Mari kita mendengar sebuah cerita dari seorang nenek dari nenek (selanjutnya disebut dn) dn dn dn dn dn dn dn dn dn dn (selanjutnya disebut dn10) dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 dn10 (selanjutnya disebut dn1010) dn1010 dn1010… Eh tapi bukannya harusnya 10 kali dn10 jadi dn100 ya? Atau 10dn10?
…
Sudahlah, sudah berapa nenek tadi?
…
Ah lupakan, yang jelas ceritanya sudah lama sekali. Saking lamanya, sudah tidak ada lagi yang mengingat cerita itu. Beruntung, seorang nggak dikenal yang tidak ada hubungan sama sekali dengan nenek-nenek tadi dan tidak hafal, tidak pernah dengar, tidak pernah tahu, bahkan tidak tahu mengapa ia menceritakan cerita ini akan menceritakannya pada kita.
Dahulu kala hiduplah suami istri tua kecil (entah apa maksudnya kecil, mungkin super deformed gitu) yang hidup di rumah kecil di sebuah hutan. Mereka bisa menjadi pasangan tua yang sangat bahagia, tetapi sayang sekali itu tidak terjadi karena mereka tidak mempunyai anak dan mungkin sebuah vila mewah di sebuah pantai dengan segala kebutuhan tercukupi, fasilitas lengkap, dan pelayan yang siap melayani… Hmmm, mungkin nggak punya anak juga tidak apa-apa seandainya bisa begitu, pikir mereka. Suatu saat, ketika sedang memanggang kue (kukis) jahe, dia membentuk kue itu menjadi seperti villa dengan berbagai fasilitasnya, tapi karena susah, dengan (amat sangat kesal dan terpaksa tetapi ia dipaksa untuk) senang hati ia mengubahnya menjadi seperti anak laki-laki dan menaruhnya di oven.
Wanita tua itu kemudian melihat di oven apakah rotinya sudah matang atau mungkin ada hadiah menginap di sebuah villa disana. Ketika ia membuka pintu oven, sebuah kue jahe melompat keluar dan lari secepat yang dia inginkan.
“Dia membawa hadiah itu dan ingin menikmatinya sendirian!” Begitulah pikir wanita tua itu.
Wanita tua itu kemudian memanggil suaminya, dan mereka berlari mengejarnya, tetapi sayang sekali, karena mereka sudah tua kaki mereka sudah tidak kuat, jadi mereka mengejar kue itu dengan handstand. Ketika mereka akan mencoba handstand, mereka terjatuh, ya iya lah, otot dan tulang mereka tidak cukup kuat untuk melakukan handstand.
“Hei! Aku hanya mengikuti apa yang kau katakan!” Begitulah yang dikatakan wanita tua itu.
Kue itu tak terkejar dan kini ia berada di sebuah bangunan tempat menyimpan beras. Ia berkata sesuatu pada bangunan itu.
“Aku telah melarikan diri dari seorang wanita tua, seorang lelaki tua, dan sekarang aku pasti akan melarikan diri darimu!”
Kue itupun segera berlari dan bangunan itu mengejarnya.
…
Eee… Aneh juga membayangkan bangunan bergerak.
Eh, ternyata yang mengejarnya adalah mesin pemisah kulit padi.
Kue itupun segera berlari dan bangunan itu memerintahkan mesin pemisah kulit padi untuk mengejarnya.
Nah, begini lebih baik.
… (Apanya?)
Meskipun mesin itu bergerak lebih cepat dari kedua orang tua tadi, mereka tidak bisa mengejar kue jahe. Kue itu berlari sampai ke sebuah ladang yang penuh mesin pemotong rumput.
…
Sebenarnya wanita itu tinggal di hutan atau pertanian ya?
Kue itu berkata sesuatu pada mesin pemotong rumput.
“Aku telah melarikan diri dari seorang wanita tua, seorang lelaki tua, mesin-mesin pemisah padi dari kulitnya, dan sekarang aku pasti akan melarikan diri darimu!”
Kue itupun segera berlari dan mesin pemotong rumput itu mengejarnya.
…
Oh tidak, sebenarnya mesin pemotong rumput itu hanya sedang memotong rumput saja.
Kue itu bertemu dengan seekor sapi betina. Ia mengatakan sesuatu pada sapi itu.
“Aku telah melarikan diri dari seorang wanita tua, seorang lelaki tua, mesin-mesin pemisah padi dari kulitnya, mesin-mesin pemotong rumput meskipun mungkin sebenarnya mereka cuma memotong rumput tapi kan bisa saja mereka berniat mengejarku, dan sekarang aku pasti akan melarikan diri darimu!”
Kue itupun segera berlari dan sapi itu mengejarnya.
Sapi itu lumayan bisa mengimbangi kecepatan kue jahe dan ia berniat memakannya, tetapi tiba-tiba ia melihat sesuatu tertempel di kue itu.
“Mengandung rum. Ah tidak! Kue itu haram!”
