The Three Little Pigs

THE THREE LITTLE PIGS

Pada suatu masa di dunia fabel, hiduplah seorang induk babi beserta ketiga anaknya. Induk babi tersebut sudah sakit sangat parah dan hampir mati. Dia meninggalkan wasiat kepada anak-anaknya.
“Anak-anakku, ibu sudah sangat lemah dan hampir tidak bisa berdiri… Ibu hanya bisa mewasiatkan tiga rumah kepada kalian untuk ditinggali masing-masing.”
“Lho, bu kan kami belum dikenalkan…” Kata salah seorang anak.
“Oh iya, gimana sih pengarangnya ini!”
Oh iya, maaf…
Padahal sudah serius mau bikin cerita yang serius…

Ketiga anak babi tersebut bernama Browny, Whitey, dan Blacky…
Eh, sebentar ada ralat.
Oh maaf… Kita lanjutkan…

Anak pertama bernama Brownies (bukan Browny?), ia suka makan seperti namanya.

“Hey tunggu dulu! Yang seharusnya suka makan kan aku!” Kata anak kedua, memang naskahnya gitu.
“Halah, kamu itu cewek, gak pantes rakus kan!?” Kata Brownies.
“Oh iya, aku kan cewek… Ah, kalau begitu kenapa aku tidak memakai atasan???!!!”

Anak pertama bernama Brownies. Ia suka makan, nakal, dan sangat jorok. Waktunya dihabiskan untuk bermain di lumpur dan makan sampai kenyang. Ia sering dimarahi ibunya karena nggak mau mendengarkan perkataan ibunya. Ia juga sangat pemalas, nggak jauh beda sama pengarang.


Malas aku ah…

Halah, cuma bercanda kok…
Lanjutkan ya?

Lho, pengarangnya ada berapa sih?

Anak kedua bernama Whitney (bukan Whitey?). Dulunya ia suka makan, tetapi setelah diperingatkan kakaknya (barusan) ia menjadi sangat berhati-hati menjaga kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Sekarang ia juga tidak pernah makan bersama kakak dan adiknya yang notabene adalah babi, katanya sih babi itu jorok. Kalau dulu ia dimarahi ibunya karena suka menghabiskan makanan, sekarang ia dimarahi karena ibunya juga babi, ia merasa dilecehkan anaknya sendiri. Tetapi, dari dulu ia pandai. “Sekarang aku jadi meragukan apakah aku benar-benar babi, jangan-jangan aku anak manusia yang dibuang ke kandang babi.” Katanya.

Anak ketiga bernama Blackey (bukan Blacky?). Tunggu dulu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu…
Dimana ya?
Hmmm…
Lupakan saja lah.
Berbeda dengan kedua kakaknya, Blackey sangat bersih dan pandai. Tapi semenjak Whitney diperingatkan kakaknya, mungkin nggak beda sedikit. Blackey juga memiliki adik. Tunggu, ceritanya kan nggak gitu? Ah ya, aku jadi ingat tentang Blackey yang sebenarnya.

Ah lupakan.
(Yang tidak mengerti anggota SK lupakan saja, sungguh)
Ia yang paling disayang ibunya karena kata pak tani, ia akan menjadi babi yang paling berharga.

Kembali ke pemberian wasiat oleh ibu (induk) babi ke anak-anaknya.
“Uhh, ibu sudah sangat sakit, lemah, tak bertenaga. Ibu kira nyawa ibu tinggal sedikit, jadi ibu akan wasiatkan tiga rumah ke kalian.”
“Tiga rumah? Yang mana?”
“Lho iya, kita kan nggak punya rumah? Ya sudah, nanti tak buatkan sebelum ibu mati…”

“Rumah seperti apa yang kalian inginkan anak-anakku?” Induk babi berkata kepada anak-anaknya.
“Rumah dari lumpur yang penuh makanan!” Kata Brownies.
“Lho nanti makanannya kan kotor?”
“Nggak papa, sekalian latihan buat ikut Fear Factor.”
“Kalau aku rumah yang ada di Kertajaya tipe F16.” Kata Whitney.
“Hush! Itu rumah mewah, pak tani aja nggak bisa beli. Lagian itu tipe pesawat tempur!”
“Kalau gitu di apartemen di dekat Citraland.”
“Nggak bisa! Itu juga mahal!”
“Mansion? Tipe 45? 43? 41? 36? 31? 21?”
“Argh pokoknya nggak! Lihat kayak yang di cerita saja!”
“Rumah kubis? Aku kan sudah nggak rakus lagi!”
“Sudah jangan cerewet!”
“Ibu jahat! Pokoknya aku nggak mau lagi ketemu ibu!” Dan Whitney meninggalkan ibunya sambil menangis.
“Whitney!”
“Tenang bu! Aku akan mengejarnya!” Kata Brownies.
Ibunya shock.
“Ibu! Bertahanlah!” Blackey histeris.


