kemudian menciumnya…
Setelah itu, ada asap keluar…
Dan burung itu menjadi seorang putri cantik. Mata pangeran yang buta pun menjadi sembuh.
“Kamu siapa?”
“Aku adalah putri kerajaan yang disihir menjadi burung oleh penyihir yang tadi ketika ia sedang ingin lihat burung…” Jangan berpikir jorok lho…
“Ehem, maukah kamu ikut APSIP, Audisi Penyanyi Sekaligus Istri Pangeran?”
“Tentu saja pangeran…”
Kemudian pangeran dan putri tersebut hidup bahagia.
Selesai
…
Rapunzelnya gimana?
Mungkin dia sedang ikut AGRI (Audisi Gadis Rambut Indah)?
Tapi kan rambutnya sudah dipangkas sampai cepak?
Dan mana ada audisi di padang pasir?
…
Nggak penting ah… Sungguh.

6 comments
Comments feed for this article
October 4, 2007 at 9:51 am
erian
KocAk 1oooo00000oooooo00000% GOKIL!!!!
@#%$^&*
January 17, 2008 at 4:44 pm
iis
huehuehue…. serius baca tapi lama2 kesel!! beneran pen tao critanya
April 9, 2008 at 6:43 am
Er2..hehe
terlalu jayus critany..haha awal2 mase biasa aj bacany..lama2 bikin kesel krn joke ny garing bgt, trus suka d ulang2 molo n ga lucu ma sx..ga mbuat tertawa…
March 27, 2009 at 5:33 am
ayy
crita’y pngen pke b.inggris cMua’y donxx,,, please yaWw..
biar gampang…
April 22, 2009 at 6:47 am
ayu
oeeeeeeeeeeeeeeee,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,wah aneh2 wae uiii ceritanya kocak abizzzzzzzzzzzzzzzzzzzz………………,,,,,,,,,,,
May 25, 2009 at 11:11 am
rachel anggelina
apa’an sih??????cerita kayak nngak bener….nngak papa dehh…..yg penting ada lucunya juga..itu aja deh aq mau ngomong….