Sapi itu kemudian menjauh, kue jahe itu sedikit heran karena tidak paham apa yang terjadi.
Tidak lama kemudian kue itu bertemu dengan kuda. Ia memanggil kuda itu dan berkata:
“Aku telah melarikan diri dari seorang wanita tua, seorang lelaki tua, mesin-mesin pemisah padi dari kulitnya, mesin-mesin pemotong rumput meskipun mungkin sebenarnya mereka cuma memotong rumput tapi kan bisa saja mereka berniat mengejarku, seekor sapi betina yang pergi dariku di tengah pengejaran mungkin karena ingin buang susu kecil, dan sekarang aku pasti akan melarikan diri darimu!”
Kue itupun segera berlari dan babi itu mengejarnya.
…
Babi? Bukannya kuda?
Eh iya, kok babi ya… Ceritanya memang gini atau data di Wikipedia nggak bener ya?
Pengejaran dihentikan sejenak untuk menyelidiki kasus penembakan… , eh nggak, kasus kesalahan tulis ini.
Setelah pengambilan keputusan yang menyatakan untuk nggak mempedulikan masalah tadi, pelarian kue jahe dilanjutkan dengan melewati adegan pengejaran dengan kuda atau mungkin babi tadi. Kue itu bertemu rubah dan berkata:
“Aku telah melarikan diri dari seorang wanita tua, seorang lelaki tua, mesin-mesin pemisah padi dari kulitnya, mesin-mesin pemotong rumput meskipun mungkin sebenarnya mereka cuma memotong rumput tapi kan bisa saja mereka berniat mengejarku, seekor sapi betina yang pergi dariku di tengah pengejaran mungkin karena ingin buang susu kecil, seekor kuda… ! Ah ternyata memang yang benar adalah kuda dan bukan babi tapi nggak penting lagi karena terlajur dilewati, dan sekarang aku pasti akan melarikan diri darimu!”
Kue itupun segera berlari dan rubah itu mengejarnya.
Tidak disangka rubah itu berlari cepat dan dalam sekejap menangkap kue jahe itu.
“Cu… Curang! Aku sudah kelelahan tapi kamu masih memiliki banyak stamina! Ini tidak adil!” Kue itu mencoba membela diri.
“Siapa juga yang memprovokasi duluan…” Rubah itu tetap stay cool.
“Eee… Aku haram lo, liat, mengandung rum!”
“Hei, binatang kan tidak beragama…”
“Eh, kue juga sih… Tapi… Aku mengandung jahe lo, pedes!”
“O la la… Aku suka aroma jahe… Itadakimasu…”
“Hei, rubah jepang! Kamu tidak punya paspor kan? Kamu imigran gelap! Aaaa!”
Rubah itu memakan bagian demi bagian kue jahe itu.
“Oh, seperempatku hilang!”
Kemudian…
“Oh, setengahku hilang!”
Kemudian…
“Oh, tiga perempatku… Eh tunggu, atau empat perlima ya… Atau mungkin tiga perenam? Atau tujuh pertiga?”
Kue itu tidak begitu tahu pecahan dan geometri pengukuran luas bidang tidak beraturan karena ia tidak sekolah. Maka dari itu, sekolah itu penting… Tapi dalam hal ini kayaknya nggak juga.
Ketika tersisa tinggal kepalanya saja, rubah itu semakin semangat.
“Hehehe, tinggal sekali hap dan kamu tidak akan banyak bicara lagi.”
“Am… Ampuni saya, tuan… Kalau saya nggak ada, mau makan apa anak dan istri saya…”
“Ya mereka bisa makan tubuhnya sendiri atau saling memberi… Sudahlah, itadakima…”
Rubah itu kemudian baru menyadari sesuatu.
“Biskuit bulat… Ugh, biasa banget, membosankan!”
Rubah itu kemudian pergi begitu saja.
Kue jahe itu heran, tapi untung saja karena ia masih selamat. Dengan gembira ia kemudian pergi kembali menuju ke rumah pasangan tua tadi sambil menggelinding. Di tengah perjalanan ia heran karena mendapatkan tatapan nggak enak dari siapa saja yang telah ia temui sebelumnya, bukan karena ia telah menjahili semuanya, tapi sebenarnya karena ia terlalu biasa banget, membosankan. Ketika ia sampai di rumah pasangan itu ia langsung dimasukkan ke dalam toples kaca bertuliskan “biskuit biasa” dan ditutup rapat kemudian dimasukkan di lemari bagian pojok dan ditutupi dengan macam-macam perlengkapan sehingga tidak kelihatan lagi. Kue jahe itu pun sedih dan menyesali perbuatannya, seandainya saja ia menjadi kue baik-baik… Mungkin begitu ya, nggak tahu ah, sudah tidak kelihatan lagi.

1 comment
Comments feed for this article
May 22, 2009 at 1:20 am
Sastra Kontemporer
[...] Posted in Uncategorized at 1:19 am by sylkirian Rilis untuk kali ini: The Gingerbread Boy [...]