Ini bukan cerita drama kan?

Akhirnya Whitney mendapatkan rumah yang terbuat dari kubis. Itung-itung dia kan vegetarian.
“Kalau aku rumah yang terbuat dari bata saja bu…” Kata Blackey.
“Anakku, kamu yang paling normal, ibu bangga padamu.” Induk babi sedikit berlinang air mata.
“Oh ya, sebelum ibu pergi, ibu berpesan hati-hatilah pada serigala jahat yang mengincar kalian untuk trafficking (bener ya tulisannya?).”
“Baik bu.” Jawab ketiga anaknya.

Kemudian sang induk pergi…
Eh, saya kira meninggal, ternyata pergi menikah di Singapura.

Beberapa bulan kemudian…
“Argh, lemot! Aku sudah nggak sabar!” Kata sang serigala baru datang.
Ya sudah… Esoknya…

Serigala yang sangat lapar ingin mencari babi buat dijual atau istilahnya trafficking, tapi dalam dunia manusia, ita sama saja dengan kulakan daging. Tapi daging babi itu nggak baik dimakan loo, nggak higienis dan diharamkan untuk umat islam.

Kok jadi gini ya?

Serigala mendatangi babi pertama, Brownies.
“Hey Brownies… Keluarlah, ini aku…” Kata serigala tersebut.
“Siapa ya?”
“Temanmu… Umm… Jailangkung, eh enggak ding! Ungu Violet!”
“Ungu Violet? Emang nama film? Kamu pasti bohong!”
“Argh! Kamu buatku marah!”
Serigala tersebut memasukkan tangannya ke lumpur untuk melubanginya, tetapi tangannya kehisap.
“Argh! Apa ini?!”
“Hahaha! Itu adalah lumpur rawa, memiliki tekstur lumpur tetapi bersifat rawa!” Kayak pernah tahu kalimat mirip ini ya?
“Sialan! Rasakan ini, gomu gomu pistol!” Oh ya, itu di komik One Piece.
Lho ini kan bukan One Piece?

Maaf ya Eichiro Oda…

Nggak seperti diatas, serigala tersebut melubangi lumpur dan Brownies terkejut lalu lari terbirit-birit.
“Hehehe, kamu nggak akan lolos…” Kata serigala itu, dengan ekspresi mengerikan seperti di film-film.

“Whitney! Whitney! Buka pintunya! Ini aku! Aku dikejar serigala!” Brownies mendatangi rumah Whitney.
“Oh, masuklah kakak. Tenanglah, rumah ini dari kubis, serigala itu pasti nggak mau memakannya, dia kan bukan vegetarian.” Kata Whitney.
“Hei babi-babi! Keluarlah! Aku tahu kalian disitu!” Bentak serigala itu.
“Hey, gak sopan kamu! Jangan pakai perumpamaan babi ya! Emang aku cewek apaan?!” Whitney marah.
“Tapi kan kalian memang babi…” Serigala itu agak ciut nyalinya dan sedikit heran.
“Argh! Aku serigala tahu! Kurang ajar berani mempermainkan aku!” Nyalinya kembali besar.
“Hahaha, kalu berani makan kubis ini!” Tantang Whitney. “Aku tahu kamu karnivora! Kamu nggak bisa makan kubis ini kan? Kamu nggak bisa masuk!”
“Iya sih, tapi kan aku bisa menghancurkannya?” Serigala itu mendorong dinding kubis sedikit dan kubisnya menggelinding. Rumah kubisnya hancur.
“Ah iya! Aku lupa itu! Rencana B!” Whitney panik.
“Rencana B? Apa itu?” Brownies heran.
“Nanti saja buatnya! Sekarang ke rumah Blackey!”
“Rumah Blackey?! Kan rumahnya di Banyuwangi?! Eh?”

Lupakan.

Mereka berdua pergi ke rumah Blackey.
“Blackey! Tolong! Sembunyikan kami di rumahmu! Kami dikejar serigala!”
“Apa?! Yang benar saja! Rumahku belum jadi! Masih satu hari, nyari arsiteknya aja belum yooo!!” Blackey panik.
Kesemua babi panik dan serigala telah datang.
“Eh, halo mas serigala…”
“Hahaha… Mau lari kemana kalian sekarang…”
Serigala itu kemudian mendekat, tetapi Whitney punya ide.
“Eh, mas serigala… Bukannya sekarang mas harus nyamar jadi neneknya Red Riding Hood?”
“Oh iya! Lupa! Wah, terima kasih ya!” Serigala tersebut ngacir.

Berkat ide Whitney semuanya selamat. Kemudian mereka memutuskan untuk hidup bersama dengan ibu mereka di Singapura dan mereka hidup bahagia selamanya.

Kok Whitney bisa tahu Red Riding Hood? Dia itu babi apa bukan sih?

Leave a Comment